‘TRY OUT’, UN, NASIB PENDIDIKAN KITA

‘TRY OUT’, UN, NASIB PENDIDIKAN KITA

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Batam Pos 1 Februari 2007

Terlansirnya berita tentang penolakan orang tua terhadap ‘Try Out UN’ yang dilaksanakan di beberapa daerah, menarik untuk disimak. Tidak sedikit orang tua yang merasa tidak  mampu membayar uang try out, meski biaya itu ‘tidak seberapa’.

Penolakan itu mengingatkan penulis akan ‘try out akbar’ yang dilakukan se-Sumatera, tahun lalu dalam kerjasama dengan Bimbingan Belajar Primagama. Sebuah ‘gebrakan’. Di Batam, semua siswa SMP-SMA, yang ribuan, ‘dikumpulkan’ bagai di sebuah stadion sepak bola. Dengan pengawasan seadanya, dan jarak yang sangat berdekatan bahkan berhimpitan, para pelajar berusaha mengerjakan (bersama-sama), soal yang disebut Try Out  itu.

Kedua peristiwa ini memunculkan pertanyaan: apa konsep di balik Try Out? Bagaimana kaitan antara ‘Try Out’ dan rangkaian KTSP? Mengapa ‘bimbel’ begitu ‘laris’ di negeri ini, menjelang UN?

Jalan Pintas

Untuk menghadapi sesuatu, apalagi Ujian Akhir Nasional, dibutuhkan persiapan. Ia dapat menjadi ukuran akhir untuk menilai keberhasilan seseorang. Dengan kata lain, perjuangan selama enam, tiga, atau dua tahun bakal diukur dalam pelaksanaan ujian selama dua atau tiga hari.

Bukan mustahil, kehadiran UAN sangat merisaukan dan menegangkan. Di tengah arah pendidikan yang tidak jelas, perobahan kurikulum yang terkesan ‘serba mencoba’, tidak sedikit siswa yang merasa tidak pasti menghadapi ujian. Adakah apa yang diajarkan guru, sesuai dengan pengembangan silabus sebagaimana diamanatkan KTSP  bakal ‘ditanyakan’ dalam ujian?

Kerisauan inilah yang memberi tempat terhadap Bimbingan Belajar. Di mana-mana, hampir di setiap sudut kota terdapat Bimbingan Belajar. Ada yang sudah punya level nasional, seperti Primagama. Ada yang sekedar inisiatif dari guru atau orang yang ‘dilatih jadi guru’ untuk bisa ‘mengajar’ (bukan mendidik).

Dengan bekal pengalaman dari tahun ke tahun tentang soal, tidak sedikit Bimbel cukup kompeten untuk meprediksikan soal. Apalagi, setiap tahun selalu diedarkan kisi-kisi soal untuk ujian. Di atas dasar pemahaman dan pengetahuan seperti ini, para siswa dilatih untuk menjawab soal-soal secara benar dan tepat. Bahkan ada ‘Bimbel’ yang sudah begitu pasti hingga berjanji mengembalikan uangnya, bila akhirnya siswa tersebut tidak lulus ujian.

Strategi seperti ini kelihatan sangat mujarab. Ada kepastian terhadap kelulusan, hingga seorang pemilik sekolah bergengsi (tempat penulis dulu bekerja), pernah punya ide. Menurutnya, selama setahun berjalan, kita melaksanakan KBM dengan berpatok pada kurikulum asing. Baru dua atau tiga bulan sebelum UAN, anak-anak ‘diforsir’ dengan soal-soal ujian agar semuanya lulus. Malah, menurutnya, dua bulan terakhir, bimbel terkenal bisa diminta partisipasinya.

Asal Menjawab

Sepintas, cara-cara seperti ini dianggap biasa. Di zaman sekarang dibutuhkan kepastian apakah berhasil atau tidak. Prestasi lulusan 100% menjadi sebuah gengsi yang sangat dibanggakan. Nama sekoalah bakal terangkat. Namun, apakah cara-cara seperti itu mendidik? Bagaimana ‘out put’ yang dihasilkan dalam proses seperti ini?

Mustahil bertanya demikian. Yang ‘diajarkan’ pada Bimbel, bukan terutama mengasah kecerdasan untuk dapat berpikir, menganalisa, mengevaluasi. Lebih tidak lagi digerakan relungnya untuk dapat melihat dunia dengan hati. Apalagi dengan mengedepankan model pendidikan yang membebaskan, mencerahkan, penuh egalitarisme, dan demokratis. Tidak. Yang ingin dikejar, sejauh mana siswa itu ‘lincah, gesit’ menghubungkan pertanyaan dengan alternatif jawaban yang diajukan. Anak lantas dilatih menjadi mesin atau bagai lumba-lumba yang begitu tepat mengetahui jawaban setelah pelbagai in put sebelumnya memang diarahkan untuk mencapai jawaban yang tepat.

Bongkar Pasang

Apakah model pendidikan atau lebih tepat pengajaran seperti ini punya dampak yang positif dalam dunia nyata? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab.  Di dunia yang selalu berputar dengan sebuah gerakan yang lebih sering linear daripada sirkular, problem yang hadir selalu baru. Dengan demikian jawaban yang sudah berlaku atau pernah digunakan, jarang sekali diulang. Sebaliknya, ada selalu hal baru. Karena itu, mustahil siswa yang diajar ‘menghafal’, bisa dibayangkan betapa sulitnya menghadapi dunia nyata seperti ini. Yang terjadi hanyalah sebuah frustrasi kemudian karena ternyata ‘kepintaran’ di atas kertas, tidak menjamin kecerdasan dalam menghadapi pelbagai problem hidup.

Jelas, model pendidikan seperti ini, hanya akan menjadikan pribadi-pribadi yang tidak eksploratif, inovatif, apalagi kreatif. Pribadi yang disebutkan di sini, tidak dibiasakan untuk menemukan jawabannya sendiri dari pelbagai problem yang dihadapi. Tidak. Ia diajarkan untuk menghafal jawaban yang sama dari aneka pertanyaan yang berbeda. Sebuah kemustahilan, tetapi itulah yang terjadi. Sebuah metode yang bukan mustahil nampak dalam praksis kehidupan kemudian. Seseorang yang bekerja pada sebuah usaha atau kantor pemerintah, akan sangat kuat pemahaman untuk selalu menjadikan semua anggarannya sesuai dengan jawaban akhir. Bila tidak sesuai, ia lantas mulai mengadakan ‘mark up’. Hanya dengan demikian terjadi ‘kesesuaian’ antara pemasukan dan pengeluaran. Padahal itu bukanlah yang terpenting. Ada yang lebih utama, tentang bagaimana proses itu berlangsung.

Model pendidikan (atau lebih tepat pengajaran) seperti ini mengekspresikan realitas bangsa kita. Di satu pihak kita memiliki kegelisahan terhadap realitas bangsa, tetapi pada sisi lain, kita kehilangan rencana baik jangka pendek dan apalagi jangka panjang. Yang ada hanyalah manajemen bongkar pasang serba darurat. Kita hanya bisa menyadari akalau ada masalah setelah ada ‘tragedi’. Padahal, segala sesuatu bisa diprediksi.

Hal yang sama terjadi dengan kurikulum. Fenomen bongkar pasang sangat nyata. Memang hal itu mengindikasikan  kegelisaan untuk menciptakan sebuah bangsa yang lebih baik. Sayangnya, jalan keluar yang ditawarkan terkesan instan dan tidak tepat sasar. Peningkatan mutu pendidikan hanya diukur dengan tiga mata pelajaran. Padahal, pendidikan sebuah proses.

Robert Bala. Staf Pengajar “Bahasa Spanyol’ pada Universitas Trisakti Jakarta. Staf PT Karya Sejahtera Semesta (Outsourcing).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s