Antara Membaca dan Universitas Negeri

ANTARA MEMBACA DAN URGENSI UNIVERSITAS NEGERI.

Bagian Kedua dari Dua Tulisan. Batam Pos, 16 Juli 2006

Membaca merupakan sebuh kenikmatan”, demikian kalimat yang sering terdengar dari para “kutu buku”. Bagi mereka aktivitas menelusuri sebuah buku yang disertai kecepatan mata menelaah huruf-huruf memiliki “kelezatan” tersendiri. Rasanya manis dan enak setelah melahap habis lembar-lembar sebuah buku. Atau dalam bahasa Hernowo, membaca buku ibarat menikmati makanan. Dalam bukunya Andaikan Sebuah Buku itu Pizza, penulis ingin merangsang minat kaum remaja yang begitu tenggelam dalam entusiasme ketika melahap sebuah pizza.

Orang yang melihat bacaan dalam perspektif inni, dapat bersantai sambil membaca. Mereka dapat berinteraksi dengan perasaan dan pikiran baru. Sejalan dengan itu mereka memberikan respons entah menerima atau menolak. Namun di atas semuanya, ada sebuah pengalaman baru sudah bisa diperoleh, setelah membaca.

Kenyataan seperti ini diakui oleh Browman James dan Browman S. Ray. Dalam bukunya “Using Television Commercial to Develop Reading Comprehension.” Reading Improvement (1991), ditulis bahwa membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (long-life learning). Mengapa? Karena tanpa bacaan, kehidupan itu sendiri tidak berkembang. Malah, ia cendrung kerdil dan mandek lantaran kehilangan ide-ide segar dari luar demi mengembangkan dirinya. Karena itu, dengan membaca seseorang dapat belajar untuk semakin menjadikan hidupnya berbobot.

Ada hal lain yang lebih mendasar. Aktivitas membaca yang disertai perasaan ‘enjoy’ akan me’muda’kan sesseorang, hal mana dikatakan Henry Ford. Menurut pendiri General Motors itu,  berhenti belajar berarti menjadi lebih tua. Sebaliknya, jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda (Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty”. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young). Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda.

Universitas Kepri?

Melihat minimnya minat baca dan rendahnya kultur refleksi dalam masyarakat Batam pada khususnya, muncul pertanyaan: perlukah kita memiliki Universitas Negeri? Pertanyaan ini bahkan semakin sulit kita jawab ketika menengok penelitian Asia Week yang coba meneropong universitas Asia yang sudah lama hidup. Dari 77 universitas yang diteliti, kita harus menerima kenyataan untuk puas dengan nomor urutan di atas enam puluh. Universitas Indonesia (UI) kebanggaan bangsa kita dan simbol intelektualitas kita menempati urutan ke-61. UGM Yogyayakarta urutan ke-68, UNDIP ke-73 dan UNAIR ke-75.

Tentu ada banyak alasan yang menjadikan posisi kita terpuruk hingga menjadi sekedar ‘juru kunci’. Tetapi hal itu tentu tidak bisa dilepaskan sama sekali dari budaya intelektual yang diawali dari semangat dan minat baca. Di banyak universitas, tidak sedikit mahasiswa yang hanya menjadi ‘peminat diktat’. Di sini mereka membaca bukan untuk mendapatkan pengetahuan yang nantinya digunakan untuk kehidupan, melainkan karena dipaksakan oleh situasi. Jelas, mereka belajar bukan untuk mengetahui sesuatu, melainkan sekedar menghafal untuk kemudian dituangkan dalam kertas ujian.  Hasil ‘gemilang’. IP ‘membanggakan’ tetapi kualitas lulusannya diragukan.

Bukan itu saja. Metode belajar yang demikian tak jarang ‘dikondisikan’ oleh para pendidik atau dosen. Pada tidak sedikit sekolah (SD sampai SMA) tidak sedikit guru yang puas dengan buku penuntun. Mereka menjadi begitu mahir bukan karena telah mereproduksikan pengetahuan hasil oaahan dari pelbagai buku sumber, melainkan karena sudah begitu sering mengulang materi yang sama. Mereka hanya sekedar pelanjut pengetahuan, dan bukannya menghasilkan materi dari refleksinya.

Hal itu berlanjut, bahkan merambat di Perguruan Tinggi. Tidak sedikit dosen yang selain ketidaan kualifikasi (hanya S1), tetapi juga tenggelam dalam rutinitas mengulang ‘warisan diktat’ dari pendahulunya yang pendidikannya juga tidak jauh berbeda dengannya. Atau bagi yang bernasib memperoleh gelar akademis (minimal S2), yang tidak sedikitnya diperoleh melalui ‘jalur cepat’ atau dari universitas tanpa identitas jelas, tidak ada yang dibanggakan selain gelar yang disandang. Bahan kuliah pun tidak jauh berbeda.

Kenyataan seperti ini tentu tidak membuat kita pesimis. Lebih lagi membatalkan rencana pembangunan Universitas Negeri di Kepualauan Riau. Kenyataan yang sangat pesimistik yang dihadirkan oleh tidak sedikit  ‘Perguruan Tinggi’ di negeri ini, tentu tidak membuat kita mundur atau lantas mengadakan generalisasi yang belum tentu benar. Sebaliknya, kenyataaan seperti ini seharusnya dikaji. Pada sisi lain, Batam yang secara geografis lebih dekat dengan Singapura, bukan mustahil mengarahkan pandangannya melihat Universitas Nasional Singapura yang menduduki posisi teratas di dunia, apalagi di Asia. Itu berarti kita sungguh-sungguh mengadakan pembaharuan dan pembenahan.

Pertama, dibutuhkan perubahan pola pikir dan sikap (mindset and attitude). Apabila Kepualauan Riau ingin memiliki universitas maka pola pikir yang melihat universitas sekedar tempat pengajaran, dimana seseorang dijadikan terampil dan mahir perlu kita ganti. Universitas bukan sekedar itu. Kalau demikian maka kita telah terjerumus kepada materialisme pedagogis yang akhirnya begitu antusias ‘mencetak’ manusia robot yang sangat telaten dalam membuat sesuatu tetapi kehilangan daya imajinasi, inovasi, refleksi, dan visi. Padahal untuk ukuruan universitas, hal-hal seperti ini sangat penting. Dengan kata lain, sebuah lembaga pendidikan tinggi akhirnya dikenal bukan dari kehebatannya meniru aneka teknologi yang sudah ada, melainkan menemukan sesuatu yang baru hasil inovasi yang kreatif dari alumninya. Dan perlu kita akui bahwa inovasi seperti ini berawal dari hal sederhana, yakni memiliki kebiasaan membaca dan berefleksi.

Kedua, memiliki landasan Penelitian dan Pengambangan (litbang). Sebuah universitas hanya bisa maju ketika memiliki konsep dan arah yang jelas. Hal seperti ini diperoleh melalui aneka penelitian yang kemudian dikembangkan dalam praksis yang dilaksanakan bukan karena terpaksa, melainkan karena ada hasrat (desire) dan kecintaan (passion). Dengan kata lain, ada rasa cinta untuk menjadikan sebuah lembaga sungguh bergengsi. Untuk itu pelbagai kemampuan dikerahkan, daya dukung digerakkan untuk mencapai tujuan. Tak lupa, dedikasi dan semangat yang mennjadi ‘jiwa’ dari perjuangan itu. Dari pengabdian seperti ini akan melahirkan hal-hal baru yang selain menjawabi kebutuhan setempat, tetapi juga memiliki kiprah internasional.

Elemen seperti ini pada hemat penulis masih sangat jarang untuk kita temui di universitas kita. Minimnya fasilitas dan kurangnya dana sebagaimana diteriakkan setiap tahun, menjadi alasannya. Apabila di universitas seperti di Malaysia dan Singapura mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk litbang, maka kita harus puas diri dengan janji 20% anggaran pendidikan yang hingga kini bahkan belum mencapai perwujudannya.

Kenyataan seperti ini, menjadi pertanyaan untuk ‘universitas negeri’ kita impikan. Bahkan universitas dengan budaya intelektual cukup disegani di negeri ini (meski pada level Asia menempati urutan buntut), masih terseok-seok oleh minimnya biaya, lalu bagaimana dengan kita? Sanggupkah kita menyiapkan dana untuk ‘membesarkan’ lembaga ini? Namun konsep dana, meski begitu penting, akan mudah teratasi, ketika kita sudah memiliki budaya membaca, meneliti, merefleksi, dan tak lupa komitmen bersama untuk membangun sebuah lembaga pendidikan tinggi. Di atas kebersamaan dan kematangan dalam software seperti ini, kita akan lebih kompak untuk mencari dana yang dibutuhkan untuk pendidikan kita.

Robert Bala. Kandidat Doktor pada Universidad Pontifical de Salamanca-Madrid-Spanyol. Diploma Perdamaian dan Konflik di Asia Pasifik Universidad Complutense de Madrid. Sumber, Batam Pos, 16 Juli 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s