Antara Membaca dan Universitas Negeri

ANTARA MEMBACA DAN URGENSI UNIVERSITAS NEGERI

Bagian Pertama dari Dua Tulisan.

Batam Pos, 15 Juli 2006

Saat menulis artikel ini, kenangan akan Eropa terngiang kembali. Ada pengalaman menarik ketika kita berada di MRT atau bus kota. Orang seakan acuh tak acuh dengan sesama di sampingnya. Tetapi jangan cepat mengadili! “Kecuekkan” mereka beralasan. Mereka lagi sibuk membaca. Bahan bacaan pun bukan hanya koran. Terkadang buku-buku yang cukup tebal. Di sana dalam kebisingan, mereka berkonsentrasi, membuka diri untuk untuk dipengaruhi ide-ide dari orang lain, sambil berusaha memberikan responsnya.

Kenangan seperti ini hadir saat meramu tulisan ini. Ada tatapan kecemasan, melihat belum terlihatnya mentalitas membaca. Lantas kita bertanya, bagaimana nasib sebuah bangsa apabila generasinya tidak memiliki kultur membaca?Pertanyaan ini perlu kita refleksikan, karena memiliki kaitan yang sangat erat dengan niat provinsi Kepri untuk memiliki sebuah Universitas Negeri.

Kecemasan

Mengajukan pertanyaan tentang minat baca pada awal tahun ajaran seperti ini sangat penting. Terutama ketika kita melihat minimnya minat baca pada anak-anak. Tidak sedikit orang tua misalnya begitu cemas ketika anaknya yang sudah SD, atau TK kelas nol besar belum membaca. Mereka lantas mencari pelbagai cara. Anak yang masih dalam umur bermain itu ‘dilesin’. Waktu bermain mereka disita hanya demi mengejar target. Tetapi, apa yang dibuat sesudahnya? Keberhasilan mengenal huruf dianggap segala-galanya. Orang tua bahkan tidak cemas lagi untuk menjaga kultur membaca.

Secara psiko-pedagogis, pemaksaan agar anak tahu mengenal huruf terlalu dini dapat berakibat panjang.  Menurut pada pakar pendidikan, anak yang terlalu dini dipaksa untuk mengenal huruf, akan menjadi jenuh kemudian. Akibatnya, ia hanya puas diri dengan tahu mengenal huruf tetapi tidak memiliki kebiasaan membaca, hal mana melanda tidak sedikit remaja dan kaum muda kita.

Kekuatiran seperti ini sebenarnya masih bisa diobati kalau masyarakat (kaum dewasa) punya budaya membaca. Itu berarti, cepat atau lambat, anak-anak akan mencontohinya. Tetapi kenyataan justeru lain. Bahkan tidak sedikit tamatan universitas, pegawai pemerintah ‘jebolan’ universitas mengucapkan “goodbye” kepada buku. Bagi mereka, membaca adalah beban, yang nota bene perlu ditinggalkan ketika seseorang sudah mempunyai gelar apalagi pekerjaan yang pasti, apalagi kalau sudah jadi pegawai negeri. Makanya di negeri ini, workshop, penataran, penyegan dan pelbagai kursus kilat begitu laris.

Kecemasan kita tidak berhenti di sini. Batam, sebagai sebuah kota industri, misalnya membutuhkan orang-orang yang memiliki daya refleksi, hasil olahan dari pelbagai bacaan. Dari sana, tercipta pemikir-pemikir yang dapat mempengaruhi masyarakatnya melalui tulisan-tulisannya. Namun hal seperti ini menjadi sangat langkah. Dalam sebuah pembicaraan dengan Pemimpin Umum Batam Pos, Socrates, dia mencemaskan karena generasi lapis kedua yang ‘membacking’ budaya tulis  menulis belum terlihat di Batam. Padahal kaum muda, mahasiswa yang di kota lain akan berlomba-lomba ‘menorehkan’ namanya dalam tulis menulis.

Kalau iklim seperti ini belum dimiliki, maka kita perlu cemas akan masa depan sebuah masyarakat. Bagaimana kita dapat menyaingi apalagi menyamai negara tetangga kita, kalau elemen yang paling mendasar belum kita punyai? Kecemasan seperti ini perlu kita analisa bersama karena menjadi pilar penting dalam membangun sebuah masyarakat. Sebaliknya, kalau kenyataan seperti ini belum masuk ke dalam kesadaran kita sebagai problem, mustahil kita merancang sesuatu yang lebih jauh seperti pembangunan universitas.

Proses

Minimnya kultur membaca dan pemaksaan yang mengarah kepada kekerasan mendorong kita untuk membangun strategi baru. Hal itu menyangkut upaya membangun kebiasaan-kebiasaan yang mampu menjadi pilar pedagogis. Lebih jelasnya, bagaimana membangun proses yang akhirnya bermuara kepada penciptaan budaya membaca. Dalam konteks Kepri, proses seperti itu pada gilirannya diharapkan untuk menjadi basis dalam mempertimbangkan kehadiran Universitas Negeri.

Pertama,  membiasakan diri membaca sebuah buku di hadapan anak. Setiap anak, sebagaimana tuntutan psikologisnya, tidak akrab dengan anjuran, nasihat, apalagi paksaan. Hal itu terlalu abstrak untuk dipahami. Tetapi, mereka akan begitu cepat tergerak melihat dan mencontohi apa yang dilakukan orang tuanya. Peluang seperti ini perlu dimanfaatkan dalam pembudayaan minat baca. Keasyikan orang tua membaca misalnya bakal diperhatikan secara saksama. Bahkan, tak jarang membuat anak bertanya: mengapa orang tuaku selalu membaca?

Kedua, mendampingi anak. Kebiasaan membaca hanya bisa ditanamkan melalui proses. Itu berarti membutuhkan kesabaran, ketekunan seperti dikatakan Allen dan Vallete (1997). Menurut mereka, membaca adalah sebuah proses yang berkembang (a developmental process). Pada awal, membaca sebagai suatu pengenalan simbol-simbol huruf cetak (word recognition) yang terdapat dalam sebuah wacana. Dari membaca per huruf, per kata, per kalimat, kemudian berlanjut dengan membaca paragraf dan esei pendek. Itu berarti proses ini perlu diikuti secara baik. Sebab tanpa bimbingan yang berlanjut, maka anak-anak tak akan memiliki minat pada bacaan itu sendiri. Proses seperti ini perlu dilalui tanpa terlalu memaksa anak.

Ketiga, menyiapkan fasilitas. Membaca membutuhkan buku. Dengan demikian dibutuhkan sarana yang menunjang. Kenyataan seperti ini seharusnya mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan fasilitas berupa perpustakaan keliling. Di sana orang berlomba-lomba untuk ‘melahap’ buku. Pada sisi lain, pemerintah yang ‘concern’ akan hal ini menyadari bahwa orang tua akan dididik untuk melewatkan waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih produktif.

Kenyataan seperti ini, pada hemat penulis menjadi landasan, sebelum kita berpikir tentang kehadiran Universitas Negeri. Lembaga pendidikan tinggi, tidak sekedar hadir, karena ‘kebutuhan’ lapangan untuk mencetak sarjana-sarjana yang terampil untuk ‘menjawabi’ kebutuhan pasar. Lebih dari itu, ia perlu menjadi wadah, melalui mana sebuah masyarakat merefleksikan arahnya. Sebaliknya, sebuah universitas yang terlalu dipaksakan, tanpa penciptaan perangkat lunak (software) berupa kesiapan masyarakat, hanya akan cenderung menghasilkan ‘gelar tanpa nalar’ yang pada gilirannya akan membawa masyarakatnya kepada ketidakpastian. Dengan kata lain, kita merasa urgen untuk menghadirkan sebuah universitas bukan pertama-tama karena ‘kebutuhan pasar’ melainkan terutama karena menjawabi kebutuhan masyarakat. Singkatnya, maysarakat kita membutuhkan tokoh yang sangguh merefleksikan arah sambil memberikan tonggal yang dapat dijadikan pedoman hidup.

Robert Bala.

Kandidat Doktor pada Universidad Pontifical de Salamanca-Madrid-Spanyol. Diploma Perdamaian dan Konflik di Asia Pasifik Universidad Complutense de Madrid. Sumber: Batam Pos, 15 Juli 2006

2 Responses to Antara Membaca dan Universitas Negeri

  1. vian tolok says:

    amazing…..mkasih bapa atas serpihan yang menggugah dan menggugat…..ini penting dan kaya inspirasi…..banyak orang bergelar yang pensiun membaca dan hasilnya makin banyak orang yang kaku dan otoriter

    • robert25868 says:

      Terimakasih Vian. Artikel lama tahun 2006 saat masih mengembara di Batam. Dengan tanggapan Vian, saya juga ingat kembali yang ditulis (karena sudah lupa). Artikel ini pas kini dengan mahasiswa S1, S2, dan S3 yang pakai ‘jasa calo’ untuk buat tesis dan disertasi. Kalau mereka bisa begitu, maka bagaimana nasib bangsa ini? Terimakasih karena telah mengingatkan tulisan ini. Akhir Juni saya ke Lewoleba. Kalau ama di Lewoleba, nanti kita bisa tukar pikiran. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s