Pendidikan yang Visioner


PENDIDIKAN YANG VISIONER

Batam Pos 1 Juli 2006

HASIL UAN (Ujian Akhir Nasional) SMA dan SMP sudah diumumkan. Ada  yang menanggapinya dengan gembira karena sudah lulus (atau lolos). Bagi mereka, rencana melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi kian terbuka lebar. Sementara bagi yang gagal, masih harus menanti setahun, atau iktu dalam Paket C yang nota bene keabsahannya masih diperdebatkan.

Terlepas dari pro kontra Hasil UAN, ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apa yang seharusnya menjadi tujuan sebuah pendidikan? Apakah tujuan dari pendidikan adalah untuk memperoleh sertifikasi kelulusan? Ataukah pendidikan memiliki makna lain yang lebih mendalam?   Mustahil bertanya demikian karena membatasi pendidikan pada hasil di atas kertas, merupakan pereduksian yang pada gilirannya merugikan kualitas pendidikan itu sendiri.

UNTUK dapat memahami tujuan pendidikan, maka kita dapat mengambil inspirasi pada kisah Walt Disney. Pencipta kartun bersuara dan pemrakarsa Disneyland dan Walt Disney World itu memberi inspirasi bagaimana ia tertipu dengan carousel atau kuda putar saat menghantar puterinya ke sebuah tempat hiburan di Los Angles. Ketika mendekatinya, ia melihat gambaran kabur saling balapan ditimpa musik yang enerjik. Namun ketika semakin dekat ia menyadari bahwa ternyata ia telah terkecoh. Ia lihat kuda-kuda buruk yang sudah retak serta terkelupas catnya. Dan ia perhatikan bahwa hanya kuda-kuda di lingkaran luar saja yang naik turun. Yang lainnya diam saja.

Hal itu menjadi inspirasi. Ia lalu membayangkan sebuh sajian hiburan yang lebih otentik dengan nilai pedagogis dan rekreatifnya yang tinggi. Impian itu akhirnya terwujud dalam Disneyland. Pengalaman itu menyebabkan Larry Taylor dalam buku Be an Orange, visi Walt menulis sebagai berikut: “Tak ada cat yang mengelupas. Semua kudanya harus bisa melompat.”

INSPIRASI di atas menyadarkan kita bahwa daya kreasi dan inovasi dari Disney, tidak lahir dari bangku sekolah formal. Sekolah baginya, tidak lebih dari sebuah sarana yang membantu dirinya mengembangkan potensi dan kualitas dirinya. Selebihnya, ide-ide kreatif itu dimatangkan dalam proses waktu.

Selain itu, diperlukan juga konsistensi dan keberanian. Keberanian seorang pemimpin besar untuk memenuhi visinya, demikian kata John C. Maxwell, adalah berkat semangatnya, bukan posisinya. Atau dalam kata-kata John Sculley, Mantan Direktur Utama Pepsi serta Apple Computer: ‘Masa depan adalah kepunyaan mereka yang melihat kemungkinan-kemungkinannya sebelum menjadi kenyataan.’

BERPIJAK pada pemahaman ini maka pendidikan perlu memiliki visi. Anak didik tidak sekedar diajarkan keterampilan untuk ditiru, melainkan dirangsang imajinasi dan visinya untuk menemukan hal-hal baru lagi inovatif dalam perjalanan waktu. Itu berarti visi merupakan hasil olahan setiap pribadi. Karena itu, agak aneh ketika orang menjiplak visi orang lain. Hal seperti itu hanya akan menjadikannya kehilangan daya internal yang menjadikannya eksis dalam pergumulan kehidupan.

Tidak hanya itu. Sebuah visi tak jarang hadir sebagai akumulasi aneka pengalaman. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan itu menjadikan seorang yakin akan manfaat dari visi itu, sekaligus mempersiapkan dirinya untuk dapat terjun ke alam realitas guna mewujudkan visinya itu. Ia lalu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, dan secara bersama-sama menampilkan wajah baru kepada dunia. Karena itu, seseorang akan diajak untuk mengolah pengalamannya. Memang dalam proses ini dibutuhkan bantuan orang lain, tetapi pelaku utama dari visi diri adalah pribadi masing-masing.

PENGALAMAN Disney memunculkan pertanyaan: bagiamana menjadikan pendidikan Batam pada khususnya dan Kepulauan Riau pada khususnya dan Kepualauan Riau bersifat visioner? Pertanyaan ini penting demi menepis pragmatisme pendidikan yang cenderung mengartikan pendidikan sekedar sebuah transfer ilmu yang perlu dihafal, tanpa memberi kesempatan untuk ide-ide kreatif lagi inovatif.

Sangat penting mengajukan pertanyaan seperti ini. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang bukan saja ketiadaan visi, tetapi juga telihat cukup sibuk melirik visi lembaga lain untuk kemudian diterapkan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian tahun ajaran, lembaga pendidikan seperti ini sibuk mempromosikan konsep (jiplakan) yang hendak ditawarkan ke konsumen (baca: orang tua). Ada aneka kurikulum dalam dan luar negeri, ada iklim bahasa Inggris, ada struktur baru (yang tak jarang kedengaran aneh di telinga orang Indonesia). Hal seperti ini sangat baik. Pendidikan perlu bersifat inklusif, dalam arti terbuka terhadap ide-ide baru. Namun, visi akan meyakinkan masyarakat ketika lahir dari penemuan dan refleksi berdasarkan perjalanan pengalaman.

Aneka ide promosi dalam pendidikan tersebut tak jarang begitu memperdayai orang tua. Apalagi ketika kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang tua tidak peduli untuk masuk lebih jauh menyelami visi sebuah sekolah. Mereka sudah merasa puas dengan elemen hardware (gedung, fasilitas dll) sebuah sekolah. Akibatnya sudah pasti. Tak jarang demi mencapai tujuan, ada yang mesti dikorbankan. Pendidikan ala kadarnya, bak mie instant, biar semuanya berhasil. Kegiatan Belajar Mengajar di sini sekedar melatih soal-soal ujian demi mengejar target, tetapi kehilangan elemen pendidikan watak, pengembangan kepribadian. Pendidikan seperti ini tidak bedanya dengan mencetak robot-robot  yang begitu terampil tetapi sangat kurang dimensi kemanusiaannya.

LALU bagaimana mencapai pendidikan yang visioner? Pertama, pendidikan visioner ditandai dengan kemapanan dalam konsep pendidikan. Konsep seperti ini sudah dimiliki semenjak sebuah lembaga pendidikan berdiri, dan bukannya berganti setiap saat. Perubahan seperti ini memang dibutuhkan demi kemajuan, tetapi tak jarang merupakan ekspresi ketidakmatangan. Hal seperti ini akan membingungkan para siswa karena setiap saat ditawarkan pergantian (bukan perubahan).

Kedua, pendidikan yang visioner mengandaikan guru yang visioner. Pemikiran seperti ini umumnya sangat dipertimbangkan oleh orang tua yang sungguh mengerti pendidikan. Mereka ingin agar biaya pendidikan itu digunakan untuk menghadirkan pendidik yang berkualitas, dan mempertahankan sejauh mungkin demi kelangsungan sebuah pendidikan. Lebih dari itu, orang tua tidak akan mudah terkecoh dengan penjelasan (apa pun alasannya) ketika akhir tahun ditandai dengan ‘hijrah’ massal para guru. Di sana pertanyaannya bukan sekedar mengapa mereka pergi, tetapi lebih dari itu mengapa mereka tidak mau bertahan?

Ketiga, pendidikan visioner memiliki acuan pada pembentukan makna hidup. Sasaran yang hendak digapai adalah kualitas, nilai, dan kompetensi yang memadai. Inilah nilai jugal yang merupakan promosi sebuah sekolah. Dengan kata lain, lembaga pendidikan yang matang, tidak akan sibuk mempromosikan dirinya lewat spanduk, demi mengundang siswa. Iklan seperti ini dapat dipahami untuk sebuah sekolah baru. Namun bagi sekolah yang sudah lama berdiri, promosi seperti itu hanyalah ekspresi menurunnya kepercayaan masyarakat.

Keempat, pendidikan visioner adalah sebuah rumah bagi semua orang. Setiap orang yang terlibat dalam sebuah lembaga pendidikan perlu mempunyai sense of belonging terhadap sekolah. Ia merasa bahwa di situlah rumahnya, tempat dia hidup. Ia mendedikasikan segalanya karena dianggap dan diperlakukan sebagai anggota keluarga. Sebaliknya, bila terjadi ‘eksodus’ maka merupakan ekspresi kegagalan sebuah lembaga sebagai rumah. Elemen seperti ini perlu menjadi acuan bagi setiap orang tua dalam menilai dan mengevaluasi sebuah lembaga pendidikan sebelum mengirim anaknya untuk dididik di sana. a

Robert Bala. Mantan Guru pada Sekolah Global Indo-Asia Batam. Batam Pos 1 Juli 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s