Sekolah, antara ‘Money’ dan ‘Meaning’

SEKOLAH, ANTARA MONEY DAN MEANING

Batam Pos 14 Juni 2006

Tahun Ajaran 2005-2006 sebentar lagi pamit. Para siswa umumnya sudah menanti hari liburnya. Bisa dipahami. Setelah sebuah proses yang cukup panjang dan melelahkan, anak-anak mempunyai hak untuk mendapatkan istirahat. Liburan karena itu disambut dengan gembira.

Namun, adakah kegembiraan yang sama dimiliki orang tua? Bertanya demikian berlasan, karena saat-saat seperti ini orang tua lagi ‘sport jantung’ merencanakan pendidikan anak. Di satu sisi terkait masalah ekonomis. Dan yang tidak kurang penting adalah kebingungan akan jaminan kualitas.

Money dan Meaning

Menjamurnya sekolah pada akhir tahun pelajaran menyambut tahun ajaran baru sungguh menarik. Di mana-mana, hampir di setiap sudut kota Batam terdapat promosi. Ada TK yang menjual prestasi sebagai Rangking Pertama Porseni TK se Batam. (Juara satu dalam baris-berbaris?). Ada yang menawarkan pendidikan dengan harga yang sangat murah, tanpa biaya pembangunan, biaya pendaftaran (sementara sekolahnya dibuat ala kadarnya di ruko). Pokoknya semuanya murah meriah. Dan adapula yang menawarkan pendidikan bilingual, bahasa Inggris dan Indonesia, disertai janji ‘mewisuda’ anak, seperti yang lazimnya untuk Perguruan Tinggi.  Hebat sekali. Anak kecil sudah ‘diberatkan’ dengan toga kebesaran intelektual.

Namun, apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari ‘lembaga pendidikan’ yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan tersebut? Di samping aneka promosi bernuansa edukatif, tidak biasa dihindari bahwa masalah uang (money) menjadi salah satu perbimbangannya. Dalam sebuah negara bahkan dunia yang berada dalam ketidakpastian usaha, bidang-bidang sosial kelihatannya lebih menjanjikan. Di Eropa, misalnya, asuransi kematian begitu banyak diminati, karena bisnisnya menjanjikan. Ia menawarkan pelayanan terbaik, saat manusia tidak bisa memiliki pilihan lain. Untuk konteks Indonesia, di samping peluang lainnya, pendirian sekolah (diakui atau tidak) merupakan ladang bisnis yang menjanjikan. Mengapa tidak, sekolah merupakan sebuah ‘peluang’ (kalau kita mau jujur). Orang tua dihadapkan pada keharusan menyekolahkan anaknya, di tengah negara yang hanya mengobral janji bakal menyisihkan 20% dari APBN untuk pendidikan.

Peluang seperti itu yang digarap secara optimal pada awal tahun ajaran seperti ini. Lihat saja. Untuk apa merenovasi rumah tinggal menjadi gedung TK/SD, atau menyulap ruko menjadi tempat belajar? Sebab jika tidak, mengapa harus repot-repot merenovasi sebuah ruko untuk kemudian dijadikan ‘gedung sekolah?’ Apakah hal demikian dilandasi keprihatinan akan ketiadaa tempat belajar untuk anak-anak, ataukah karena kesulitan menyewa rumah tinggal? Pertanyaan seperti ini penting dianalisa pada awal tahun seperti ini karena kehadiran begitu banyak sekolah (yang herannya, begitu mudah diizinkan oleh Diknas) selain membingungkan orang tua dalam memilih, tetapi juga memberi kesan tentang ketiadaan orientasi dalam pendidikan.

Fenomen di atas menyadarkan kita bahwa pendidikan telah melupakan elemen yang sangat penting yakni ‘meaning’. Yang dimaksudkan adalah tawaran tentang nilai, kualitas, bobot, yang hendak diharapkan. Mengapa? Karena pendidikan, memang butuh dana. Tetapi dana yang ada hendaknya diorientasikan kepada peningkatan mutu pendidikan, dan bukannya dibagi ‘sama rata’ di antara pemiliknya. Lebih tidak realistis lagi ketika orang membiarkan sekolah berdiri di gedung sewaan, sementara uang gedung selalu dipungut tanpa tahu entah kemana. Dalam pespektif ini, meaning seharusnya menjadi orientasi, tujuan. Alasannya karena orang tua, sadar akan kualitas sebuah sekolah, akan membayar berapapun karena yakin akan kualitas yang ditawarkan. Sebaliknya, penekanan pada aspek ‘money’ tanpa jaminan kualitas, hanya akan merancang kubur bagi sekolah yang barusan muncul.

Kenyaaan ini menunjukkan bahwa tidak ada promosi yang lebih tepat bagi sebuah sekolah selain jaminan mutu lulusannya. Di sana akan terjadi informasi dari mulut ke mulut untuk membesarkannya menjadi sekolah model atau incaran. Sebaliknya, sekolah yang berhenti orientasinya hanya seputar ‘ duit ‘ akan menawarkan promosi pahit yang akhirnya menurunkan kredibilitasnya.

Merumuskan Kriteria

Lalu,  bagaimana seharusnya memilih sekolah? Apa yang dapat dijadikan kriteria? Para pakar pendidikan umumnya sepakat bahwa keberhasilan sebuah pendidikan sangat bergantung pada lima hal yakni: hardware, software, brainware, dataware, dan netware. Kelima elemen ini dapat menjadi acuan dalam memilih sebuah sekolah.

Elemen pertama adalah hardware. Yang dimaksudkan aneka fasilitas fisik yang sangat menunjang proses pendidikan. Untuk itu ruang kelas, laboratorium, ruang khusus untuk musik, kesenian, laboratorium menjadi kondisi yang tidak bisa ditawar-tawar. Tentu saja diharapkan agar ruangan-ruangan tersebut terdapat dalam sebuah bangunan yang disebut sekolah (dan bukannya KBM dilaksanakan di rumah-rumah atau bekas toko misalnya).

Elemen seperti ini sangat penting. Tanpa bangunan fisik yang memadai, niscaya terjadi proses belajar mengajar. Lebih lagi, adalah sulit merancang sebuah proses belajar mengajar kalau hal itu ‘terpaksa’ dilaksanakan di ruko. Bagaimana konsentrasi dapat tercipta?

Untuk hal ini tentu diharapkan agar pendirian sekolah benar-benar dipersiapkan. Hal itu untuk menghindari asumsi seakan sebuah sekolah dibangun karena ada tuntutan ‘pasar’. Lantas segala cara dihalalkan, termasuk ‘menyulap’ rumah atau toko menjadi ‘sekolah’. Namun pada giliran lain, para ‘inisiator’ yang begitu menggebu-gebu dalam mendirikan sekolah tidak mungkin terealisir kalau ada kontrol dari dinas yang terkait. Izin yang disertai survei tentu sangat diperlukan, selain komitmen para petinggi pendidikan untuk menciptakan pendidikan yang sungguh bermutu.

Lain lagi dengan software. Keindahan (apalagi kemegahan) sebuah bangunan sangat penting tetapi perlu diisi dengan elemen yang sangat vital yaitu perangkat lunak. Hal ini terutama mengacu kepada penggunaan kurikulum. Ia dapat dianalogkan dengan kompas penunjuk arah pada sebuah kepal. Di tengah  amukan badai dan ganasnya lautan, dibutuhkan kompas yang memberikan arah. Hanya dengan demikian sebuah kapal dapat berlabuh pada tujuan yang hendak dicapai.

Perlu diakui bahwa dalam realitas pendidikan Indonesia, elemen software belum memiliki kestabilan. Pergantian kurikulum setiap kali ada pergantian menteri (memang lumrah sebuah perubahan), tak jarang sebatas sebuah perubahan nama tanpa perombakan mentalitas. New game with old players. Mentalitas lama masih dipertahankan, meski sengaja dikelabui dengan aneka nama. KBK yang kini diterapkan misalnya, secara sangat ideal telah menampilkan kemajuan yang berarti. Secara teoretis ada peralihan dari teacher centered leraning kepada student centered learning adalah terbaik dari semua metode belajar mengajar. Namun, apakah sudah tersiapkan segala sarana yang menunjang? Apabila hal ini tidak bisa dipersiapkan, maka seindah apapun kurikulum, ia akan sebatas wacana teoretis dan tidak dapat terjelma menjadi kenyataan.

Lalu bagaimana dengan pengajar dan siswanya, dan struktur sekolah, serta elemen pendukung pendidikan lainnya? Elemen ini termasuk dalam brainware. Merekalah yang menghidupkan elemen hardware dan softaware. Menghadapi aneka promosi menjelang tahun ajaran tentang aneka program menawan yang ditawarkan, tentu tidak bisa dijadikan standar. Orang tua perlu mencek lebih jauh. Adakah sekolah memiliki guru-guru yang berpengalaman dan berkualitas? Adakah mereka memiliki ijazah formal atau para sarjana karbitan yang dalam sekejap mata sudah menyandang SPd, MPd, dan sebagainya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini banyak kali lolos dari perhatian orang tua yang serba sibuk. Belum lagi orang tua yang hanya memiliki pandangan praktis tanpa kesempatan menganalisa lebih jauh. Bagi mereka yang terpenting promosi karena itulah yang terbaik. Padahal orang tua perlu mengetahui siapa yang akan membimbing anaknya dan bagaimana kredibilitas pendidikan dan ilmu yang dimiliki oleh sang guru.

Masih dalam brainware adalah siswa. Sebuah sekolah disebut baik, bukan saja karena SPPnya tinggi dan sebaliknya. Yang paling menentukan sebenarnya bagaimana motivasi yang melatarbelakangi para siswa untuk belajar. Banyak siswa yang tidak melihat pendidikan sebagai proses penanaman nilai-nilai kehidupan. Bagi mereka, sekolah sebatas menghabiskan waktu. Kalau demikian maka sekolah telah kehilangan elemen terpenting dari pendidikan itu sendiri.

Dan yang tidak kurang penting adalah rangkaian struktur sebuah sekolah. Hal ini dimulai dari kepala sekolah yang merupakan nahkota kapal. Ia memiliki fungsi supervisi pendidikan dan mengadakan evaluasi kontinyu tentang dinamika sekolah. Ia juga memotivasi semua elemen agar dapat berjalan secara baik dan terencana. Melalui fungsi yang demikian, diharapkan sebuah sekolah dapat berjalan dengan baik.

Pendidikan pada pihak lain bukanlah sebuah karya perseorangan yang eksklusif. Sebaliknya ia merupakan karya banyak orang yang secara bahu membahu dalam memajukan pendidikan. Untuk itu netware merupakan hal yang sangat penting. Kehadiran seorang pimpinan sekolah pada sebuah pertemuan dengan Dinas Pendidikan misalnya merupakan hal yang sangat urgen. Ia perlu hadir untuk mengetahui informasi sambil secara bersama-sama mengadakan sharing tentang dinamika pendidikan. Tidak hanya itu, secara ke dalam perlu dibentuk team work yang kompak dan jitu. Sebaliknya, pendidikan yang sangat ekslusif, jauh dari pergaulan sosial, dan rapuh dalam kerja sama akan tidak mendukung proses pendidikan. Untuk itu diperlukan relasi yang dijalin dari hari ke hari, diramu dalam suasanan persaudaraan dan kerendahan hati.

Dan yang tak kurang penting adalah elemen dataware. Sebuah sekolah perlu memiliki data dan informasi tentang perkembangan sekolah, pelbagai peristiwa yang terjadi serta pelbagai kejadian yang sangat berkaitan dengan proses pendidikan. Data-data ini digunakan sebagai perbandingan dan pembelajaran dari saa ke saat. Kesalahan dan kekeliruan diperbaiki berkat memori yang membaharui. Sementara itu hal-hal baik dijadikan acuan untuk semakin ditingkatkan. Hal seperti ini hanya bisa muncul dalam proses waktu dan usaha yang kontinya untuk membangun sebuah data yang dapat membantu proses pendidikan ke arah yang lebih baik. Dan tak kurang penting, dataware memiliki peran dalam merancang dinamika pendidikan. Pelbagai hal yang dianggap masalah dievaluasi. Untuk hal ini, tentu saja evaluasi dapat dibuat dengan membuat perbandingan dengan sekolah lain. Namun demikian, hal itu sebatas pertimbangan. Diperlukan usaha untuk menjadikannya sebagi program sendiri, hasil dari perjalanan sejarah pendidikan sebuah sekolah.

Promosi Kualitas

Sajian kriteria dan rumitnya masalah pendidikan menyadarkan kita bahwa mengelolah pendidikan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada pelbagai faktor yang akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian sebuah tujuan. Faktor-faktor itu akhirnya bermuara pada satu hal yakni jaminan kualitas.

Sebuah sekola disebut baik, ketika kelima elemen pembentuk pendidikan di atas disinerjikan sedemikian sehingga menghasilkan ‘out put’ yang berbobot. Di sana perlahan akan muncul kepercayaan karena ternyata janji itu terwujud dalam kapasitas peserta didik. Inilah promosi yang sebenarnya. Di sini berlaku prinsip, promosi terbaik adalah kualitas out putnya. Sebaliknya, kualitas yang tidak menjamin, sadar atau tidak merupakan bad promotion terhadap sekolah, yang akhirnya mengarah kepada ketidakpastian.

Namun perlu disadari bahwa kualitas seperti ini bukan bersifat statis. Orang tua pun bahkan perlu terus mengevalusi sekolah (meskipun sudah berkualitas). Hal ini penting karena tak jarang sebuah sekolah yang sudah mapan lupa mereformasi diri. Membludaknya siswa dalam sebuah kelas (50 siswa per kelas), bukan tak mungkin hanya memberikan peluang bagi siswa yang alim dan cerdas untuk maju, tetapi bukan untuk mereka yang masih membutuhkan banyak perhatian.

Robert Bala. Guru dan Pengamat Masalah Pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s