Aktualisasi Makna Kemerdekaan


AKTUALISASI MAKNA  KEMERDEKAAN

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Batam Pos, 4 Agustus 2006

Batam Pos 4 Agustus 2006

TUJUHBELASAN kini datang lagi. Sebuah momen yang barangkali sangat ditunggu anak-anak. Memanjat pinang yang diolesi oli, lari karung, sekedar menyebut dua contoh, begitu akrab di benak anak-anak. Bisa dipahami. Di tengah situasi negara yang lagi morat-marit, perhatian terhadap anak-anak seakan terlupakan. Masa bermain yang seharusnya dilalui, terlalu cepat lewat. Anak harus membantu orang tua, dengan tugas yang kadang tidak ringan. Dan lebih tragis lagi, ketika tidak sedikit anak harus melewatinya dengan derita akibat kekerasan kaum dewasa. Inilah momen hiburan yang  paling dinantikan.

Namun, adakah perayaan HUT Proklamasi, yang dirayakan dalam cara apa pun masih relevan? Bermaknakah proklamasi, ketika KKN yang sangat mencederai kebersamaan kita masih terus ada? Sanggupkah warga yagn tinggal di ‘ruli’ merasa bangga menjadi warga negeri ini, sementara perubahan hidup yang diharapkan dari tahun ke tahun ternyata semakin menjauh? Beralasan bertanya demikian. Umur bangsa yang secara psikologis memasuki tahap kematangan dan kebijakan,dalam kenyataan bagai remaja dengan gejala pubertas tanpa arah.

Menoleh

Bagi orang asing, yang belum mengetahui sama sekali tentang Indonesia, kebesaran geografis sunggh tak terbayang. Tujuh belas ribu pulau. Gile! Negara archipelago terbesar di dunia. Di sana, membentang pula lautan dan selat. Panorama indah membentang dari Sabang sampai Marauke. Jarak yang jauh terasa sangat dekat.

Hal seperti itu sangat dirasakan penulis semasa kecil. Begitu kerapnya terdengar nama Tanjung Pinang. Seakan hanya bergerak sejengkal dari Flores. Bisa dipahami. Nama itu begitu sering disebut, hingga syair dan pantun pun dipenuhi nama keramat itu: Tanjung Pinang Dai. Padahal, ketika penulis sudah sampai di Bumi Gurindam, ternyata jauhnya minta ampun. Tetapi untuk generasi tahun lima puluhan, hal itu bukan masalah. Mereka pergi bukan semakin jauh tetapi makin dekat. Di sana, tanah air kita juga.

Pengalaman yang sama sangat jelas dalam pribadi Soekarno, Hatta, Sjahrir. Ketika ‘asingkan’ ke Ende, Banda, Digul, mereka tidak pernah merasa dibuang. Mereka justeru merasa seperti berada di daerahnya sendiri.  Bahkan, di sana, di tempat terasing, mereka mematangkan ide kemerdekaan. Mereka bangga menjadi orang Indonesia.

Kebebasan orang Indonesia mengarung lautan, menjelajah daerah baru, menghadapkan mereka pada persoalan komunikasi. Kontak fisik yang semakin sering tidak bisa tidak memerlukan komunikasi demi memperdalam relasi. Karena itu, manusia sebagai makhluk yang berbicara, homo loquens, perlu mengekspresikannya dengan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh semua.

Pada tahap ini, terlihat egoisme memaksakan bahasa sendiri sebagai acuan. Tidak seperti orang India dan Philipina yang sampai sekarang terus berada dalam konflik, mencari bahasa nasionalnya. Orang Indonesia pada masa lalu, begitu mudah dan gampang. Dalamtanpa disertai pretensi didominasi oleh yang lainnya, semua masyarakat Indonesia merasa pas menggunakan Bahasa Melayu sebagai ‘lingua franca’ bahasa percakapan. Semua orang merasa puas. Karena yang dikejar bukannya prestise, melainkan penemuan ikhlas terhadap sebuah bahasa yang memudahkan komunikasi dan mempersatukan semuanya. Mereka bangga menjadi orang Indonesia.

Dari segi adat istiadat dan budaya, apalagi. Setiap daerah, secara logis memiliki warisan kultur dan adat istiadat sendiri.  Di sana memang ada bahaya, untuk terjerumus dalam  ketertutupan hingga memaksakan pola hidupnya sebagai acuan bagi orang lain. Tetapi hal itu tidak sampai menjadi kenyataan. Para leluhur memiliki pemahaman dan pandangan yang lebih luas. Adat ada demi manusia dan bukan sebaliknya. Karena itu, perbedaan yang terjadi dalam kontak tidak menjadi masalah. Sebaliknya dengan kebesaran hati, keluasan wawasan, mereka mencari titik tengah. Di sana, mufakat yang diperoleh tidak didasarkan pada siapa yang kalah dan siapa yang menang. Bila ada yang menang, itulah kebersamaan. Dan bila ada yang kalah, maka itulah egoisme.

Tidak Bangga

Kebanggan masa lalu menjadi sebuah tanya untuk masa kini. Terutama, ketika realitas dewasa ini hadir sebagai sebuah kontradiksi. Terlepasnya Timor Leste pada akhir Sembilanpuluhan, dan munculnya gerakan separatisme di Maluku serta GAM di bumi Ronceng yang masih belum pulih secara utuh, sekedar menyebut beberapa contoh, hadir sebagai pertanyaan tentang kebanggan kita sebagai Indonesia. Mengapa, suara memisahkan diri semakin kerap didengar? Adakah negeri ini telah gagal menjadi Ibu Pertiwi, tempat semua orang merasa ‘at home?’

Lebih jauh kita bertanya, apakah mereka tidak mau lagi menjadi orang Indonesia? Adakah dalam diri mereka perasaan bahwa memisahkan diri dari seorang ibu adalah sebuah kegembiraan? Tentu saja tidak. Tuntutan pemisahan diri, biasanya terjadi, ketika trauma dan duka itu tidak bisa tertahankan lagi. Tiga puluh dua tahun Orde Baru, mereka sekedar diperalat. Kekayaannya direnggut, tetapi tidak ada yang kembali. Harapan pun muncul saat reformasi. Tetapi, apa lacur? Ganti pemimpin, ternyata tidak membawa perubahan. Lagu lama, irama lambat, mentalitas priyai masih begitu kuat. Mereka lalu hadir dengan tuntutan, yang siapapun, apalagi Ibu Pertiwi tidak menghendaki. Separatisme, pemisahan diri, dimana pun, bukan jalan keluar terbaik. Rusia yang dulunya gagah perkasa, setelah memisahkan diri, ternyata kenyataannya lebih buruk. Timor Leste, tetangga kita, hanya dikelabui angan kemerdekaan sebagai segala-galanya. Buktinya?

Perasaan yang sama menghantui bahasa kita. Bahasa sebagai sarana komunikasi, tak jarang membingungkan. Para koruptor, pencuri uang miliaran rupiah, begitu gampang bebas dari jeratan hukum. Katanya, mereka hanya melakukan ‘kesalahan administratif’. Pejabat kelurahan yang mengurus surat pindah warga, meminta sumbangan Rp. 20.000, katanya untuk membayar ongkos kertas. Mahal kali kertanya? Dinas Pendudukan yang melayani akte nikah, meminta uang ratusan ribu untuk biaya, dengan alasan yang berbelit-belit. Lebih lagi ketika diminta tanda terima, mereka menjadi bingung. Singkatnya, bahasa tidak lagi mengungkapkan realitas tetapi menyembunyikannya. Di sana, di kantor-kantor pemerintah, tidak sedikit rakyat tidak merasa bangga menjadi orang Indonesia.

Dan hati kita masih tersayat ketika semakin kerap terjadi benturan budaya dan agama. Konflik antaretnis, sebagaimana terjadi di Batam pada waktu yang silam dan pembakaran rumah ibadat, masih menjadi keprihatinan kita. Seakan, Tuhan itu begitu banyak. Padahal, hanya satu. Namun karena begitu Angung, Mahabesar, maka tidak ada satu agama pun yang dapat menampung semuanya. Di sana mereka masing-masing, bagai mendaki sebuah gunung. Dari arah berbeda tetapi mengarah ke puncak yang sama. Kenyataan seperti itu menjadikan banyak orang merasa menjadi asing di negeri sendiri. Mereka tidak merasa bangga menjadi orang Indonesia.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian pada Universidad Complutense de Madrid-Spanyol. Sumber: Batam Pos 4 Agustus 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s