Mencari Indonesiaku


MENCARI INDONESIA

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

Batam Pos 5 Agustus 2006

HUT kemerdekaan yang kini kita rayakan menjadi momen refleksi. Kita menoleh untuk mengagumi masa lalu. Tetapi, nostalgia seperti itu tidak berarti menjadikan kita sekedar berangan. Lebih lagi, tidak beralasan untuk pulang ke masa lalu. Mustahil. Selain terlalu sulit karena jarak yang sudah memisahkan, tetapi juga karena mustahil sekedar meniru masa lalu. Masa lalu telah pergi dan tidak akan kembali.

Yang perlu dicari adalah mengaktualisasikan maknanya untuk kita yang hidup kini dan disini. Alasannya karena situasi dan zaman kita berubah. Tuntutan zaman ini berbeda. Tetapi ada satu hal yang pasti bertahan adalah makna dan nilai. Ia bisa berobah dalam caranya dan tampang fisik, tetapi pada dasanya tetap mewariskan nilai dan makna berbeda.

Tuntutan Ganda

Aktualisasi menjadi sebuah urgensi. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa Indonesia berhadapan dengan dua tuntutan ganda. Di satu pihak, ia masih harus menata kembali kompleksitas geografis, budaya, dan bahasa, serta adat istiadat. Semakin sering munculnya kekecewaan dan tuntutan memisahkan diri, menandakan bahwa secara ke dalam masih terdapat tugas yang sangat berat. Beban sejarah masa  lalu, belum lagi diperparah oleh lemahnya komitmen kebangsaan dari pemimpin sekarang menjadikan masalah itu semakin kompleks.

Pada sisi lain, globalisasi dengan pasar bebasnya telah hadir sebagai tantangan baru. Mau atau tidak, perubahan dari luar pasti datang. Dunia, dalam bahasa Mcluhan, hanya seperti sebuah kampuang besar. Segala informasi, pengaruh dari pelbagai penjuru dunia hadir melalui layar kaca dan mempengaruhi kita. Anak-anak kita sudah meminta Coca Cola dan Hamburger, sementara kita belum mampu membiasakan mereka dengan makanan khas kita. Kita akhirnya lebih terjerat untuk menjadi konsumen, daripada terorientasi untuk menjadi produsen. Di sana keuntungan akan lari tanpa direm ke negara produsen. Kekayaan pun menumpuk di sana, sementara kita harus puas dengan rema-rema yang sempat ditinggalkan.

Kenyataan paling getir telah kita rasakan dengan krismo tahun 97. Krisis itu, asal muasalnya dari Thailand. Ia menyebar ke Malaysia, Singpaura, Filipina dan akhirnya sampai ke Indonesia. Anehnya, pusat krisis itu dengan cepat dibenahi. Dalam saat yang tidak terlampau lama, negara lain sudah bangun kembali. Kita, bahkan sampai kini belum terdapat tanda-tanda optimistik. Sekali jatuh, sang singa muda, demikian julukan Indonesia pada masa Soeharto, tidak pernah kedengaran lagi.

Mencari Wajah

Lalu, apa yang mesti kita perbuat untuk menemukan kembali wajah Indonesia yang lebih baik? Bagaimana memunculkan kembali kebanggan menjadi orang Indonesia? Pertanyaan ini menghentak benak kita semua.

Pertama, dibutuhkan komitmen pribadi. Negeri ini terlampau luas. Menanti sampai terjadinya ‘mukjizat’ perubahan, rasanya sangat sulit. Malah, penantian itu sendiri telah menambah lagi problem. Dalam situasi seperti ini, komitmen pribadi sangat diandalkan. Setiap orang yang ingin agar negaranya menjadi lebih baik perlu memulainya dari dirinya sendiri. Dan kalau pun niat itu belum sampai, yang bisa dilakukan adalah tidak menambah luka.

Dalam kenyataan, komitmen seperti ini kian melemah dari waktu ke waktu. Bahkan, Indonesia bukan lagi negeri yang kepadanya komitmen diberikan, tetapi sebaliknya dianggap seperti sapi perah. Setiap orang berusaha mengambil sebanyak mungkin susunya. Setelahnya membiarkan induk sapi itu menjadi kurus dan kering. Yang lain menganggap Ibu Pertiwi bagai kapal perang. Setiap orang berusaha mengambil sebanyak mungkin barang yang bisa ia temui. Anarkisme pun diberlakukan. Memang, dalam situasi seperti itu, barang sudah bukan milik siapa-siapa. Ia menjadi milik dari dia yang lebih gesit, lebih cepat dan paling kuat. Kenyataan seperti ini yang perlu disadari dan menjadi acuan bagi setiap pribadi untuk menunjukkan komitmennya.

Kedua, komtimen para pemimpin. Kisah Indonesia yang bersatu dan kompak di masa lampau, antara lain dimungkikan oleh wawasan para pemimpinnya yang pluralistik. Mereka menyadari bahwa Indonesia terlahir sebagai negara plural, tempat dimana semua orang dari latar belakang budaya, etnis, agama, ada dan hidup bersama. Di sana peran mereka adalah mengayomi, memungkinkan semua orang merasa menjadi bagian dari republik ini.

Figur seperti ini semakin dicari. Kesaksian birokrat kini yang masih melekat erat dengan mentalitas raja yang perlu dilayani, menjadikan pencarian wajah Indonesia semakin sulit. Sebaliknya, Ibu Pertiwi menanti (dengan air mata), figur pemimpin yang punya komitmen. Negeri ini tidak disengsarakan demi menguntungkan diri. Sebaliknya mereka berkaca pada para pendiri negeri ini yang karena cinta pada rakyatnya, mereka rela menderita.

Pendidikan

Mencari Indonesia adalah sebuah proyek. Realisasinya harus menanti waktu. Tetapi, kenyataan itu tidak bkaal terjadi, kalau kita tidak memulainya kini. Jelasnya, melalui pendidikan. Melaluinya, generasi muda yang lebih cerdas, jujur, dan punya komitmen dapat kita godok.

Kenyataan seperti inilah yang dilaksanakan oleh tetangga kita, Malaysia, saudara dan serumpun. Pada dekade tujuh puluhan, dengan kerendahan hati mereka datang ke Indonesia. Mereka berguru di bumi yang penuh kebijakan. Anggaran pendidikan tidak tanggung-tanggung dikeluarkan. Bagi mereka, pendidikan adalah aset. Kini, negeri itu tengah memanen.

Untuk Indonesia, komitmen kita masih setengah hati. Anggaran pendidikan yang katanya 20% dari APBN, dalam kenyataannya bahkan tidak bisa dipenuhi, bahkan sampai setengahnya. Dan lebih disayangkan, dari dana yang seminim itu, masih digunakan untuk merobah kurikulum dan mengganti sebanyak mungkin buku pelajaran. Akibatnya, yang sampai pada sasaran hanya seberapa. Di sana hanya ada jeritan. Banyak sekolah yang sudah roboh. KBM dilaksanakan di bawah tenda. Di sana optimisme kita perlahan menipis dan rapuh. Pendidikan sungguh memprihatinkan.

Kelalaian seperti ini, pada sisi lain dijadikan lahan subur untuk bisnis pendidikan. Fasilitas gedung ber-AC, kurikulum internasional, bahasa Inggris dijadikan pengantar, seragam sekolah yang tentu tidak murah menjadi daya tarik tersendiri. Di sana, tempat kaum berpunya disekolahkan dengan pembayaran SPP yang bukan ratusan ribu lagi. Tetapi apa mau dikata. Demi masa depan, tidak sedikit orang tua yang terpaksa berhutang, demi pendidikan, meski hasil yang diperoleh tak jarang jauh dari harapan. Yayasan dan pemilik sekolah masih sibuk membagi-bagi uang gedung, sementara anak dibiarkan memperoleh pelajaran di ruko.

Lalu kemana arah generasi muda kita? Apa nasib masa depan, kalau wakil yang hidup masa kini, yaitu kaum muda, ‘dididik’ dalam cara seperti ini? Apa jadinya Indonesia ke depan? Pertanyaan seperti ini, perlu digodok, direfleksikan secara matang. Aneka sapaan untuk merubah arah pendidikan penuh nuansa politis (dan ekonomi) kepada pemikiran yang lebih serius. Untuk hal ini, kita tidak bisa menanti sampai besok karena itu berarti kita sudah terlambat sehari lagi. Hari ini, kini, dan di sini, perlu menjadi awal. Kita mulai mendidik dan mendisiplin kan diri, memberikan teladan sebagai pemimpin, dan tidak lupa menularkan hal-hal positif kepada generasi muda kita. Kalau demikian maka masa depan Indonesia yang semakin baik, bakal semakin dekat untuk kita raih.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian pada Universidad Complutense de Madrid-Spanyol. Batam Pos 5 Agustus 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s