Pasir dan Ketakberdayaan

Pasir dan “Ketidakberdayaan”

Batam Pos 22 Maret 2007

Memasuki Singapura, selalu muncul rasa kagum. Negara yang begitu dekat  dengan Batam itu patut dikagumi. Kesamaan geografis tidak menjadikannya sama.  Sebaliknya terbentang perbedaan kemegahan dan kemewahan yang membedakannya.  Karena itu mengikuti tradisi Paus yang selalu mencium tanah dimana Ia kunjungi,  setiap orang pun yang barusan menginjakkan kakinya, pasti tergiur untuk mencium

keanggunan Negeri Jiran itu.

Namun ada perasaan lain. Tanah dan air yang Singapura ternyata memiliki  “aroma” kendonesiaan. Jelasnya, ia tak bedanya dengan Indonesia. Nama Singapura  seakan hanya tempelan di atas tanah (pasir dan granit) Indonesia. Air  yang  begitu limpah pun dapat dinikmati di setiap pojok kota pun adalah berkah yang  diterima dari Indonesia dan Malaysia. Bedanya, Indonesia lebih murah hati. Air  yang begitu berharga, diberi nyaris tanpa harga.

Lantas, apa yang sebenarnya yang ingin dipermasalahkan? Apakah sekedar  tendensi halus invasi teritori Indonesia? Ataukah ada problem yang lebih  mendasar menyangkut arogansi ekologis?

“Pulau Hidup”

Setiap orang tahu, pulau adalah benda mati. Bila ia terpaksa mengalami  perubahan, maka penyusutan akibat abrasi laut, penebangan hutan untuk  pemukiman, dan pembangunan di atasnya, lebih sering terjadi. Sebuah daerah  bahkan terancam tenggelam oleh proses alamiah. Apalagi mencairnya es di kutup,  dapat semakin meninggikan air laut hingga daratan pun semakin sempit.

Tapi hal itu tidak terjadi dengan Singapura. Hanya dalam 40 tahun  terakhir, pulau yang dulunya hanya 581,5 km2, disulap hingga menjadi 699 km2.  Itu berarti telah terjadi “pembengkakan” hampir 117,5 km2. Malah diperkirakan  pada tahun 2010, ia telah menjadi 774 km2. Sebuah penambahan spektakuler.  Hampir 30% dari luas aslinya.

Perubahan itu mencengangkan. Selain ia bertentangan dengan kodrat alam,  perluasan itu  memunculkan pertanyaan. Adakah “pembesaran diri” itu terjadi  tanpa mengorbankan daerah lain? Jelasnya, apakah perluasan yang nota bene  membutuhkan pasir dan granit tidak mengorbankan daerah lain yang terpaksa  dikeruk atas nama “keindahan Singapura?” Atau, apakah “pembengkakan” itu adalah  akibat logis dari tetangganya, Indonesia, yang bukan saja acuh terhadap  keberadaan pulau-pulau terluarnya, tetapi malah pulau-pulau terdalam pun nyaris  tidak terurus?

Pertanyaan seperti ini terjawab ketika kita terpanah melihat keriputnya  alam geografis kita. Delapan pulau kecil kini berdiri “tinggal kenangan”  setelah isinya dikeruk demi membangun pulau baru yang dibabtis dengan nama  Jorong di Singapura. Pulau terluar Nipah yang dijadikan batas terluar Indonesia  dengan Singapura, bukan mustahil akan menghilang. Dengan demikian standar baru  semestinya dicari setelah “menghilangnya” Nipah. Kandungan pasir yang begitu  limpah di negeri ini, begitu mudah ‘diseret’ ke negeri tetangga. Bahkan kawasan  laut Riau menjadi zona paling empuk dalam pengerukan pasir. Puluhan kapal  pengeruk pasir bebas melintas sambil membawa pasir demi membangun negerinya.

Invasi Teritori?

Melihat “perubahan mendadak” Singapura yang kian membesar, isu kedaulatan  negara dengan cepat digulirkan. Tidak sedikit petinggi negeri ini, baik Menlu,  Menteri Kelautan, atau Menteri Perdagangan, dengan cepat berbicara tentang  invasi teritori yang bisa saja suatu saat menjadi sebuah boomerang bagi  Indonesia. “Menambang Pulau, Menjual Kehormatan”, atau “Jangan Jual Tanah Air”  (Kompas, 17/03) merupakan tidak sedikit isyu yang disebarkan petinggi negeri  demi mengawasi trik halus Singapura.

Pertanyaannya: begitu pentingkah isyu kedaulatan negara itu disebarkan?  Memang, sebuah negara dengan nasionalisme tinggi, bakal terpanah melihat  teritorinya tengah dipermainkan oleh negara tetangga. Apalagi negara itu  “sekecil” Singapura.

Dalam tataran ide, sebenarnya isyu itu tidak terlalu menggigit. Tidak  sedikit rakyat yang bahkan mendiami pulau terdalam negeri ini merasakan bahwa  keberadaanya nyaris mendapatkan perhatian. Lalu, apa yang dapat terjadi dengan  pulau-pulau terluar yang baru menjadi perhatian ketika terjadi masalah  perbatasan?

Sikap seperti inilah yang akhirnya melahirkan pelbagai upaya menambang  pasir dan terus mengirimnya ke Singapura dengan strategi licik. Granit yang  masih leluasa diekspor dapat disulap bagian atasnya, sementara pada dasarnya  tersembunyi pasir “murah meriah” dari Indonesia.

Pada sisi lain, Singapura, melalui menlunya George Yeo sudah berjanji  untuk “tidak meninjau” batas wilayah pascaperluasan. Bagi Singapura,  pengklaiman itu tidak menjadi bidikan. Yang terpenting adalah menjadikan  Singapura semakin cantik. Apalagi dalam era globalisasi yang semakin menisbikan  batas antarnegara, ada hal yang lebih mendasar. Menjadikan negerinya elok,  indah, dan permai, bakal mendorong warga negara tetangga untuk pergi ke sana.

Bukan itu saja. Di negara yang indah itu, mereka juga dapat menyimpan harta  bendanya dengan aman dan nyaman. Ia tidak bakal “diusik” karena pemerintah  Singapura bakal terberkati dengan kehadiran modal.

Kecemasan pemerintah Indonesia bisa saja beralasan. Singapura meski kecil  secara fisik, tetapi tidak bisa dipandang sebelah mata. Secara ekonomis, negera  yang dulu “berpisah” dari Malaysia itu punya kemajuan ekomi yang sangat  mengagumkan. Ia dideretkan sebagai negara kaya di kawasan yang sangat kaya. Ia  diapiti negara yang memiliki kekayaan alam mengagumkan seperti Malaysia dan  Indonesia. Namun berbeda dengan Malaysia yang begitu sigap membenah diri,  Indonesia masih akrab dengan KKN. Bahkan program pembangunan ke arah yang lebih  baik nyaris terlihat. Akibatnya tidak sedikit konglomerat merasa nyaman untuk  menjadikan Singapura sebagai tempat sembunyi. Ia melebarkan sayap usahanya di  Indonesia, tetapi pada saat yang bersamaan, menyusun strategi untuk melindungi  dirinya di Singapura.

Hal itu didukung juga oleh keamanan Singapura sendiri.  Negera Pulau di  Selat Malaka itu tidak mudah “digoyahkan”. Menurut catatan dunia militer  universal tahun 2004 ia bahkan memiliki anggaran dua kali lipat dari Indonesia.  Kita boleh “menggertak” dengan SDM tentara kita, tetapi hal itu hanya “gertak  sambal”. Peralatan militer akhirnya yang berbicara. Singapura karena itu merasa  punya “otoritas” untuk membela diri dengan cara apapun, hal mana terjadi juga  dengan “saudaranya” Taiwan yang lagi “nakal” dengan China.

Robert Bala, Pemerhati Ekologi. Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian  Asia Pasifik Universidad Complutense de Madrid Spanyol. Sumber:  Batam Pos 22 Maret 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s