Pemimpin yang Memberi Makna


PEMIMPIN YANG MEMBERI MAKNA,

(Memaknai Pilkada Lembata)

Pos Kupang, 30 Mei 2006

Saat menulis artikel ini, pikiran saya begitu terpaut pada ungkapan John Foster. Sebagai penulis yang notabene memiliki pengamatan yang sangat tajam, ia pernah mencatat pada buku hariannya: “Seseorang yang tidak jelas karakternya, takkan pernah dapat dikatakan menjadi kepunyaan diri sendiri…. ia adalah kepunyaan apa pun yang menguasainya”.

Kata-kata ini hadir saat rakyat Lembata lagi ‘mengelus’ siapa yang bakal memimipin pulau yang sangat kaya itu. Melalui kampanye, rakyat sudah melihat dari dekat Drs. Andreas Duli Manuk-Drs. Andreas Nula Liliweri , Drs. Piter Boliona Keraf-Edy Lamak, Bediona Philipus, S.H- Begu Ibrahim, Drs. Sinyo Langoday-Simon Geletan Krova serta Drs. Johanes Lake-Karolus Koto Langodai. Sekarang, siapakah yang bakal terpilih? Pertanyaan ini penting. Para calon lagi harap-harap cemas. Apakah rakyat begitu rela mempercayai janji kampanye? Atau, apakah diam-diam rakyat telah menautkan hatinya pada kandidat lain? Lalu, apa  yang sebenarnya menjadi kriterianya?

Inspirasi Disraeli dan Gladstone

Sesungguhnya tidak mudah menjawabi pertanyaan di atas. Namun inspirasi berikut barangkali dapat memberikan kisi-kisi untuk menjawabnya. Hal itu berkaitan langsung dengan situasi yang dihadapi masyarakat Inggris.

Dalam sejarah pemilu Inggris (pada paruh kedua abad 19) rakyat pernah dihadapan pada dua kandidat yang sangat berbobot. William Gladstone, salah satunya  merupakan orang yang sangat diandalkan. Beliau adalah pemimpin Partai Liberal selama tiga dekade. Sebagai pegawai publik, ia adalah orator yang sangat ulung, ahli dalam keuangan, dan pria bermoral yang dapat terpercaya.

Curiculum Vitae dari Disraeli tak kalah hebatnya. Pada usia tiga puluh tahun, ia memasuki dunia politik dan membangun reputasi sebagai diplomat dan reformator sosial. Namun prestasi terbesarnya adalah menjadi otak di balik pembelian saham Terusan Suez oleh Inggris.

Namun apa yang seharusnya membedakan kedua kandidiat ini? Seorang wanita muda, wartawan sebuah harian ternama Inggris yang makan malam pada waktu yang berbeda dengan kedua calon memberikan kesaksian. Baginya, setelah selesai makan dengan Gladstone, ia pikir bahwa beliau adalah pria terpandai di Inggris. Tetapi setelah duduk di sebelah Disraeli, sang wanita mendapat kesan bahwa dirinya sendirilah (bukan Disraeli) adalah wanita terpandai di Inggris. Mengapa terjadi? Karena dalam percakapan, Disraeli selalu bersikap jujur dan selalu memberikan semangat kepada lawan bicara.

Mementingkan rakyat

Pengalaman sang wanita muda itu menjadi sebuah kunci. Ternyata kehadiran seorang figur pemimpin yang mengobral janji, membeberkan prestasi yang telah dicapai (untuk pemimpin yang sudah banyak makan garam) atau pendatang baru yang menonjolkan Curriculum Vitaenya yang disertai aneka gelar tidak lain sebenarnya menyimpan dibaliknya kecendrungan untuk menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang terbaik.

Hal seperti ini sebenarnya sah-sah saja.Dalam kampanye, setiap kandidat berusaha menyakinkan publik tentang pengalaman kerja dan kenyataan yang telah terbukti dalam kenyataan. Namun, bukankah prestasi yang telah tidak membawa aneka kejanggalan dan penyimpangan? Inilah pertanyaan nakal yang sering muncul ketika seorang pemimpin yang sudah berpengalaman begitu dielu-elukan. Paling kurang kenyataan itu mengingatkan kita akan pengalaman ketika bangsa ini begitu dipuja oleh keberhasilannya dalam mengelola minyak. Ibnu Sutowo, tokoh yang mengubah perusahaan minyak negara menjadi pertamina begitu dielu-elukan. Tetapi apa terjadi?  Ternyata simpanannya mencapai Rp. 90,48 milyar (kurs rupiah waktu itu Rp 400/dolar) dan negara dirugikan sekitar US$1.554.590,28 dalam kongkalikong Sutowo dengan Jepang. Lebih tragis lagi, akhirkna pada tahun 1976, Sutowo diberhentikan sebagai Dirut Pertamina dan meninggalkan utang sebesar US$ 10,5 milyar. Di sini jelas bahwa rakyat seharusnya tidak cepat silau dengan sejumlah keberhasilan masa lalul. Ia perlu menganalisa lebih jauh.

Analisa yang sama dapat kita gunakan dalam menganalisa pendatang baru. Negeri ini tidak kurang dengan contoh. Secara khusus, ketika tumbangnya Orde Baru. Saat itu, tidak sedikit orang tampil sebagai pahlawan (padahal sebelumnya hidup dari Golkar lho?). Tiba-tiba saja mereka menjadi reformator. Aneka kebobrokan Orde Baru dibeberkan, sambil memaparkan sejuta janji akan adanya pembaharuan. Namun apa lacur? Ternyata hanyalah taktik “old players with  new games. Mereka adalah pemain lama dalam permainan baru. KKN yang dulunya dikritik ternyata begitu tanpa rasa risih dilakukannya. Atau bahkan muncul tokoh yang baru sama sekali. Mereka mengklaim diri bebas KKN. Tetapi ternyata tidak lama ia pun ‘terikat”.

Berbeda dengan pemimpin yang membesarkan rakyat hal mana muncul dari kesan sang wanita terhadap Disraeli. Ia tidak menonjolkan keberhasilan masa lalunya. Ia apalagi sekedar mengobral janji. Baginya, keberhasilan yang telah terukir hanya karena rakyat dan bukan dirinya. Dalam arti ini, rakyatlah yang justeru dikedepankan. Masyarakat diberi rasa berarti sehingga merasa bahwa dirinya memang bermakna. Sang pemimpin sementara itu menganggap dirinya sebagai ‘salah’ satu diantara mereka. Malah tak jarang dirinya menjadi sangat tidak berarti. Di sini ia menjadi semakin kecil sehingga rakyatnya menjadi semakin besar.

Memberi Makna

Lalu, siapakah yang bakal dipilih rakyat Lembata? Sesungguhnya yang sangat dinantikan adalah pemimpin yang dapat memberikan rasa berarti dan makna hidup kepada warga Lomblen. Hal itu dapat terlihat dalam tiga hal.  Pertama, kita membutuhkan pemimpin yang dapat memberikan inspirasi bagi rakyat untuk berjuang. Ia tidak hadir sebagai dewa penyelamat yang membagi-bagi sembako (agari terpilih), melainkan orang yang sanggup menggerakan rakyat untuk maju. Atau dalam kata-kata  Jenderal Bernard Montgomery (Inggris), kepemimpinan adalah kemampuan serta kemauan untuk menggalang pria dan wanita menuju suatu maksud/tujuan, serta karakter yang menginspirasikan keyakinan. Hal itu akan menggugah rakyat untuk memilihnya. Sebaliknya pemimpin yang begitu ‘dermawan’ saat kampanye, telah menciptakan jerat untuk dirinya, karena ia bakal tidak diikuti sebagaimana kata peribahasa: kepemimpinan, jika Anda pikir Anda memimpin padahal tak ada seorang pun yang mengikuti Anda, maka Anda hanyalah jalan-jalan).

Kedua, memiliki komitmen terhadap rakyat yang dipimpin. Realitas bangsa yang lagi “sakit” membutuhkan figur yang sungguh memiliki komitmen. Lembata, secara khusus bakal maju bila dari pilkada kali ini lahir pemimpin yang membaktikan lima tahunnya untuk rakyat. Sebaliknya, pilkada hanya menjadi sandiwara kalau komitmen hanya sebatas wacana kampanye. Setelah itu, semuanya ‘selamat tinggal’ atau dalam bahasa Atadei: narobi……..

Ketiga, mencari pemimpin yang sungguh peduli terhadap rakyat. Dalam situasi masyarakat yang terpuruk, dimana rakyat bukan hanya tidak maju secara ekonomis tetapi malah mundur, membutuhkan pemimpin yang sungguh peduli terhadap rakyat. Kepedulian itu dapat terlihat dari keterlibatan pemimpin dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, atau bahkan mempertaruhkan jabatannya hanya karena ingin membela kebenaran dan keadilan.

Di sini jelas, kepedulian yang dimaksudkan di sini bukan membagi-bagi uang (dan sembako) melainkan bagaimana pandangannya tentang uang dan kekayaan. Karena, “uang”, demikian tulis E. Stanley Jones, “adalah hamba yang mengagumkan namun majikan yang mengerikan. Jika Anda dikuasai oleh uang, Anda akan menjadi budaknya”. Untuk hal ini, rakyat Lembata tidak ada yang bodoh. Selamat memilih!

Robert Bala. Pengamat Sosial Politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s