Reformasi Parpol


REFORMASI PARPOL

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan). Batam Pos 26 September 2006

Bagaimana reaksi masyarakat melihat realitas politik yang demikian manipulatif, mencari kekuasaan, dan ‘kotor’? Pertanyaan seperti ini tengah hadir sebagai sebuah kekecewaan yang merajalela. Ada kebosanan dan apatisme. Mustahil bertanya demikian. Masa transisi yang terlalu lama telah memupuskan harapan bakal terjadi pembaharuan.

Fuga Mundi?

Siapa pun yang menyaksikan perebutan kekuasaan, pasti merasa kecewa, kesal, dan bosan.  Memang dimana-mana di dunia, perpecahan dan kehadiran parpol baru adalah normal. Namun, alasan infantil-egoistik mencari kekuasaan memunculkan kemuakkan terhadap dinamika politik pada umumnya dan kiprah parpol pada khususnya.  Dan yang lebih mencemaskan, ketika tidak sedikinya melarikan diri dari realitas dunia (fuga mundi), sebagaimana disinyalir J.M. Mardones. Dalam bukunya Fe y Poltica: 1989 beliau melihat bahwa pelarian itu disebabkan oleh keyakinan akan minimnya kepercayaan bakal terjadinya pembaharuan dengan pelakonnya parpol. Kakrena itu yang terbaik adalah membiarkan hal itu berjalan sendirian.

Keputusan seperti ini dapat dipahami. Mekanisme yang mewarnai dinamika parpol selama ini terlampau dipenuhi jerat. Atau dalam kata seorang sahabatku, dalam politik keluar uang, ya, pasti. Tetapi, belum tentu masuk. Atau yang lainnya bersedia masuk dalam parpol dan coba berjuang mendapatkan kursi legislatif karena baginya, inilah momen untuk ‘berjudi’ dengan peluang. Kalau untung, ya, uang yang dikeluarkan untuk kampanye bakal dikembalikan. Kalau tidak, anggaplah sebagai ‘amal’ terhadap bangsa dan negara.

Kenyataan ini memunculkan kemuakkan hingga bagi tidak sedikit orang, adalah sebuah pilihan untuk melepaskan politik. Di sana paling kurang orang berada dalam posisi aman: tidak rugi, tetapi siapa tahu bisa untung. Mereka lalu mencari alternatif lain di luar jalur yang ada. Membangun LSM, menjadi salah satu pilihan. Siapa tahu di sana bisa diperoleh sesuatu, paling kurang untuk mendapatkan dana dari para relawan donator, politisi, yang ingin membantu dengan ‘tanpa membalas apa-apa’.

Namun, keputusan seperti ini bukan sesuatu yang mudah. Membiarkan realitas politik berjalan ‘semau gue’ merupakan keputusan yang penuh resiko. Itu berarti, masa depan sebuah bangsa, provinsi, kota madya diserahkan kepada ketidakpastian. Atau meminjam kata-kata sejarawan Inggris Anold J. Toynbee (1889-1975): ‘hukuman bagi yang tidak senang pada politik, akan dikuasai oleh pemimpin yang tidak dikehendakinya’. Karena itu, fuga mundi, merupakan sebuah bahaya yang lebih kejam karena masa depan sebuah bangsa dibuang ke awan, berada dalam ketidakpastian. Ini yang perlu diwaspadai.

Kembali ke Parpol

Melihat gejala seperti ini, pembaharuan partai merupakan sebuah keharuan. Bangsa ini perlu memiliki parpol yang menjadi agen pembaharu, hal mana telah ditunjukkan oleh India. Negara dengan penduduk satu miliar itu, beruntung memiliki Bharatya Janata Party (BJP). Mereka punya komitmen untuk meletakkan dasar-dasar pembaharuan. Meski hal itu harus dibayar dengan hilangnya kekuasaan dan kini dipegang oleh Partai Konggres (partai Nehru), tetapi mereka telah berjasa dalam mematrikan negerinya dalam kategori penuh harapan. Reformasi dalam bidang pendidikan untuk menghasilkan tenaga-tenaga terdidik demi mengelolah sektor teknologi tinggi, merupakan kebijakan yang patut diteladani.

Untuk menjadikan reformasi di Indonesia lebih nyata, perlu didukung oleh parpol yang sungguh kompeten, kuafikatif, dan punya komitmen kebangsaan yang jelas. Kehadiran Partai Demokrat ditengah kebosanan iklim politik bangsa ini seharusnya merupakan altenatif yang sangat baik. Masalahnya, komtimen dan keberanian untuk mengadakan pembaharuan belum terlihat. Malah SBY sebagai ‘putera teraik’ Partai Demokrat ketiadaan ide dalam membangun. Yang lebih dominan adalah perasaan ragu-ragu dan tidak berani.

Namun harapan tidak harus kandas di sini. Peran serta generasi muda dalam proses pembaruan partai masih diharapkan. Dengan kesadaran bahwa pembaharuan perlu dilakoni parpol, maka generasi yang berwawasan kebangsaan, punya komitmen mengangkat bangsa ini dari jurang kebinasaan perlu berpartisipasi membaharu partai. Itu berarti kaum muda yang potensial perlu menjadi anggota partai. Mereka perlu masuk dan membaharui parpol. Di sana yang ingin dikejar bukanlah kuasa (seperti yang biasa dilakukan ‘leluhurnya’) melainkan menjadikan partai sebagai wadah pencarian calon pemimpin bangsa yang didasarkan pada kualitas diri, dukungan moral, wawasan kebangsaan yang luar.

Hanya saja, keterlibatan itu tidak bisa bersifat individual sporadis karena akan mudah mendatangkan frustrasi pribadi, selain mudah ‘dirangkul’ untuk dapat menjadi ‘anak manis’. Perjuangan perlu dilaksanakan secara kolektif,  dalam sebuah kebersamaan yang didukung oleh analisis dan strategi yang mantap.

Untuk jangka panjang, sektor pendidikan perlu dijadikan ujung tombak. Anggaran sebesar 20% perlu direalisasikan secara optimal, sambil menghindari aneka mutilasi memotong dana pendidikan. Pendidikan juga perlu didukung orientasi yang jelas dan berkesinambungan, dan tidak mudah diganti, seirama pergantian menteri.

Ada proses ini dapat berjalan sesuai harapan, kehadiran LSM, media massa (elektronik dan cetak), yang memprioritaskan makna dan nilai sangat penting, tanpa terjerumus menjadikannya sebagai alternatif menggantikan peran partai politik. Meminjam istilah teolog Asia Michael Amaladoss (Evangelio, al encuentro con las culturas 1996), kelompok promotor civil society perlu hadir sebagai ‘garam dunia’. Garam dirasakan berkat ketakhadirannya karena sudah meleburkan diri. Demikian juga LSM, media massa perlu hadir lebih proaktif menggarami dunia yang lagi hambar.

Kalau proses ini diikuti, maka realisasi reformasi akan lebih pasti, karena pembaharuan itu berawal dari dalam partai sendiri. Setelah itu, ia bakal mengepakkan sayapnya hingga dapat terbang sejauh mungkin menjadikan mimpi bersama ini semakin nyata. Ia mengikuti nasihat Fray Luis Granada dari Spanyol bahwa untuk dapat membersihkan gelas yang kotor, kita perlu menjadi air yang bersih. Sebaliknya, reformasi akan memasuki ketidakpastian ketika parpol sebagai agen pembaharu begitu getol mengadakan perubahan terhadap lembaga kenegaraan, struktur pemerintahan, tetapi lupa menata diri. Tapi tidak ada yang terlambat untuk ditangisi, ketika parpol memulai hari ini (terutama dalam munas, musda, dan muscab) memikirkan secara serius reformasi dirinya.

Robert Bala. Simpatisan Lingkar Muda Indonesia. Tinggal di Bekasi. Sumber: Batam Pos 26 September 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s