Di Balik Sepal Bola

DI BALIK ‘SEPAK BOLA’

Batam Pos, 14 Juli 2006

SELAMA sebulan, mata dan perhatian kita tertuju ke Jerman. Apalagi kalau ada yang terlanjur terpaut pada team satu negara. Segalanya bakal dikorbankan. Tetapi ada yang lebih terbuka. Mereka tidak tenggelam dalam fanatisme, melainkan terbuka  memuji negara mana pun yang menampilkan pemainan cantik. Tak pelak, waktu terbaik untuk istirahat pun dikorbankan demi menonton sajian pertandingan.

Kenyataan ini memunculkan pertanyaan: apa sebenarnya yang dicari dalam sepak bola? Apakah permainan itu hanya sekedar mencapai kesehatan fisik, ataukah ada hal lain di baliknya? Mengajukan pertanyaan seperti ini usai laga Piala Dunia sangat penting. Di sana kita punya waktu untuk melihat ke belakang sambil secara jeli mengambil hikmahnya untuk kehidupan kita.

Dualitas Permainan

Permaianan, demikian tulis Johan Huizinga dalam “Homo Ludens” memiliki arti yang sangat penting. Di satu pihak, ia menjadi aktivitas fisik, melalui mana manusia dapat melenturkan otot-ototnya. Tubuh digerakkan, hingga akhirnya mengeluarkan keringat. Melalui proses ini, tubuh mendapatkan kesegaran.

Bukan itu saja. Tubuh yang sehat, hasil olahraga akan berpengaruh terhadap kondisi jiwa. Orang akan merasa segar. Pikiran seakan-akan menjadi lebih cerah. Makanya orang Latin mengatakan bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Di sinilah maknanya berolahraga.

Tetapi, makna permaianan tidak berhenti di situ. Huizinga bahkan melangkah lebih jauh dalam menginterpretasi (menafsir) permainan. Baginya, permainan itu memiliki makna kultural. Mengapa? Karena justeru dari permainan, lahirlah kebudayaan. Melihat betapa indahnya kerjasama dan spontanitas yang muncul dari permainan, maka perlahan orang ingin membangun masyarakatnya dengan mengikuti pola yang sama. Permainan dalam konteks ini menjadi inspirasi kebudayaan.

Berpijak pada pengertian di atas, permainan sungguh memiliki dualitas yang tidak bisa dipisahkan. Di satu pihak ia ingin melatih fisiknya. Tetapi pada pihak lain melalui permainan, orang dapat mengekspresikan realitas budayanya. Jelasnya, sebuah bangsa yang telah berurat-berakar dalam budayanya akan mengekpresikannya melalui permainan yang cantik. Sebaliknya bangsa  yang masih memiliki masalah dalam budaya, agama, adat istiadat, atau nasionalisme pada umumnya akan sulit membentuk team yang tangguh.

Kasus Spanyol

Untuk melihat relasi antara sepak bola dengan nasionalisme, kita dapat mengambil contoh Spanyol. Dewasa ini tak dapat disangkali bahwa Spanyol memiliki La Liga yang sangat kompetitif (selain Italia dan Inggris). Pemain-pemain dunia seperti Beckham, Zidanne, Roberto Carlos, Ronaldo, Ronaldinho (baca: Ronaldinyo), Torres, sekedar menyebut beberapa nama ‘merumput’ di sana. Singkatnya, negara ‘matador’ (atau lebih di Spanyol lebih populer dengan istilah ‘Corrida de Torro) itu seakan menjadi incaran.

Tetapi, muncul pertanyaan: mengapa ia belum sekali pun menjuarai Piala Dunia? Padahal Italia, Inggris, Brasil, Argentina, bahkan negara kecil seperti Uruguay pernah tampil menjadi nomor satu. Sejarah hanya mencatat bahwa baru sekali team Spanyol sampai ke semifinal (1950). Empat kali (1934, 1986, 1994, dan 2002) kandas di perempat final, belum terhitung enam kali tidak ikut dalam Piala Dunia.

Kegagalan seperti ini mengingatkan kita pada tesis Huizinga tentang relasi antara permainan dan kebudayaan. Permainan melahirkan kebudayaan. Atau kebudayaan mengekspresikan dirinya dalam permainan. Hal ini terbukti dalam sejarah Spanyol. Pada abad XVII dan XVIII, saat bangsa-bangsa Eropa lagi berlomba dalam iptek, Spanyol bersama Portugal masih tergiur dengan harta kekayaan. Mereka melewati waktu dengan aneka ‘expedisi’ mencari harta karun. Dan setelah semuanya tercapai, mereka menganggap dirinya telah ‘berhasil’. Padahal, abad-abad itu, bangsa-bangsa Eropa sudah mengalihkan kebanggan dari materi kepada kecerdasan intelek. Tak pelak, aneka penemuan baru muncul bagai jamur di musim hujan.

Orang Spanyol baru menyadari hal ini ketika memasuki abad 20. Pelbagai cara, lantas dicapai termasuk mengadopsi (atau lebih tepat meniru) bangsa lain. Aliran komunisme dari Rusia sempat ‘dilirik’. Tetapi hal itu hanya mendatangkan nestapa. Mereka sadar bahwa budaya sebuah bangsa tidak bisa dibentuk secara karbitan, secepat kilat. Ia  membutuhkan proses, dan menuntut partisipasi dan tanggungjawab. Lebih lagi, nasionalisme sebuah bangsa perlu digali dari dalam, bukannya hasil ‘lirikan’ apalagi ‘jiplakan’ dari tempat lain.

Gagal dipengaruhi Rusia, muncul Jenderal Franco yang coba menawarkan idenya. Sayangnya, ‘sang jenderal’ mengartikan bahwa nasionalisme perlu dibangun melalui kekerasan. Akibatnya, hampir tiga puluh tahun lebih (sampai tahun 1975), negeri itu hidup dalam ‘disiplin militer’. Anak-anak sekolah diharuskan menghormati bendera, menyanyikan lagu kebangsaan dengan syair ciptaan Franco.

Sekali lagi, intensi membangun nasionalisme gagal. Baru dalam tiga puluh tahun terakhir, mereka bagai hadir sebagai negeri baru yang mencari identitasnya. Dalam situasi seperti itu, gerakan regionalisme dari orang-orang Catalan (wilayah klub Barcelona), dan Castilla (wilayah Real Madrid), serta Vascos (wilayah Athletic de Bilbao dan Osasuna) sangat berpengaruh. Tak pelak, meski klub-klub kenamaan tersebut mempunyai pemain bintang yang sangat disegani dunia tetapi kehilangan spirit, roh ketika mereka berkumpul. Selain itu, warga Spanyol yang mengalami tirani sang diktator tidak ingin mengajarkan lagu kebangsaannya kepada kaum muda. Akibatnya, Raul dkk, tidak mengetahui syair lagu kebangsaannya.

Nasionalisme Kita?

Pengalaman Spanyol menunjukkan bahwa sebuah bangsa yang belum merumuskan identitas budaya dan nasionalismenya, akan sulit menghadirkan permainan yang cantik yang mendorongnya untuk mengejar mahkota juara. Bahkan team yang dibentuk seakan kontradiktoris dengan semangat regionalisme yang lagi dibangunnya.

Pengalaman seperti ini menjadi pertanyaan untuk Indonesia. Tidak tampilnya team ‘Merah Putih’ selama hampir empat puluh tahun terakhir menjadi pertanyaan: ada apa dengan nasionalisme kita? Tidak usah jauh-jauh ke piala dunia. Tengok saja Liga Indonesia yang lebih diwarnai adu jotos, ketimbang menghadirkan permainan indah. Hal seperti ini menjadi pertanyaan yang sangat penting untuk dianalisa.

Pertama, permainan kotor adalah ekspresi dari kehidupan kita. KKN masih begitu melekat. Bahkan yang paling dikhawatirkan, rasa malu yang seharusnya menjadi pengendali aksi negatif semakin sirna. Di mana-mana, orang seakan tidak malu untuk meminta ‘sumbangan sukarela’. Di kantor-kantor pemerintah, tak jarang kita merasa geli melihat gelagat ‘abdi negara’ yang meminta ‘upeti’ demi memperlancar kerjanya (kalau tidak, urusannya menjadi berbelit-belit).

Lantas, siapa yang salah? Dalam refleksinya tentang kegagalan Spanyol merumuskan nasionalismenya, penulis José Ortega  dan Gasset meletakkan tanggungjawab itu kepada para pemimpin. Merekalah yang seharusnya menjadi pelopor dalam membangun kembali nasionalisme. Dalam kenyataan, justeru negara ini dijadikan seperti sapi perah bagi para politisi yang ingin memimpin negeri ini.

Kedua, minimnya kerja sama dan solidaritas. Sepak bola sebagai sebuah permainan, hanya akan menuai keberhasilan ketika dibekali oleh kerja sama yang bagus antarsemua pemain. Mereka semua bergerak mengikuti strategi yang telah disusun. Aliran bola benar-benar dibuat secara matang sambil menanti ‘timing’ (waktu yang tepat) untuk disarangkan ke gawang lawan.

Kerja sama seperti ini terwujud dalam kehidupan harian. Sebuah bangsa yang  memiliki nasionalisme, akan sungguh mengutamakan kerja sama. Setiap warga negara mempunyai rasa memiliki negerinya, karena itu ia tidak menanti untuk menikmati sesuatu yang diberikan negerinya, melainkan berusaha memberikan dari dirinya sesuatu untuk negerinya.

Hal seperti ini sangat absen di negeri ini. Indonesia bukan lagi tanah air kita melainkan tanah jarahan orang-orang ‘berduit’. Tidak ada lagi tempat untuk orang miskin. Mereka hanya bisa membangun gubuknya liarnya di tanah ‘milik penguasa’. Air, tidak lagi murah. Sungai-sungai sudah dikotori oleh zat-zat beracun. Indonesia tak bedanya dengan sebuah kapal karam. Semua orang sibuk mengambil (baca: menjarah) sesuatu untuk dirinya. Sementara itu nasib bangsanya digantung dalam ketidakpastian.

Ketiga, negeri tanpa aturan. Sebuah negara disebut memiliki nasionalisme tinggi ketika ia hidup dalam aturan. Semua orang berpatok pada aturan karena mereka yakin bahwa peraturan memiliki arti yang sangat penting. Hal yang sama terjadi dalam sepak bola. Semua pemain akan mengikuti aturan permainan. Hanya dengan demikian ia dapat sukses meraih kemenangan.

Kenyataan ini sangat kontradiktoris. Negeri kita yang sudah ‘direformasi’ masih tertatih-tatih dalam pencarian dirinya. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, yang lebih menonjol adalah tindakan anarkis, main hakim sendiri.

Berharap?

Wajah kelam nasionalisme kita, memunculkan pertanyaan: adakah alasan untuk berharap? Mustahil bertanya demikian karena seakan tidak ada kemajuan berarti. Janji reformasi yang ditampilkan SBY dan YK sebagai pemimpin negeri ini seakan semakin jauh dari kenyataan. Yang dinantikan rakyat adalah kesejahteraan, tetapi yang datang ‘menjenguk’ justeru kenaikkan BBM yang disertai kenaikan  barang-barang secara berantai.

Nada pesimis seperti ini bisa dimengerti. Namun hal itu tidak berarti tidak ada kemajuan. Bahkan bila akhirnya kita akui bersama bahwa memang benar tidak ada kemajuan sama sekali, ada fakta lain yang tidak bisa kita pungkiri yakni harapan. Hal itu bisa kita lihat dalam animo dan euforia dalam Piala Dunia kali ini. Membludaknya orang (bukan hanya laki-laki, tetapi bahkan kaum wanita pun tidak kalah antusiasmenya) menonton Piala Dunia selama sebulan lebih, bukan sekedar kehadiran pasif. Tidak. Lebih dari itu mengimplisitkan kerinduan rakyat untuk menyaksikan permainan yang cantik di negeri sendiri.

Optimisme dan semangat seperti ini tidak boleh disia-siakan dalam membangun nasionalisme kita. Sekurang-kurangnya kita yakin bahwa di balik itu terdapat sebuah harapan agar bangsa kita cepat atau lambat perlu menemukan identitas kulturalnya. Bila kita sudah temukan, maka dengan cepat kita akan menemukan nasionalisme kita. Tetapi hal itu perlu kita mulai dari diri kita dan sekarang juga.

Robert Bala.

Pengamat Masalah Sosial. Alumnus Universidad Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid-Spanyol. Sumber: Batam Pos 14 Juli 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s