Menjadi Manusia

MENJADI MANUSIA

(Bagian Terakhir dari dua Tulisan)

Batam Pos 24 Desember 2006

Perayaan Natal, yang selalu jatuh pada akhir tahun, tentu bukan sekedar kebetulan. Ia hadir dalam sebuah gambaran yang sangat mendasar dimana Allah yang ‘nun jauh di sana’ hadir di tengah manusia sebagai seorang manusia. Karenanya, ia perlu menjadi menjadi momen introspektif, melihat apa yang sudah dibuat Allah sambil mengevaluasi sejauh mana manusia memberikan jawaban atasNya. Namun, apa yang menjadi dasar evaluasi? Kriteria mana yang perlu digunakan?

Humanisasi

Natal sama sekali tidak bermakna ketika sekedar diletakkan pada perayaan HUT Yesus Kristus yang perlu diekspresikan secara murah-meriah. Kue-kue natal, pohon natal, nyanyian natal, yang begitu dipersiapkan, bakal kehilangan maknanya ketika semuanya hanya tertuju untuk ‘menyembah’ Sang Bayi, Yesus Kristus yang baru lahir. Kalau terjadi demikian, telah terjadi pereduksian makna karena sentral perhatian hanya kepada pribadi Yesus dan kelahiranNya (hominisasi Yesus), tetapi melupakan humanisasi kita.

Terhadap pemahaman seperti ini, perlu disadari, peristiwa Natal sebenarnya mengungkapkan sebuah rahasia yang sangat dalam. Di sana, Allah hadir dalam sejarah manusia. Ia tidak hanya bersabda, berfirman demi membaharui dari kejauhan, tetapi hadir dan  mengambil bagian dalam kehidupan manusia. Ia menjadi manusia, hadir di tengah kita, dan memberikan contoh tentang sebuah kehidupan yang lebih manusiawi. Ia memberi jalan, menunjukkan kebenaran dan menunjukkan kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, sasaran akhir dari tindakan Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus adalah ‘pengilahian manusia’. Dengan kata lain, Allah menjadi manusia (lahir dalam diri Yesus Kristus) agar manusia menjadi ilahi (menjadi anak Allah).

Pemahaman seperti ini sekaligus menjadi kritik terhadap praksis keagamaan yang terkadang abstrak dan terlalu melangit. Di sana semua orang berbicara tentang Allah (apalagi ‘demi nama Allah’) tetapi tidak dipahami. Lebih lagi ketika ‘pengatasnamaan’ itu justeru bertentangan dengan kerinduan manusia saat ini. Perdamaian, kehidupan yang aman, kesejahteraan untuk semua yang menjadi harapan, tak jarang diingkari sambil memberi tempat terhadap benci, balas dendam, dan aneka aksi kekerasan lainnya. Kalau demikian, humanisasi sebagaimana menjadi inti Natal kehilangan maknanya. Yang terjadi justeru, manusia menjadi serigala bagi yang lainnya yang saling mencabik dan mencampakkan.

Humanisasi seperti ini tidak terjadi secara statis dan baku. Sebaliknya, ia melalui aneka proses. Darinya, perubahan sedikit demi sedikit, usaha tanpa pamrih, dan konsistensi dalam perjuangan menjadi elemen yang sangat penting. Malah dalam proses seperti ini, tantangan, bahkan kegagalan tak jarang hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan yang perlu dihadapi. Itu berarti agama tidak bisa tidak perlu beralih dari sekedar rangkaian sejumlah ritus atau tafsiran dari ahli agama yang tentu saja berguna tetapi adalah lebih baik ketika hadir sebagai sebuah komitmen dalam diri manusia. Hal itu berkaitan langsung dengan usaha setiap orang untuk menjadikan bumi, ciptaan Allah di atasnya kita berada semakin menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni. Bahkan secara berani kita dapat mengatakan bahwa Allah menjadi manusia agar Surga yang dijanjikan sekarang ini juga terjadi di muka bumi ini.

Manusia baru

Bagaimana ciri manusia baru sebagaimana dicita-citakan Natal? Pertama, manusia yang mencari Allah dalam kehidupan nyata. Cita-cita tentang kehidupan Surga, tidak sekedar sebuah tatapan ke langit yang tak jarang hanya memberikan kekosongan dan kehampaan. Sebaliknya, perlu menukik ke keberanian untuk memandang realitas, menatap kenyataan hidup, dan memberi jawaban.

Kenyataan tak jarang berbicara lain. Keengganan melihat, malah fenomen kebutaan telah hadir sebagai sebuah ancaman. Penderitaan sesama tak jarang tidak dihiraukan, sambil secara ‘membabi buta’ mengumpulkan kekayaan, dengan cara-cara yang terkadang tak halal. Akibatnya, sesama tidak lagi dilihat sebagai pribadi, melainkan sekedar alat, sarana, yang bisa dimanipulasi demi kepuasan egoistik semata.

Kedua, kepekaan rasa untuk secara empatis menempatkan diri pada posisi mereka yang tidak beruntung. Perasaan seperti inilah yang sesungguhnya membedakan manusia dari kelompok binatang lainnya yang hanya sekedar memiliki insting.

Namun apa yang terjadi? Rasa sebagai instansi pembeda sekaligus pengendali aneka tindakan, tak jarang membatu. Realitas yang dilihat tidak menyapa. Rasa bersalah, rasa malu semakin menjauh. Aksi kekerasan, tindakan koruptif terlampau dianggap biasa dan lumrah. Inilah sebuah kenyataan yang mencemaskan generasi ini: hilangnya rasa malu. Kalau hal seperti ini terus terjadi, manusia akan direduksikan kepada elemen fisik belaka yang tidak sama sekali bedanya dengan binatang lain. Di sana kekerasan terjadi, manipulasi dihalalkan, karena akal budi dan rasa telah kehilangan tempatnya.

Ketiga, manusia yang bertindak. Wacana pembaharuan, reformasi, atau apa pun namanya, begitu kerap terucap. Semua orang berbicara. Tetapi mengapa pembaharuan itu tidak kunjung datang? Mengapa manusia baru yang diharapkan tidak terwujud? Bukan mustahil kalau semuanya berawal dari ketidaaan komitmen untuk bertindak. Malah: Great talkers are little doers. Orang yang berbicara banyak (barangkali juga yang banyak menulis), tidak memulainya dengan tindakan nyata. Akhirnya, pembaharuan itu tertunda.

Kenyataan seperti ini berbeda dengan inspirasi Natal. Pembaharuan dunia yang lebih manusiawi, tidak dilaksanakan dengan janji yang melibatkan orang lain, melainkan keterlibatan langsung. Allah menjadi manusia, lahir sebagai bayi untuk menjadi orang pertama yang memberi contoh tentang kehidupan yang semestinya dilakukan. Ia pun tidak mengorbankan orang lain, demi keuntungan egois, melainkan mengorbankan nyawaNya untuk sahabat-sahabatNya. Sungguuh sebuah contoh yang mestinya diteladani saat bangsa ini lebih didominasi oleh orang yang hendak mencari keuntungan pribadi di atas sakrifikasi sesama. Kalau demikian, Natal sama sekali tidak bermakna.

Sebaliknya dibutuhkan komitmen untuk memulainya sekarang, di sini dan kini, dan mulai dari diri sendiri. Pembaharuan yang paripurna, semestinya dimulai dari diri, berawal dari rumah karena: Charity begins at home. Kasih berawal dari rumah. Kalau demikian, kita tengah mengarah kepada perayaan Natal yang sebenarnya. Selamat Pesta Natal untuk semuanya di Kepulauan Riauku terkasih, Batamku tercinta.

Robert Bala, M.A. Institut Cervantes, Universitas Trisakti Jakarta. Sumber: Batam Pos, 24 Desember 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s