Perang dan Nasib Rumah Kita


PERANG DAN NASIB ‘RUMAH KITA’

Batam Pos 6 Agustus 2006. TRAGEDI semakin kerap terjadi. Dalam dua bulan terakhir, bencana alam begitu dekat dengan kita. Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi bulan-bulanan gempa. Tsunami juga melanda wilayah Selatan Pulau Jawa. Bukan hanya bencana alam. Tragedi kemanusiaan rancangan manusia pun tak kurang. Semenjak medio Juli, Hezbollah menjadi bulan-bulanan Israel. Korban harta benda dan jiwa bergeletakan. Meski nun jauh di sana, tetapi kita semua senasib.

Kenyataan ini, suka atau tidak, memaksa kita untuk mengadakan refleksi dan evaluasi terhadap nasib bumi, yang adalah ‘rumah kita’ bersama.  Apakah ia masih layak dihuni? Tindakan mana yang perlu kita lakukan?

Rumah Roboh

Bagi orang Yunani, bumi disebut ‘oikos’ yang artinya rumah bersama. Di dalamnya, semua orang dari bangsa, agama, suku, warna kulit, golongan berbeda, ada dan hidup bersama-sama. Tak hanya itu. Binatang dan tumbuh-tumbuhan hadir untuk membentuk satu ekosistem yang saling mengandaikan. Dalam jaringan ini, manusia memainkan peran yang sangat penting. Melalui kejelian akal, kebesaran nurani, dan kebijakan budinya, diharapkan manusia dapat menjaga keseimbangan alam.

Alam misalnya tidak bakal diperlakukan semena-mena demi kepuasan segelintir orang. Ia perlu menjadi tempat bagi semua orang. Untuk itu maka: nilai, prinsip, makna atau dalam bahasa Yunani disebut logos diberi prioritas.  Keduanya,  ‘oikos’ dan ‘logos’ bersinerji membentuk kata penuh makna: ekologi  yang dapat kita artikan sebagai rumah yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam bahasa Leonardo Boff (Ecologia como nuevo espacio de lo sagrado:1996) ekologi diartikan sebagai relasi dan dialog antara semua makhluk hidup karena semuanya terkait dalam sebuah jaringan ekosistem. Atau menurut pendekar ekologi, St. Fransiskus dari Asisi, matahari, bumi, bulan, hutan, kayu, air, api dianggap saudara. Semuanya membentuk persaudaraan sejagat.

Namun, apa yang terjadi dalam kenyataan? Manusia ternyata menciptakan ‘aturan main’nya (atau ‘nomos’ dalam bahasa Yunani) sendiri, hal mana ditulis Sáez Ortega. Dalam artikelnya “ecología”, Diccionario de Pensamiento Contemporáneo (Madrid: San Pablo, 1997), teolog Spanyol itu menandaskan bahwa  nilai yang luhur dan kehidupan yang bermakna, telah dibelokkan kepada sekedar aturan (ekonomi). Di sana kemajuan tidak lagi inklusif melainkan eksklusif. Ia menguntungan segelintir orang, sambil mendepak mayoritas kepada kemelaratan.

Fenomen seperti itu sangat nyata dalam perang yang lagi menghangat di Timur Tengah. Serangan Israel ke wilayah yang diasumsikan menjadi basis Hezbollah, dan dengan tujuan membebaskan dua tentaranya yang ditawan, bukan sekedar konflik biasa. Siapapun, apalagi AS, tak mungkin sekedar membuang sial mengeluarkan perbendaharaan persenjataannya hanya sekedar membantu ‘konconya’ Israel. Dunia pun tidak bakal cepat percaya (karena sudah terjadi dalam pengalaman) bahwa yang hendak dicari adalah persembunyian para teroris. Tidak. Bidikan kekuasaan dan incaran kekayaan ekonomis merupakan imingan yang meski tak nyata, tetapi itulah yang dipertaruhkan.

Kenyatan seperti ini menjadikan dunia yang kita sebut rumah kita, tidak lagi nyaman untuk dihuni bersama. Apalagi disertai sikap arogan sang adikuasa untuk menjadi satu-satunya kepala rumah tangga, polisi dunia. Semua yang lain diharapkan menjadi penurut. Sebab, tidak mengakui berarti melawan. Dan hal itu bakal masuk dalam ‘pengawasan’.

Minus Malum

Apa yang perlu kita perbuat dalam kondisi  bumi seperti ini? Melihat rentetan bencana alam maupun perang serta aneka kekerasan lainnya, menunjukkan bahwa bumi tidak lagi menjadi rumah bagi kita semua.  Akumulasi egosentrisme penuh keserakahan selama berabad-abad (apalagi kini) yang apatis mempertahankan keseimbangan ekosistem, belum lagi rancangan tahu dan mau mendestruksi bumi melalui perang telah menghadirkan wajah bumi kita yang memar.

Lalu, apakah kita hanya membiarkan diri ‘dihujani’ bencana dan menerima nasib? Tanpa perlu masuk dalam jaringan kekerasan, apalagi yang disuluti oleh emosi, masih ada peluang yang lebih kreatif dan konstruktif.

Pertama, terhadap bahaya yang pasti datang (melalui bencana alam maupun ancaman perang) manusia masih punya kemungkinan untuk meminimalisirnya melalui perubahan tingkah laku. Sikap yang lebih ramah lingkungan, solider dengan sesama, cinta kasih dan persaudaraan, meski tidak membatalkan bencana alam, tetapi dapat mengelak keburukan yang lebih besar. Prinsip ini dalam dunia etika disebut dengan ‘minus malum’. Perubahan tingkah laku yang secara sadar dapat menjadi sebuah pilihan karena kita berusaha memilih keburukan yang paling kecil.

Sebagai sebuah prinsip etika, hal ini tidak terbatas pada tindakan yang secara kasat mata merugikan ekosistem. Ia mengacu lebih dalam kepada perubahan pola hidup. Kehidupan yang konsumeristik, glamour, penuh kemewahan, telah menjadi ‘lahan subur’ bagi pengrusakkan alam. Dunia bakal membutuhkan semakin banyak minyak dan gas.  Di sana perang yang katanya mematahkan rantai kejatahan dijadikan alasannya. Padahal, di baliknya tersembunyi keserakahan menguasai sumber-sumber minyak dan gas. Untuk itu, pola hidup yang lebih sederhana, solider, meski kecil rasanya, tetapi ketika dilaksanakan penuh komitmen dalam kebersamaan, bakal mengelakkan keburukan yang lebih besar.

Kedua, menciptakan dunia yang lebih aman, damai, dan tenteram. Upaya seperti ini bisa tercapai ketika manusia merasa bahwa alam sudah terlampau sadis mendatangkan bencana. Kita tidak perlu lagi menambahnya dengan kekerasan baru ‘made in’ kita. Konflik antaretnis, antarbudaya, dan apalagi antaragama disadari sebagai sebuah kesia-siaan. Sebaliknya, diperlukan usaha membuka ladang subur untuk dapat berseminya cinta kasih dan persaudaraan sebagai benih yang bakal berkembang hingga menghasilkan buah-buah perdamaian.

Harapan seperti ini kian kuat saat perang di Timur Tengah yang melibatkan Hezbollah dan (terutama) Israel, lagi berkecamuk. Di sana, terlihat jelas bahwa manusia masih tersekat dalam napsu ekonomi dan kekuasaan sambil secara sadar menciptakan bencana bagi dunia. Kenaikkan harga minyak yang bakal disertai kenaikkan berantai harga kebutuhan pokok, semakin banyaknya kamp-kamp pengunsian, belum terhitung menjalarnya penyakit merupakan bencana baru yang nota bene lebih kejam dari bencana alam.

Bagi kita yang hidup di daerah gempa, tsunami, banjir bandang, dan kekerasan seperti Indonesia kita ini,  terajak untuk melerai aneka konflik  buatan dan kekerasan dadakan. Kejahatan ganti kejahatan, mata ganti mata, emosi dilawan emosi hanya akan memperpanjang jalan derita kita. Sebaliknya, kita perlu lebih pro-aktif membangun jaringan perdamaian melalui penciptaan kesejahteraan untuk semua. Korupsi, bisnis ilegal (seperti penjualan senjata), pencurian, penodongan, pemerasan, pemerkosaan, sekedar menyebut beberapa contoh, perlu kita perangi secara bersama-sama. Atau kalau dalam dunia internasional, kita tidak bisa berbuat banyak, sekurang-kurangnya kita tidak menggali lobang untuk menjerumuskan saudara kita sendiri.

Untuk hal ini, perubahan tidak lagi menunggu diskusi untuk mencapai kata sepakat. Tidak. Situasi bumi kita sudah tidak menanti lagi kompromi. Yang ditunggu adalah komitmen untuk menjadikan hari ini (dan bukan besok) sebagai langkah awal perubahan tata tindak dan perilaku. Hanya dengan demikian, bumi, rumah kita yang dalam keadaan roboh, tidak menjadi semakin seram hanya karena kecerobohan kita.

Robert Bala. Pemerhati Ekologi dan Peminat Teologi Ekologi. Batam Pos 6 Agustus 2006

:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s