(1) Investasi Bodong?

Investasi Bodong

“Where is my money”, (di manakah uang saya), demikian sebuah karikatur mengungkapkan pertanyaan dan kegalauan orang yang sudah terlanjur termakan oleh keinginan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat. Nyatanya, uang itu raib tanpa diketahui di manakah rimbanya.

Awalnya, keinginan itu hadir bersamaan dengan ‘tawaran’ menggiurkan dari ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengaku bisa memuaskan dahaga itu. Janji ‘bunga’ di atas 10 persen. Hasilnya sebenarnya tidak mengecewakan. Dalam waktu 10 bulan, simpanannya itu bisa dikembalikan, dan memang terbukti seperti itu.

Tetapi apakah hal itu bisa dipertanggungjawabkan? Lebih dari itu, mengapa usaha simpan dengan bunga tinggi itu bisa ‘exist’ dan bisa bertahan berapa lama? Mengapa awalnya ia bisa berjalan lancar dan mengapa pada akhirnya nasib sial terpaksa dialami dan dana itu pergi tanpa bisa dituntut kembali? Inilah pertanyaan menggelitik yang mestinya menjadi pertimbangan saat mulai masuk dalam sebuah proses yang nota bene akhirnya tidak bisa diprediksi.INVESTARI BODONGTerhipnotis

Kisah terkuaknya investasi bodong kian kerap terjadi. Tercatatat kini di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa hampir ada 40 ‘perusahaan’ yang tengah diawasi. Kasus pun mulai kian terjadi. Kasus terakhir adalah CV Indotronik yang menipu nasabah hingga Rp 4,6 triliun (Metro News 28/8).

Mestinya sejak awal sudah bisa dipertanyakan tentang sumber dana darinya sang pemilik dapat membayar bunga yang nota bene sangat tinggi. Dengan kata lain, si nasabah tidak sekedar ‘terninabobo’ dan tergiur untuk memperoleh bunga. “Yang penting dapat untung. Lebih dari itu, bukan urusan saya, apalagi saya sudah merasakan manfaatnya”, begitu ungkapan yang kerap terdengar sebagai kesaksian dari orang yang sudah menjadi nasabah pada ‘usaha’ itu.

Dalam kasus dengan CV Indotronik misalnya, sebuah pertanyaan sederhana saja mestinya masuk dalam pertimbangan. Kalau simpanan mencapai Rp 4,6 triliun maka perusahaan itu harus membayar 460 miliar setiap bulan kepada nasabah atau setahun harus menyediakan dana sekitar 5 triulan lebih. Itu berarti dalam setahun saja ia harus mengeluarkan uang sebanyak tabungan itu sebagai bunga. Logikanya, usaha mana pun di dunia ini tidak akan bertahan kalau dia bekerja hanya untuk menyediakan bunga. Nihil.

Atau dalam ukuran lebih kecil kita bisa ajukan untuk level kita di Flores. Sebut saja kota kecil seperti Larantuka. Misalkan saja terkumpul tabungan sebesar Rp 100 miliar (bahkan lebih), maka setiap bulan harus disediakan minimal dana sebesar Rp 10 miliar setiap bulan. Dari mana diperoleh dana ‘segitu’ besar? Adakah usaha yang begitu produktif di daerah kita (tanpa menganggap rendah potensi daerah kita) untuk bisa ‘didermakan’ untuk para penabungnya?

Jawabannya (kalau kita masih cukup memiliki akal sehat sedikit saja) tentu saja belum ada. Lantas pikiran lain biasanya cepat diajukan sebagai jawabannya. Dengan mudah orang memerdayai dengan mengatakan sumber dananya dari luar negeri, entah Korea atau Swiss. Tapi, sebegitu murahkan orang itu sehingga rela memberikan (dengan sia-sia) uangnya untuk diberikan begigtu saja apalagi dengan label orang miskin.

Lebih tidak masuk akal lagi kalau dana yang dari luar itu katanya untuk memberdayakan masyarakat. Pertanyaannya: di manakah pemberdayaan? Hal itu masih bisa dimengerti kalau terdapat kredit kepada nasabah untuk kemudian dialokasikan untuk kegiatan pemberdayaan. Yang ada justru uang itu ‘disimpan’ dengan harapan untuk berbunga. Sebuah alasan yang kalau dipikir perlahan, mestinya membuat kita bertanya dan mempertanyakan.

Saling ‘memakan’?

Tetapi, mengapa mereka bisa bertahan? Dari manakah sumber dananya? Jawabannya yang paling logis adalah kian bertambahnya simpanan anggota. Hal itu dimungkinkan karena nasabah lama selalu memberikan kesaksian positif dan memang itu benar karena lahir dari kesaksian mereka. Dana mereka dengan mudah dikembalikan berkat masuknya nasabah baru.

Mengapa? Karena itulah sumber satu-satunya (mengingat usaha produktif mana pun tidak akan mencapai keuntungan begitu fantastis). Jelas, yang terjadi adalah proses ‘gali lubang tutup lubang’. Nasabah lama ‘menggali lubang’ itu. Mereka juga diuntungkan. Setelahnya nasabah baru akan ‘menutup lubang’, dan seterusnya prose situ berjalan dan dianggap lumrah. Korban juga tak terkecuali pegawai negeri yang demi memenuhi kebutuhan, mereka meminjam di bank lalu menyimpannya di lembaga seperti itu dengan impian mendapatkan keuntungan yang besar.

Di sana sebuah proses tak sadar tengah dilaksanakan. Bukan saja lembaga keuangan yang ‘makan’ uang nasabah tetapi antar nasabah sendiri ‘saling memakan’. Nasabah lama memakan yang baru dan seterusnya. Atau insting nasabah lama pun kian tak terkontrol, dan semakin menyimpan lagi yang sudah didapatkan yang katanya sudah ‘kembali pokok’ itu.

Sayangnya hal itu kerap tidak disadari. Apalagi upaya itu dilakukan secara anonim dan ‘malas tau’. Artinya, yang terpenting uang saya mendapatkan bunganya, yang lainnya ‘pusing amat’. Tetapi tidak disadari bahwa pandangan itu justru menciptakan kejanggalan yang tentu saja berakhir tragis seperti sudah banyak terjadi.

Ke(tidak)sadaran ini sudah secara jelas diungkapkan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Syarifudin Hassan. Baginya, sebagai penanggungjawab dari 192.450 koperasi di Indonesia yang nota bene sebagian besarnya adalah koperasi simpan pinjam, dengan tegas ditekankan bahwa mustahil sebuah koperasi dapat memberikan bunga begitu besar.

Di sela menghadiri Pamteran Gelar Karya Pemberdayaan masyarakat (GKPM) di Hall B Jakarta Convention Centre, Kamis 29 Juni 2012, ia meminta: “Tolong disampaikan kepada masyarakat kalau ada lembaga koperasi apa pun menjanjikan returnnya (pengembalian modal) di atas 5,5 %(apalagi 10%), itu pasti penipuan”.

Tenang Menghanyutkan?

 Saat menyusun artikel ini, penulis secara kebetulan berada di Larantuka, ‘nagi tana’. Di taman kota berhadapan dengan ‘bale gelekat lewo tanah’, saya duduk membisu sambil menatap selat antara Adonara dan Larantuka Flores.

Selat Gonzales itu begitu tenang dan damai. Saya seakan merasa berada di sebuah danau yang tidak pernah mengenal gelombang. Padahal, itulah sebuah selat yang dalam logat nagi disebut selat “Gonzalo”. Sungguh tenang dan damai.

Tetapi, tahukan orang nagi (pasti tahu lah) bahwa selat yang diam itu ternyata menghanyutkan? Sudah berapa korbankah yang ‘ditelan’ oleh selat yang tampak begitu tenang itu? Pikiran lagu menganalogkan dengan kepercayaan masyarakat pada LKF Mitra Tiara yang kini sangat digandrungi tidak hanya masyarakat dari Flotim, tetapi juga dari Lembata dan Sikka. Saya coba menghibur diri bahwa bisa jadi LKF ini berbeda dengan yang lain. Ia bisa bertahan beberapa tahun dan ia bukan tipe seperti CV Indotronik.

Tetapi mencermati mekanisme kerjanya yang nyaris ada perbedaannya dengan yang sudah ‘terjungkal’, maka rasanya kewaspadaan itu perlu ditingkatkan. Artinya, rasa tenang dan aman setenang selat Gonzales itu perlu diwaspadai. Ia tenang tetapi menghayutkan. Juga orang nagi yang nota bene kota rohani itu mesti melibatkan akal cerdas dalam ‘berbisnis’. Bisnis tidak bisa disamakan dengan iman yang percaya buta. Iman justru akan lebih bermakna ketika diimbangi oleh akal budi.  **

Sumber Flores Bangkit 01 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s