10. Mudik (Liburan) Produktif

10. Mudik (Liburan) Produktif

Kompas Rabu 22 Juli 2015 cukup menarik. Di halaman depan, Kompas menampilkan judul yang mengindikasikan pentingnya pemberitaan: “Peguyuban Perantau Membangun Sekolah di Daerah”.

YBAI LEREK5Tulisan ini tentu tidak sekedar ditampilkan demi memberi motivasi bahwa kegiatan mudik (yang tahun ini bertepatan dengan liburan sekolah) tidak bersifat konsumtif belaka. Ia perlu menjadi sebuah kegiatan produktif.

Apa yang mesti dipikirkan demi menjadikan liburan benar-benar menjadi sebuah kegiatan produktif?

Media Sosial

Sejalan dengan pemikiran Kompas, ide Pelatihan Guru yang dilakukan di Lerek dalam rangka 50 Tahun SMP Lerek pada tanggal 2 – 3 Juli 2015 bisa menjadi sisi menarik.YBAI LEREK 17

Ide ini bisa disebut ‘agak aneh’. Biasanya perayaan emas terbatas pada acara ibadah dan kemudian disertai acara temu kangen. Tidak lebih dari itu. Emosi para alumni digerakkan untuk sebuah kegiatan meski tidak lebih dari sebuah acara ‘duduk-duduk bersama’.

Yang dilakukan di Lerek, keluar dari skema umum. Sejak setahun sebelumnya, ide para alumni dikumpulkan. Berkat media sosial khususnya Facebook, para alumni digerakkan untuk dapat memberikan pikiran dan pendapat tentang program ideal yang bisa dibuat.

Pemikiran lepas kemudian dibahas oleh tim inti. Dari pengalaman Pesta Emas SMP Lerek, tim Jakarta menjadi salah satu ujung tombak. Dengan kekompakan yang dibangun di ‘pusat’, kemudian dikembangkan menjadi koordinator di tiap wilayah berbeda.EMAS LEREK 29

Proses persiapan akhirnya kian meruncing. Dari sekian banyak koordinator wilayah, ada tiga kepantiaan yang menjadi juru kunci. Selain tim Jakarta yang menjadi ‘penggagas dan coordinator umum’, ada coordinator wilayah Lewoleba.

Kehadiran koordinator ini sangat penting karena mereka dapat menjembani komunikasi antara Jakarta dan ‘kampung’. Dengan kemudahan komunikasi yang dimiliki, mereka dapat menjadi penghubung.

Panitia lainnya yang sangat penting adalah ‘tuan rumah’. Peran mereka tentu saja sangat penting tetapi oleh suasana ‘desa’ atau lebih tepat ‘kampung’, maka kadang apa yang dimaksud dari luar tidak mudah diserap. Di sini peran Panitia penghubung yakni ‘kota Lewoleba’ menjadi sangat penting.

Melalu kehadiran media sosial seperti ini sebuah proses penggodokan kegiatan dapat berjalan. Kendala dalam hal ini tentu saja ada tetapi sejauh bisa dikomunikasikan maka dapat terselesaikan dengan baik.

Disain Kegiatan

Dengan pola komunikasi di atas, pada tanggal 2 – 3 Juli telah dilaksanakan Pelatihan Guru tingkat Kecamatan Atadei yang bertempat di Lerek. Secara koordinatif, kegiatan ini melewati beberapa proses persiapan yang melibatkan pemerintah daerah setempat.

Komunikasi dengan Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) menjadi faktor kunci. Disain sertifikat dan materi kegiatan misalnya selalu dikomunikasikan sehingga menyentuh kebutuhan lokal. Komunikasi seperti ini juga menjadi penting karena ‘tuan rumah’ tetap Dinas Pendidikan.

Pada level kecamatan komunikasi juga dijalin dengan Camat dan Kepala UPTD Pendidikan tingkat kecamatan. Dengan itu para guru dapat digerakkan untuk hadir dalam kegiatan itu selain karena materi yang disajikan tetapi oleh jaminan bahwa setiap peserta akan mendapatkan sertifikat sebagai peserta.

Pola pelaksanaan kegiatan dimaksud tentu berada pada jalur implementasi. Itu berarti disain materi kegiatan, narasumber, dan mekanisme kegiatan perlu digagas. Ini menjadi bagian inti yang butuh analisis mendalam.

Dari pengalaman kegiatan pelatihan di Lerek, tim inti menggagasnya dalam pertemuan bulanan. Pelbagai lobby dilaksanakan termasuk mendekati beberapa pihak yang bisa memberikan kontribusi pemikiran tentang efektivitas kegiatan.

Setelah proses persiapan dan diskusi yang alot, akhirnya tim inti (yang terdiri dari   7 orang dan bisa disebut ‘tim tujuh) akhirnya disepakati bahwa kegiatan dapat dibagi dalam dua bagian. Pada bagian awal motivasi guru dengan menampilkan materi tentang pembelajaran mengikuti kemauan otak.

Materi ini tidak dianggap sederhana karena merupakan hasil penelitian salah seorang narasumber yang telah memenangkan lomba guru dan dosen tingkat nasional. Materi lainnya adalah bimbingan tentang menulis.

Model yang ditampilkan dalam penulisan pun tidak dianggap sederhana. Panitia telah menggogok sebuah buku yang berasal dari kisah-kisah lokal. Buku “Lame Lusi Lako” misalnya merupakan karya yang luar biasa karena dengan pengalaman kisah dan dongeng serta kisah lisan (tutu mari), penulis yang juga anggota tim tujuh menggagasnya menjadi sebuah materi pelatihan.

Pola seperti ini dianggap menjadi sebuah hal positif. Guru disadarkan bahwa padanya sudah ada materi untuk ditulis. Kisah setempat penuh kebijaksanaan yang bisa diangkat. Yang dibutuhkan adalah bagaimana mengonversi kisah seperti itu menjadi sebuah tulisan ilmiah.

Untuk mengisi bagian ini, para saat pelatihan ditampilkan dua orang ahli yang juga adalah putera daerah. Dengan manfaat libur, mereka berksempatan berbagi pengalaman dengan para guru. Jadilah kegiatan pelatihan yang berlangsung sehari penuh dan pada pagi harinya dibuka oleh Bupati Lembata Yantji Sunur menjadi sebuah kegiatan bermanfaat dan menjadikan liburan (yang sekaligus mudik Juli 2015) sungguh produktif.

Produktivitas yang dimaksud dalam kegiatan ini tentu tidak bisa dipahami sekedar ‘menghasilkan sesuatu’ tetapi lebih pada menyalakan api. Para guru yang disentuh hatinya melalui pelatihan, diharapkan dapat menjadikan momen inspirasi untuk menggerakan motivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Sumber Flores Bangkit 25 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s