(2) “Lembaga Kredit” Tanpa Kredit (1)

“Lembaga Kredit” Tanpa Kredit

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Flores Bangkit edisi 30/9 menurunkan berita yang barangkali tidak pernah dibayangkan oleh ratusan malah ribuan nasabah di LKF (Lembaga Kredit Finansial) Mitra Tiara Larantuka. Judulnya menggoda: Ratusan Nasabah Datangi Kantor Mitra Tiara.

Terhadap hal ini, penulis sudah mengangkatnya dalam artikel opini di Flores Bangkit dengan judul: Investasi Bodong (1/9) sebuah tulisan yang sebenarnya sudah disiapkan hampir sebulan. Kini yang ditakutkan itu seakan terjadi. Dengan berbagai alasan bahwa dalam proses ‘pembenahan administrasi’ (selama ini pembukuan dibuat secara manual untuk dana miliaran rupiah) dan penurunan suku bunga. Tetapi logiskan itu?

Kini kenyataan terjadi. Bagaimana memahami proses ini? Apakah sesudah  dibenahi administrasi, LKF Mitra Tiara masih akan terus bekerja? Ataukah ini hanyalah ungkapan pelembut dari hal yang lebih menakutkan yakni: tidak mampu lagi menahan tuntutan bunga yang begitu besar karena tidak didukung oleh sumber dana?

Ikut Arus?

 

Ketertarikan mendalami lembaga yang memberikan bunga deposito begitu fantastis itu semakin tinggi. Minimal karena saat mendapatkan kisah itu, banyak orang memberikan kesaksian positif.

Seseorang (sebut saja Dian), bertutur:  “Dua tahun lalu tetangga saya biasa-biasa saja. Waktu itu kami nasihatkan untuk tidak boleh ikut karena ada kasus Koperasi Langit Biru (KLB) milik Jaya Komara di Cikasungka Banten. Tetapi buktinya, kini mereka sudah mendulang sukses”.

Siapa pun yang  meski ‘teguh imannya’, ketika kesaksian itu tentu berupa pikiran. Upaya lanjut pun dilakukan oleh tidak sedikit orang, tidak hanya di Flotim, tetapi juga di Lembata dan Sikka, untuk ikut, meski ada kesan terlambat. Dalam sekejab, kesaksian dari mulut ke mulut telah mengumpulkan jutaan malah miliaran dan bisa mencapai triliunan rupiah.

Tak heran, orang beramai-ramai menyimpan uangnya. Ada yang 1, 5, 10, hingga 50 juta, malah 200an juta. Mengapa begitu besar simpanan pada lembaga keuangan non bank yang umurnya masih ‘balita’ itu? Jawabannya jelas. Mereka tergiur bunga sebesar 10 %.  Orang (termasuk tidak sedikit pegawai negeri), lantas  meminjam dari bank dan mendepositokannya di LKF Mitra Tiara.

Saya pun mulai mengalkulasi. Dengan simpanan Rp 50 juta maka tiap bulan, tanpa kerja, mereka ‘memanen’ Rp 5 juta. Hanya dalam 10 bulan simpanan itu telah beranak pinak dan sudah ‘kembali poko po’ (dalam logat nagi kental). Bayangkan kalau simpanan 100 atau di atasnya. Sayapun iku kagum karena dana simpanan itu bisa diambil kapan saja dan sudah terbukti.

Saya pun berandai. Kalau seluruh deposito itu berkisar 100 miliar, maka persediaan untuk membayar ‘bunga riil’ per bulan adalah Rp 10 miliar rupiah. Angka persediaan bunga itu pun harus bisa mencapai 100 miliar kalau deposito sudah berkisar Rp 1 Triliun rupiah.

Jelas, tidak ada alasan pun yang bisa menjelaskan kelogisan penyediaan dana sebanyak itu. Tetapi rupanya hal itu berada di luar ‘jangkauan’ nasabah. Atau memang hal itu sudah disadari tetapi keterlenaan mendapatkan bunga besar membuat mereka ‘bersiap-siap’ menanggung risiko. “Ya, namanya, simpan uang di ‘lembaga’ seperti ‘itu.’ Risiko terburuk sudah dipikirkan. Kalau gagal, ‘itu sudah suratan. Tetapi kalau berhasil, pasti orang yang tidak ikut seperti saya, akan menyesal”, tutur seseorang yang barusan tiga bulan menjadi nasabah.

Di sini jelas ketaklogisan itu nyaris bisa masuk dalam pertimbangan. Saya pun akhirnya  menyudahi diskusi sambil tidak mempersalahkan LKF Mitra Tiara karena keberadaannya telah turut menyurutkan akal sehat masyarakat. Tetapi bagi yang ikut pun tidak bisa dikategorikan ‘iko aro’ (ikut arus, dalam logat nagi), karena mereka sudah merasakan berkahnya.

(Bagaimana mungkin) Tanpa Kredit?

 

Setelah meninggalkan Larantuka, aneka tanya muncul sebagai permenunangan. Hal yang paling membuat saya terpesona adalah dari mana sumber dana untuk membayar bunga sebegitu fantastis?

Terbayang misalnya kalau uang miliaran itu bisa dipandang mata, maka sebesar kantor LKF Mitra Tiara itu penuhnya (sambil membayangkan gedung LKF di keluarahan Amagarapati yang karena ‘ikut kagum’, malam itu, dalam perjalan pulang dari Weri ke Hotel Tresna, saya pun meminta untuk melihatnya dari dekat.

Atau, dalam pikiran awam, karena harus memenuhi permintaan bunga deposito begitu tinggi, dan andaikan saja  LKF itu punya otoritas   mencetak uang,  maka ia harus butuh puluhan rim HVS untuk mencetak kertas 10 atau 20 ribu rupiah yang setara dengan kemampuan ekonomis harian mayoritas warga Flotim.

Tapi tidak usaah pikir yang rumit. Cukup sedikit saja pikiran kritis yang dikeluarkan dari otak untuk menggugat, sudah tidak ditemukan jawaban. Kalau LKF itu benar lembaga kredit sebagaimana namanya mengindikasikan,  maka sumber deposito mestinya bersandar sebagian besar untuk tidak mengatakan seluruhnya dari pinjaman kredit anggota. Tetapi hal itu sama sekali tidakada. “Lembaga” pemurah itu tidak melanyaninya. Ia adalah “lembaga kredit”, tetapi tanpa kredit.

Tetapi kesangsian itu dengan mudah ditempis karena (katanya), LKF Mitra Tiara telah melebarkan sayapnya dengan membeli tanah di lokasi strategis di Larantuka, dan dalam waktu dekat akan membangun hotel berbintang. Ia juga (katanya, seperti promosi Jaya Komara), punya lokasi peternakan di Tarus Kupang.

Kalau pun isu itu benar, tentu patut disyukuri. Ratusan atau miliaran  deposito itu akan ‘aman’. Tetapi pikiran aneh (maaf atas kemurahan hati LKF Mitra Tiara) muncul. Andaikan saja semuanya sukses, setinggi apa animo turis untuk menempati hotel itu hingga dapat mendatangkan keuntungan puluhan miliar sebulan?  Atau sebegitu untungkah sehingga usaha peternakan (yang tidak tahu tepatnya di mana), bisa mengisi kekurangan daging di negeri ini?

Atau kalau terjadi yang ‘terburuk’, maka seberapah manfaatkah akan diperoleh para nasabah untuk dapat ‘menikmati’ serpihan hotel itu, meski dalam bongkahan bata yang bisa dibawa sebagai kenangan, seperti animo orang membawa pulang bongkahan tembok Berlin yang begitu historis itu? Atau bisa kah nasaba menikmati hasil peternakan yang kebenarannya masih harus diverifikasi?

Pikiran aneh itu terus terngiang. Saya pun membayangkan selat ‘Gonzales, antara Larantuka dan Adonara yang begitu tenang. Ia mewakili keyakinan begitu banyak keluarga yang  begitu tenang dan nyaris tergoyahkan kepercayaannya pada LKF Mitra Tiara. Saya pun tahu, betapa mereka tidak suka kenyamanan mereka diganggu.

Tetapi tahukah mereka bahwa seperti selat “Gonzalo” yang diam-diam itu ternyata sangat membahayakan dan telah begitu banyak nyawa jadi korbannya? Moga-moga ilusi liarku salah dan kelak dikategorikan sebagai penyebar isu sesat karena telah menggeneralisir LKF Mitra Tiara sebagai  investasi bodong.

Tetapi bila ketidaklogisan di atas diuntai panjang, maka dua dinding seakan terpisah. Yang satu ketiadaan logika sebagai penjelas. Yang lainnya, terlampau besarnya ‘iman’ orang pada LKF Mitra Tiara. Barangkali itu efek samping dari kota yang terlanjur menjadi pusat rohani pada Semana Santa. Sebagaimana iman harus mempercayai hal-hal di luar akal sehat, maka hal itu sudah berpengaruh kepada kepercayaan pada investasi bodong.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Pemerhati Masalah Sosial.

Sumber: 4 Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s