(4) Honihama, Menabung Orang

Honihama, Menabung Orang

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Kamis, 10 Oktober 2013, auditorium Pagadaian Jl Kramat no 162 Jakarta, melengkingkan sebuah nama. Nama itu adalah Kelompok Tani Lewowerang (KTL) dari desa Honihama (Towagoetobi) Kecamatan Witahama Adonara.

Kelompok tani yang dinahkodai Kamilus Tupeng, menerima penghargaan ‘Kusala Swadaya’ tingkat nasional, demikian tulis Flores Bangkit 14/10. Sebuah keberhasilan yang tentu telah melewati proses seleksi yang ketat. Bahkan di babak final, ia sukses meminggirkan kelompok Tani dari Bali dan Papua.

Penghargaan itu perlu diperbincangkan bukan karena total hadiah yang diperoleh cukup spektakuler (ukuran Flotim): Rp 25 juta yang tentu saja punya makna yang besar untuk ke 420 anggotanya. Tetapi yang paling penting, nilai di baliknya yang bila ditafsir lebih jauh, melampaui apa yang kini dibuatnya.

Kearifan Lokal

Sistem yang diterapkan oleh pemuda kelahiran 9 Oktober 1964 mestinya tidak dilebih-lebihkan. Ia hanya perwujudan dari ‘local wisdom’ alias kearifan lokal yang membudaya dalam lingkup Lamaholot yakni ‘gemohing’. Di sana masyarakat secara bersama-sama bekerja saling membantu satu sama lain.kamilus-Tupen1

Dalam perspektif gemohing, semua orang terpanggil untuk saling membantu karena sadar, saling ketergantungan merupakan tuntutan alamiah. Meminjam istilah Latin: Hodie mihi, cras tibi yang diartikan hari ini saya, besok engkau, setiap tahu bahwa keberuntungan dan kegagalan hadir secara bergantian. Hari ini bisa dialami seseorang. Besok yang lainnya juga akan tiba giliran. Karena hukumnya wajib untuk saling membantu.

Bedanya, kearifan lokal itu diaktualisir sehingga diterapkan lebih tepat sasar dalam konteks zaman kini. Tupeng mengombinasikannya dengan sistem koperasi kredit. Tetapi lebih dari itu, ia juga memberi makna yang jauh lebih kaya, dalamnya nilai kemanusiaan (bukan uang), diutamakan.

Hal itu jelas dari mekanismenya. Sebagaimana koperasi kredit, terdapat simpanan pokok sebesar Rp 100.000 dan iuan wajib sebesar Rp. 10.000 per bulan. Selanjutnya seorang anggota, setelah memenuhi syarat tertentu diperkenankan meminjam dana sebesar Rp 500 ribu dan selanjutnya dicicil selama empat bulan dan dikenakan bunga sebesar 2 persen.

Yang menarik, pinjaman itu tidak diserahkan dalam dana tunai melainkan dalam bentuk voucher yang selanjutnya akan diberikan kepada anggota yang akan melakukan pekerjaan tertentu. Kepada orang yang ikut gemohing, dihargai Rp 5000 per jam (tenaga kerja biasa) atau Rp 6000 untuk pekerja profesional. Itu berarti dalam sehari, seseroang bisa dihargai Rp 40.000 – 48.000 setelah melakukan maksimal 8 jam kerja sehari.

Pembayaran atas pekerja yang membantu itu tidak diberi dalam bentuk uang tetapi dalam bentuk voucher yang dialokasikan untuk membayar angsuran atas pinjaman sebelumnya. Dengan ini maka setiap orang, entah kaya atau miskin sudah pasti bisa melunaskan kreditnya sejauh ia masih memiliki tenaga untuk berusaha.

Revolusi Upah

Yang dilakukan Tupeng, kelihatan sesuatu yang sangat sederhana. Tetapi tanpa disadari, ia keluar dari kungkungan uang yang sangat meliliti manusia hingga menjadikannya hamba atas uang, dan meletakkan manusia sebagai tuan atas apa pun, termasuk uang itu sendiri.

Pertama, adanya pengakuan akan kesederajatan semua manusia. Semua orang memiliki kemampuan yang sama tanpa adanya perbedaan yang mencolok karena semuanya memiliki tenaga. Selagi ia punya tenaga maka ia sanggup melunaskan cicilannya.

Hal itu tentu berbeda dengan Koperasi Kredit. Di sana tak jarang, kreditur harus ‘banting tulang’ termasuk menjual apa pun asalkan dapat melunaskan pinjaman yang tidak sedikitnya bersifat konsumtif. Dalam KTL, hal itu tidak terjadi karena yang dipinjamkan maupun yang dicicil bukan uang melainkan jasa atas pekerjaan itu.

Kedua, adanya revolusi upah. Secara jelas dirancang sistem pengupahan dengan standar yang cukup tinggi. Bila seseorang bisa bekerja 8 jam sehari maka dalam sebulan dengan 25 hari efektif, maka bisa terkumpul sekitar 200 jam x Rp 5000. Artinya setiap warga di desa bisa dihargai pekerjaanya seniali Rp 1 juta rupiah.

Sementara itu untuk pekerja profesional yang dihargai Rp 6000 per jam bisa memperoleh Rp 1.200 ribu per bulan. Jelas, nominal yang diperoleh cukup mencengangkan dan sekaligus memberikan penghargaan atas setiap kerja apa pun yang dilakukan.

Yang menarik, demikian pengakuan Tupeng, nilai di atas ternyata dibuat sesuai dengan standar gaji ketika seseorang bekerja di luar daerah bahkan di Malaysia. Itu berarti sebuah terobosan yang sangat besar dan mengapa tidak bersifat revolusioner.

Ketiga, valorasi atas pekerjaan akan sekaligus memberikan apresiasi atas pekerjaan di desa. Tak sedikit orang akan mulai berpikir, ternyata apa yang diperoleh di desa tidak beda jauhnya dengan apa yang dicari di kota. Paling kurang warga desa mulai ‘berhitung’. Bila di kota yang didapat juga tidak lebih besar dari itu malah disertai ongkos yang lebih besar karena harus berada jauh dari keluarga, maka nilai yang diperoleh akan menjadi bahan pertimbangan untuk tetap berada di desa.

Bila ditelusuri maka yang dilakukan Tupeng adalah sungguh menabung orang. Hal itu bukan saja menabung jasa dimana dalam perspektif gemohing, apa yang kita tanam dalam tenaga akan terbalas juga dalam tenaga. Lebih dari itu, ia menabung sebuah potensi penyadaran akan kebermaknaan diri.

Harus diakui, selama ini uang telah membuat orang merasa ‘tak berarti’ karena selalu dipaksa untuk menjadi hamba atasnya. Sementara itu KTL memberi makna bahwa ketika semua sejalan untuk menabung potensinya dan keluar dari mekanisme uang, maka diperoleh hal yang lebih dalam. Ada penghargaan diri oleh apa yang dihasilkan dan terutama diberi nilai yang lebih tinggi.

Robert Bala. Mendalami Neo-Sosialisme pada Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Sumber: Flores Bangkit 16 Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s