(5) Honihama, Melawan Kapitalisme

 

Honihama, Melawan “Kapitalisme”

Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Yang dibuat Tupeng, barangkali awalnya tidak terpikir sebagai sebuah revolusi yang mengantarnya mendapatkan pengahargaan secara nasional.  Yang dilakukan hanya hal-hal sederhana. Awalnya memfasilitasi anak dan isteri yang tinggal di kampung untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya dengan mengambil barang pada kios yang selanjutnya akan dibayarkan oleh kaum keluarga di perantuan.capitalism

Ide itu kemudian kian diperbaiki melalui Kelompok Tani Lewowerang (KTL), yang mengakomodasikan budaya gemohing dan tuntutan koperasi kredit. Tanpa disadari, ide kecil itu ternyata memiliki imbas besar karena memupuk sebuah gerakan yang intinya melawan secara tegas kekuatan kapitalisme.

Fiksi Kolektif

Dalam artikelnya: Instrucciones para vencer al capitalismo (Instruksi untuk mengalahkan Kapitalisme), Lucio Urtubia menguak rahasia mengapa uang begitu memengaruhi orang. Baginya, proses itu tercipta tidak terlepas dari kekuatan uang sebagai simbol.

Mengapa? Sesuatu hanya bisa menjadi simbol ketika dua orang atau lebih sepakat untuk memberi makna baru. Selanjutnya ketika semakin banyak orang sepakat tentang hal itu maka kekuatannya pun meningkat. Simbol itu pun akan kian kuat. Seseorang bisa sampai merelakan jiwa dan raganya hanya demi mempertahankan simbol itu.

Hal itulah yang terjadi dengan uang. Semakin banyak orang mengakui nilai sebuah mata uang, maka semakin kuat pula artinya, dan mengapa tidak, memiliki nilai simbolis yang semakin tinggi.

Karena itu, mesti tidak nyata, ia akan terus diburu. Aneka transaksi dalam pasar valuta asing  (valas) merupakan contohnya. Meski tidak tampak secara fisik, tetapi karena ‘saking’ percayanya, maka proses jual veli valas itu begitu menggiurkan. Mereka percaya, simbol itu bisa mendatangkan kekayaan sekejab dapam jumlah yang besar.

Proses ini, oleh Urtubia disebut sebuah fiksi kolektif. Di sana pengakuan kolektif itu semakin memberi bobot simbolis pada uang, hal mana terjadi dalam masyarakat kapitalis. Ia menjadi kian  kuat sebagai sebuah mata uang oleh bertambahnya permintaan. Sekilas bisa saja terpikir, hal itu mestinya diikuti dengan penambahan pencetakan uang sehingga bisa memenuhi kebutuhan.

Tetapi permintaan itu perlu dikelola secara sangat hati-hati. Kelebihan mencetak uang dapat menurunkan nilainya dan menjadikannya bak kertas tanpa makna. Pengalaman Zimbabwe yang mencetak 100 miliar dollar yang hanya setara US$ 300 adalah contoh yang kebablasan.

Efek negatif itu dikelola secara hati-hati hingga akhirnya mengarah kepada upaya mengontrol peredaran uang itu sendiri. Maksudnya, bukan saja agar uang itu tidak ‘berlebihan’, melainkan sengaja ‘didisain’ agar ‘selalu kurang’. Itu berarti secara teoritis mestinya uang itu cukup, tetapi dalam kenyataannya justru berkurang. Di sana hukum permintaan dan penawaran berlaku dimana semakin kurang, harganya akan meningkat.

Lalu di manakah keberadaan uang itu yang secara teoritis semestinya cukup? Tak pelak tidak sedikitnya diletakkan di pasar uang. Uang membeli uang. Pasar saham, valuta asing, dan sebagainya akan menjadi tujuan dari uang tersebut. Hanya sedikit yang dilepaskan untuk kegiatan produktif. Jadinya uang itu mestinya cukup tetapi tidak cukup buat para pemain di pasar bursa.

Nilai Kerja

Jerat kapitaslisme yang mempermainkan uang sambil menjerat lapisan bawah masyarakat mestinya disadari dan pada gilirannya membangun kesadaran bahwa yang bisa dibuat adalah keluar dari jeratan kapitalisme dalamnya uang dijadikan ujung tombaknya.capitallism

Lalu bagaimana keluar dari jeratan itu? Bagi Urtubia, tidak ada pilihan selain kembali ke diri sendiri untuk lebih memaknai pekerjaan apa pun yang tengah dilaksanakan. Di sana ada kesadaran: Labor omnia vincit, alias kerja mengatasi segalanya. Karena itu setiap orang perlu mengeluarkan potensi yang ada padanya untuk bekerja, karena dengan bekerja maka pelbagai kendala dapat diatasi.puisiPrinsip inilah yang dijabarkan secara sangat tepat oleh Tupeng melalui KTL. Ia sadar bahwa potensi diri itu dapat dikapitalisasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kekuatan yang tidak bisa dimiliki orang per orangan melainkan dimiliki semua orang yang pada gilirannya akan menjadi sebuah kekuatan pendobrak yang bisa membantu semua orang di Honihama untuk sejahtera bersama.

Yang menarik, Tupeng dkk menyadarkan sebuah cara berpikir yang barangkali selama ini banyak menjebak orang. Kerja diartikan sebagai sebuah proses untuk mendapatkan uang.  Padahal mestinya tidak demikian. Kerja adalah ekspresi semua daya upaya, melakukan sesuatu dengan konsisten demi membangun diri dan merajut kebersamaan yang selanjutnya bila dilakukan secara bersama-sama diharapkan dapat membangun sebuah masyarakat yang lebih baik.

Sistem inilah yang dipahami secara sangat tepat dan dikawinkan secara sangat mantap melalui tradisi gemohing. Orang saling membantu satu sama lain, tetapi tidak terjerat dalam perangkap uang itu sendiri. Pada sisi lain, mereka malah menguasai uang itu.

Di satu pihak nilai kerjanya dihargai dengan uang tetapi hal itu hanya ungkapan simbolis belaka karena mereka tidak melihat langsung uang. Keberadaan uang dalam konteks ini hanya sebagai penyemangat belaka. Ia hanyalah media untuk mencapai kesejahteraan bersama yang dicapai oleh semua anggota KTL.

Terobosan ini jelas merupakan sebuah langkah yang bila ditelusuri merupakan sebuah goncangan atas kapitalisme. Mengapa? Selama ini kaum kapitalis yakin bahwa daya pengaruhnya begitu kuat dan dengan mudah ia dapat menyetir peri kehidupan manusia terutama yang miskin dan papa. Mereka yang miskin akan kian terpinggirkan.

Kini justeru dengan kerja, yang ditopang oleh kesatuan yang utuh, orang yang dulunya miskin, balik menertawarakan kapitalisme. Mengapa? Mereka telah sukses menghasilkan simbol baru dalamnya tenaga sendiri dihargai dengan begitu layak sebesar yang uang yang selama ini begitu disanjungi para kapitalis. Sayangnya pada saat bersamaan, penilaian itu hanya ‘di atas kertas’, karena justru mereka meniadakannya sebagai alat pembayaran sah.

Dalam proses seperti ini, muncul pengandaian. Apabila grup seperti KTL makin banyak dan kian meluas, maka tidak saja penghargaan akan diri semakin naik oleh bobot kerja yang dilakukan tetapi pada saat bersamaan akan merontokkan kapitalisme karena ia ketiadaan objek lagi untuk bisa dijadikan ‘santapannya.’ Uangnya pun tak bedanya dengan kertas karean rakyat yang sadar sudah membangun simbol baru dalamnya pribadi manusia mendapatkan prioritasnya.

Robert Bala. Mendalami Neo-Sosialisme pada Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Sumber Flores Bangkit 16 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s