(8) Mitra Tiara(p)

Mitra Tiara(p)

Sumber: Flores Bangkit 23 Januari 2014

Di jejaring sosial, seorang nasabah MT menulis begitu polos begini: “Kapan Niko Ladi (NL) kembalikan doi kita? Kalau ia tidak bisa kembalikan doi torang, kenapa tetangkap?”

Hal itu disambung seseorang lainnya: “Katanya NL ada di Jakarta, tetapi kenapa tidak ditangkap? Apakah sengaja dibiarkan sampai mengembalikan uang para ‘nasabah’ besar sebagai tawarannya?”

 Harapan sia-sia

Sejak September 2013, dengan ketentuan pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) dengan konsekuensi penurunan bunga nasabah dari 10 menjadi 8 %, gelagat ketidakpastian MT sudah terasa. Bagi yang punya akal sehat langsung berkesimpulan bahwa collapse akan terjadi (dan kini terjadi).sudah jatuh ditimpa sepeda

Alasannya sangat jelas. Mengikuti hukum alam (bukan surgawi), sebuah ‘usaha’ yang memberikan bunga 10% sebulan maka dalam jangka waktu 10 bulan, ia ‘telah’ memakan habis dirinya. Selanjutnya, bila ia bertahan maka alasannya pasti: karena ia dimungkinkan untuk memakan orang lain.

inilah yang terjadi. Masuknya nasabah baru merupakan ‘mangsa’ yang dicari. Darinya, nasabah lama mendapatkan berkah. Tak heran, mereka membeli kendaraan mulai dari motor hingga mobil. Mereka juga bisa membangun rumah, membiayai kuliah anak, sambil tak terhitung aneka pesta konsumtif. Semuanya dilaksanakan sambil memjua-muji si NL yang (katanya) ‘baik hati’, dermawan. Karena ‘kebaikan’ hati itu pula banyak uang gereja disimpan sebagai bentuk ‘perhatiannya’ pada agama.

Pemahaman seperti ini sudah sangat ‘memabukkan’. Ibarat ganja, yang menghisap sudah tidak bisa disadarkan. Lebih lagi ketika berada ‘di bawah pengaruhnya (ingin jadi orang kaya baru)’, apa pun dibuat. Dana yang tadinya sedikit ditambah lagi.

Tak heran, para pegawai negeri meminjam dari BRI untuk ‘diparkirkan’ di MT. Pegawai menggadaikan SK hanya karena ingin mengejar kekayaan yang lagi secara ‘murah hati’ dihambur-hamburkan NL. Lebih lagi, semua orang sudah semakin menjadi-jadi karena rasa, di Larantuka, hampir tidak ada yang berbicara buruk tentang MT.

Dalam situasi itu, mustahil berdialog untuk mendapatkan pendasaran logis dari bunga yang begitu besar. Sebuha pengandaian minimal saja dengan taksiran simpanan 100 miliar berarti dibutuhkan Rp 10 miliar tiap bulan untuk membayar bunga. (Nyatanya, ternyata mencapai Rp 413.900.645.042 miliar dari 16.150 nasabah  miliar. Tetapi kalau dihitung dengan potensi bunga, maka jumlah Rp 1,7 triliun itu wajar saja.

Dalam kesia-siaan meyakinkan orang tentang kesia-siaan menyimpan uang dengan cara ‘aneh’ itu, dua prediksi disampaikan. Pertama, dalam waktu yang sangat singkat, tabungan akan berlipatganda mengingat animo nasabah sudah tidak bisa terkontrol. Taksiran mencapai triliun rupiah sangat mungkin.

Kemungkinan kedua sebagaimana terjadi sekarang. Kebangkrutan total bisa terjadi dan nasabah akan kehilangan sama sekali uangnya. Kalau sudah bangkrut maka tidak akan dikembalikan uangnya. NL tidak punya dana untuk itu karena sebagian besar telah dikembalikan lewat bunga itu. Bisa jadi masih ada ‘sedikit’ tetapi tidak sebarapa.

Toilet (tak) bau?

 

Pertanyaannya, mengapa keberadaan MT itu bisa bertahan begitu lama? Mengapa ribuan nasabah itu masuk dalam mekanisme pembodohan dan sama sekali tidak disadari?

Jawabannya sederhana saja. Kejanggalan itu tidak bisa tercium karena para elite pun terlibat di dalamnya. Mereka pulah yang mempromosikan dan ikut menjeratkan masyarakat di dalamnya.

Mereka bisa saja pegawai (malah pentolan di berbagai dinas, kaum berjubah (yang mestinya suci dari hal ini), guru, dan pengusaha (yang mestinya tahu sulitnya berusaha). Singkatnya, semua bak orang yang berada di dalam toilet berlama-lama. Bau tak sedap dari ‘kotorannya’ sendiri makin tidak tercium. Ia malah merasa semakin ‘enak’ berlama-lama di toilet.tangga

Yang lebih menyayatkan hati, pemda tidak pernah berpikir secara sistematis dengan analisis logis, hal mana menjadi tugasnya. Bunga aneh tidak pernah dihentikan. Yang terjadi, mereka sekedar menasihatkan rakyat bahwa ‘berhati-hati’ dan jangan menyesal bila terjadi yang tidak diinginkan.

Itu berarti, seruan pembayaran PPh yang bisa kita ulur hampir bersamaan dengan hadirnya dua surat baik dari Otoritas Jasa Keuangan (No S-525/PM-04/2013) dan Kementrian Koperasi dan UKM (1270/Dep 2.5/IX/2013) menyadarkan bahwa justru ‘dari ataslah’ yang ‘berinisiatif’. Atau paling kurang ada orang luar yang mengkritisi hal itu karena nyatanya, pemda masuk dalma perangkap itu.

“Tangga Menindih”

Bagi yang masih punya ‘sedikit saja’ akal sehat, pasti langsung berkesimpulan, simpanan nasabah tidak akan dikembalikan sama sekali. Darinya, kepolisian setempat, sudah punya bukti yang teramat jelas untuk segera ‘menangkap’ si NL. Alasannya tentu tentu bukan untuk mengembalikan dana (yang tentu tidak ada sebanyak simpanan nasabah), tetapi paling kurang agar kecemasan itu segera berakhir dan rakyat mulai kembali beraktivitas tanpa memiliki harapan yang tak sampai.

Yang terjadi justru sekedar ‘kongkalikong’. Di satu pihak, dikatakan polisi tengah ‘mengejar NL, tetapi di pihak lain Forum Peduli Nasabah MT berungkap masih terus berkomunikasi dengan si NL. Di situ memberi kesan yang tentu saja mendekati kebenaran bahwa proses itu sengaja ditarik ulur agar paling kurang NL mengembalikan uang nasabah besar yang nota bene bisa saja melibatkan pejabat daerah.

Kenyataan ini membuat kita prihatin. Kenapa rakyat yang sudah menderita harus dibiarkan terombang-ambing dalam ketidakpastian? Atau, kalau perjuangan aparat itu murni, maka semestinya apa pun yang didapatkan dari NL, mesti dikembalikan secara proporsional kepada semua nasabah dan bukannya menarik ulur lewat upaya yang menyakitkan?

Di sini keprihatinan kita menjadi sangat utuh dan lengkap. Di satu pihak, kebangkrutan MT yang berati tersibaknya pembohongan selama ini langsung menjadi Larantuka bak tiarap. Di kaki Ile Mandiri itu, semua orang bak jatuh tersungkur, terbelit tangannya dan diperintahkan untuk ‘tiarap’ tak berdaya. Natal (2013) yang selalu riang, menjadi begitu sunyi. Seorang sahabat yang kebetulan berada di Nagi melaporkan, stress malah gila telah melanda beberapa orang nasabah MT.

Suasana tersungkur dan tiarap nasabah itu tentu saja menjadi tanggungjawab pribadi. Tetapi absennya pemerintah daerah dalam memberikan penyadaran dan memberikan keputusan yang tepat pada saat yang tepat, merupakan celah yang teramat jelas sehingga membuat mereka yang sudah jatuh tiarap semakin tersungkur tak berdaya.

Kejadian itu kian runyam karena ketika kenyataan kemacetan total sudah jelas, masih ada tarik ulur yang memberi tempat untuk menduga adanya ‘kongkalikong’ agar nasabah tertentu bisa mendapatkan pembayaran (semesntara rakyat banyak dibiarkan sengsara). Hal ini kita sayangkan. Mestinya semua nasabah diperlakukan sama, bukannya membiarkan lain tiarap dan coba menggali untung untuk sebagian kecil.

Robert Bala. Pengamat Sosial. Kolumnis pada Harian Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s