(6) Di mana – Di mana Uangku?

Di mana – Di mana Uangku?

Dimana (di mana) Uangku?

Wajah kalut dan sedih menyelimuti tidak sedikit orang nasabah yang datang ke kantor Mitra Tiara, Jumat, 29 Oktober 2013. Terbersit harapan, hari itu, sebagaimana dijanjikan, para nasabah itu akan memperoleh, minimal uang tabungannya.robert

Tetapi hal itu tidak terjadi. Kegelisaan pun perlahan muncul, minimal membenarkan bahwa isu pengurangan bunga simpanan menjadi 8% bisa ia bisa ditafsir lebih jauh.Muncul pertanyaan: Mengapa hal itu terjadi? Apakah dana simpanan itu bisa dikembalikan? Kalau ‘ya’, kapan?  Atau bila terjadi yang terburuk,  maka kemana perginya uang itu?

Galau

Wajah cemas tentu tidak saja pada nasabah. Yang paling galau tentu sang pemiliknya. Ia sudah begitu ‘berusaha’ memberikan bunga yang tinggi. Tidak sedikit masyarakat yang sudah menikmati ‘hasilnya’. Ia banyak membantu termasuk lembaga keagamaan. Ia pun dianggap ‘nabi’ yang membawa ‘berkah’.

Lihat saja. Dengan nasaba sekitar 17.414 orang, maka simpanan tentu tidak sedikit. Kalau saja tiap orang hanya menyimpan Rp 5 juta, maka dana yang terkumpul sekitar puluhan miliar. Itu berarti setiap bulan, ia menyediakan dana Rp 5 miliar hanya untuk membayar bunga.

Tapi bila kita kalkulasi lebih jauh,  melihat tidak sedikit yang menyimpan 10, 20, 50, 100, 200, bahkan ada yang 300, 500, 800 juta, maka dana yang terkumpul sangat besar. Flores Bangkit mencatat terdapat 1,7 triliun rupiah, sebuah angka yang tiga kali lebih besar dari APBD Flores Timur.

Lantas, dari maan diperoleh dana begitu besar? Isu  tentang adanya usaha produktif baik pembangunan hotel “Berbintang Lima”, maupun peternakan di Tarus – Timor kerap diuar-uar. Padahal kalaupun hal itu benar, harus diakui bahwa untung sebesar Rp 50 terlalu fantastis untuk usaha di ‘nagi tana’.

Ada hal yang penting. Dengan bunga begitu tinggi yakni 10% per bulan atau 120% per tahun maka logika pengambilan bunga masih bisa diterima hingga bulan ke-10. Artinya selama itu ia mengambil kembali simpanannya.

Tetapi apa yang terjadi setelah bulan ke-11? Dari manakah diperoleh dana untuk membayar bunga? Di sinilah peran nasaba baru demi ‘menutrisi’ nasabah lama. Keberuntungan itulah yang terus ‘dikampanyekan’, dan dalam waktu dekat nasaba baru sudah berlipat ganda. Inilah alasan, mengaka LKF Mitra Tiara menjadi terkenal tidak hanya di Larantuka tetapi sedaratan Flores mencapi hingga belasan ribu nasabah.

Lalu, mengapa proses itu ‘tersendat’? Meminjam skalau kepuasan Abraham Maslow, kepuasan itu memiliki juga titik jenuh. Nasaba tidak bisa sekedar bertambah yang memberi keuntungan pada nasabah lama. Dengan berjalannya waktu, tingkat kejenuhan bisa dicapai dan tidak bisa lebih dari itu. Di saat itu terlihat kepincangan karena terlihat bahwa sesungguhnya tidak ada usaha produktif yang menunjang dan terutama karena dinamika itu terjadi oleh kian bertambahnya nasabah.penipuan-investasi

Kenyataan tentu diperburuk ketika bahkan orang dalam ikut bermain. Mereka (bisa saja karwayan), menikmati bunga seakan-akan ikut menyimpan (simpanan fiktif). Padahal simpanan itu fiktif adanya. Tetapi mereka pun tidak bisa dipersalahkan. Barangkali hanya memanfaatkan mekanisme pembukuan yang masih ‘manual’. Jadinya, tidak ada kontrol yang ketat.

Salah Alamat

Bila analisis di atas tidak keliru maka jawabah tentang keberadaan uang menjadi ‘jelas’. Uang itu benar-benar ada tetapi sudah dialokasikan untuk nasabah lama. Kenyataannya benar adanya. Sebuah konventum religius mengisahakan, mereka berkat membangun gedung di ‘biara’ berkat bunga simpanan dari Rp 300 juta yang disimpan yang ‘untungnya’ sudah ditarik bulan Mei lalu.

Dalam konteks ini maka ketika sebuah usaha ‘macet’, sulit dibayangkan bisa membayar kembali simpanan anggotanya. Bahkan si pemilik bisa saja memiliki kuantitas simpanan tertentu tetapi itu pun hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan dana yang sudah dibagikan ke anggotanya.

Meski hal itu bernuansa pesimis tetapi harapan sering masih digantungkan dengan keyakinan bahwa uang yang tersimpan itu telah dialokasikan di pasar modal. Tetapi bila hal itu benar terjadi maka sebuah proses legal mesti dilewati. Artinya, ia mesti berada di bawa Kementrian Keuangan karena menjadi salah satu dari bentuk usaha keuangan seperti: pebankan, pasar modal, peransuransian, dana pensiuan, lembaga pembiyaaan, dan lembaga keuangan yang dilindungi.

Di sana lembaga ini akan terus diawasi tidak hanya oleh Lembaga Penjamin Kredit tetapi juga diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga yang dibentuk dengan UU  No 21 Tahun 2011 memiliki tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan: terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel; mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

Kenyataan menunjukkan, LKF Mitra Tiara bukan lembaga keuangan di bawah Kementrian Keuangan. Ketaklogisan ini kemudian ingin diimbangi dengan menyebar berita tentang adanya lembaga asing sebagai pendonornya. Tetapi apakah lembaga itu begitu minim pengetahuannya sehingga yang ingin dibuat atau menggelontorkan uang tanpa ada analisis yang lebih tajam?

Skenario lain pun dihadirkan sebagai alternatif dengan menghadirkan dirinya sebagai koperasi. Nyatanya, lembaga itu tidak berada di bawah Kementrian Koperasi dan UKMK dan bergabung dengan 192.450 koperasi yang sudah ada.

Kalau pun LKF Mitra Tiara berada di bawah Kementrian Koperasi dan UKMK (yang sayangnya bukan koperasi),  maka penegasan Menteri Koperasi dan UKM, Syarifudin Hassan merupakan harga mati. Saat pamteran Gelar Karya Pemberdayaan masyarakat (GKPM) di Hall B Jakarta Convention Centre, Kamis 29 Juni 2012, ia meminta: “Tolong disampaikan kepada masyarakat kalau ada lembaga koperasi apa pun menjanjikan returnnya (pengembalian modal) di atas BI rate, itu pasti penipupan”.

 
Ayu Ting Ting
Itu berarti jawabannya jelas. Dengan bunga 10%, sangat berada di bawah BI Rate, maka indikasi penipuan itu sudah jelas menjadi kesimpulan. Sebuah kenyataan yang pasti sangat menyayat hati, terutama warga miskin yang mendepositokan  dana anggota hanya karena dilatarbelakangi kerinduan mendapatkan lebih.

Dalam kegalauan karena mustahil menemukan uang kita kembali dan demi menetralisir stress, kita pun teringat lagu dangdut yang  dipopulerkan Ayu Ting Ting hadir secara spontan. “Di mana-Di mana dan Di mana uang kita?” Lagu ini kita tampilkan tidak sedikitnya demi menertawakan kesia-siakan mengharapkan untung dari sebuah investasi bodong. Tidak etis ketika orang sedang galau disodorkan lagu dangdut yang sangat tendensius.

Tetapi lagu adalah pilihan, hal mana melekat pada budaya Lamaholot. Dalam situasi negatif, masyarakat terbiasa mengungkapkan diri melalui lagu. Melalui lagu, proses katarsis mendapatkan ekspresinya dengan demikian beban stress itu dikurangi, tetapi juga menyimpan pesan agar ke depan, keceroboan yang sama tidak sampai terjadi lagi.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Sumber: FloresBangkit 2 November 2013

2 Responses to (6) Di mana – Di mana Uangku?

  1. Goris Buran says:

    mat mlm pa. Apa bener ya??? Tolong informasinya pa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s