(1) Akuariumisasi Pendidikan Kita

Akuariumisasi Pendidikan Kita

Menjelang berakhirnya tahun ajaran lama dan dimulainya tahun ajaran baru, ada pertanyaan penting untuk direfleksikan. Bagaimana mengevaluasi pendidikan kita dan menjadikannya lebih mantap untuk tahun ajaran baru?

 

Mustahil bertanya demikian. Kebingungan dalam penerapan Kurikulum 2013 dan keresahan masyarakat tentang minimnya kontekstualisasi pendidikan telah membawa aneka keresahan dalam masyarakat.akuarium

Dalam konteks NTT, pertanyaan itu semakin krusial. Aneka studi, termasuk UN yang barusan lewat, tetap menempatkan propinsi ini di bagian paling belakang. Terlepas dari aneka manipulasi di daerah lain, tetapi hal itu tidak membuat kita berhenti mengadakan evaluasi.

Tiga Kisah

Orang Thailand yang terkenal sangat lincah dalam melatih gajah sebenarnya punya akal yang sangat sederhana. Saat seekor gajah liar baru tertangkap, mereka segera mengikatnya dengan rantai yang paling kuat. Sang gajah ‘kapok’ karena tidak bisa bergerak sesuka hantinya. Tiap kali ia mau berjalan, rantai itu mengekangnya.

Dengan pengekangan itu, sang gajah merasa bahwa hanya itulah dunianya. Pengikat itu adalah pembatasnya. Dengan itu, pelatih gajah mengganti dengan seutas tali kecil. Mestinya dengan gerakan sekecil apa pun, tali itu akan putus dan dia akan terlepas.

Yang terjadi, justru kekang lama membuat sang gajah bahkan tidak mencoba untuk berpindah. Ia berada di tempatnya saja karena ‘berpikir’, ada rantai yang mengikatnya.

Kutu anjing juga cerita lain tentang pengekangan. Konon kutu anjing bisa melompat 300 kali dari ukuran badannya. Sebuah lompatan yang tentu tidak main-main. Apa pun yang ia inginkan, hal itu dapat tercapai karena ia punya potensi untuk melompat.

Namun, apa yang terjadi kalau ‘sang kutu loncat’ itu ditempatkan di dalam kotak korek api? Sang kutu hanya akan melompat setinggi kotak itu. Ketika ia dilepaskan kembali di ‘habitatnya’, hanya setinggi itu pula ia melompat.

Kisah serupa juga bisa terjadi dalam ikan. Di perairan lepas, seekor ikan akan begitu bebas bergerak. Hampir tidak bisa terdeteksi sampai di mana arah gerakannya. Ia pun kian lincah karena di lautan lepas ada begitu banyak ikan buas. Ia harus lincah bergerak agar bisa melepaskan diri dari ancaman yang datang setiap saat.

Keadaan justru berubah ketika sang ikan ditempatkan dalam akuarium. Karena ruang yang sangat terbatas, apalagi lingkup yang begitu aman dan terjamin, nyaris ada ancaman berarti (kecuali kalau listrik mati dan ketiadaan oksigen), sang ikan hanya bergerak mengejar ekornya alias bergerak di tempat.

Setelah proses itu dan bila dikembalikan ke habitatnya, ia kalabakan. Ia menjadi sasaran empuk ikan besar karena nyaris berlari.

Mengungkung Diri

Gajah, kutu anjing, dan ikan, adalah steriotip dari cara pandang yang tak jarang (malah kerap) menghantui kita dalam pendidikan. Karena terpengaruh aneka pengalaman masa silam (rantai gajah), maka kita sudah berpikir tentang ketakberdayaan. Sebagai warga NTT, kita seakan sudah terpola bahwa memang “Nasib (kita) Tak Tentu”, akan selalu menjadi bagian dari panggilan kita.

Pikiran itu telah membatasi ruang kreativitas kita untuk melompat tinggi. Ada pemikiran, ruang kompetisi kita sempit. Apa pun yang kita usahakan, ujung-ujungnya kita akan menjadi satpam saja. Karena itu, pendidikan kita hanya sebatas itu. Kalau pun bersekolah, minimal tamat SMA karena menjadi anggota satpam sekarang, dituntut minimal berijazah SMA.

Ada yang lebih memprihatinkan. NTT misalnya saja tidak kekurangan tenaga handal. Dunia sosial politik nasional mencatat orang-orang hebat NTT, mulai dari jabatan rendah sampai yang tertinggi. Ada ahli bahasa, pakar sosial politik, menteri. Dokter dan doktor pun tidak kekurangan. Tidak cukup waktu untuk menyebut satu per satu.

Sayangnya, mereka (kita) bak ikan dari lautan lepas. Mereka sudah terbukti ‘lincahnya’ berlari di lautan lepas, mengarungi sebuah hidup yang sangat keras. Tetapi apa yang terjadi setelah ‘ditangkap’ dalam satu jabatan tertentu? Ruang gerak mereka sangat terbatas. Mereka hanya bergerak mengejar ‘ekornya’ alias prestasi dan barangkali juga kesenangan pribadi. Peristiwa di luar, apalagi untuk menyelamatnya saudaranya yang bersuah begitu jauh dari harapan.

Seorang mantan menteri asal NTT, tepatnya asal Flores, selama berkuasa, nyaris mengenal daerah asalnya. Apalagi ketika masih berkuasa, ia bahkan begitu sukses mendulang suara di daerah Jawa sebagai asal pemilihannya. Kini, setelah (mungkin karena tidak punya kekuasaan lagi) periode tertentu, ingin kemblai menggunakan ‘daerah asalnya’ sebagai basisnya.

Inilah akuariumisasi yang terjadi. Yang tadinya sukses, nyaris bergerak bebas untuk menyelamatkan yang lain. Padahal kalau kita menengok masyarakat di daerah lain, ambil saja contoh orang Batak’, solidaritas itu begitu kuat. Yang di atas tidak pernah terpateri pikiran untuk bebas dari tanggungjawabnya. Ia merasa, apa yang dia dapat bukan karena usahanya sendiri tetapi karena adanya solidaritas dari sesamanya. Karena itu, ketika ia di ‘atas’, adalah tugasnya untuk menyelamatkan yang di bawah.

Mendukung Kreativitas

Stigma yang ada dalam dunia pendidikan kita mengajak untuk berpikir kritis dan kreatif. Secara kritis, kita mengevaluasi aneka kekang yang mengungkungi kita hingga nyaris bergerak. Pada tataran paling bawah kita sadar bahwa kendala itu bukan pertama-tama berasal dari luar sebagai tantangan tetapi ia justru hadir dari dalam melalui pola pikir kita yang terbatas.

Karena itu hal yang paling sederhana adalah membangun kesadaran tentang kesanggupan diri untuk dapat mengatasi permasalahan. Ibarat kutu anjing, setiap orang harus membangun kesadaran bahwa dengan ukuran tubuh kita, andai kata kita bisa melompat hampir setinggi 5000 meter, atau 10 kali lebih tinggi dari gedung tertinggi di dunia.

Kekuatan ini lalu ditambah dengan kreativitas yang harus sudah kita hidupkan dari sekarang. Kesanggupan diri harus disertai dengan aneka ide liar yang bisa muncul. Kita menyanggupi diri untuk membuat sesuatu yang tidak biasa menjadi luar biasa. Panca indra kita begitu difungsikan sehingga dengan cermat kita bisa mengamati dan merasakan apa yang menadi kebutuhan dan dengan secepat itu pula kita bisa menghasilkan karya yang kreatif.

Bila kita mulai demikian maka tokoh kreatif NTT akan lahir dan menjadi perbincangan nusantara bahkan dunia karena orang dari negeri ‘sial’ itu kini menjadi begitu kreatif. Tentu saja proses ini tidak mudah. Tetapi bila kita rindukan, maka hal itu akan terjadi karena apa yang kita inginkan akan terjadi. Ia bukan sekedar kerinduan karena ada dalam jangkauan kita aneka kemungkinan untuk bisa mentransformasikan tentangan menjadi peluang.

Tetapi harus kita akui bahwa proses kreatif itu tidak bisa tidak berpijak pada perubahan pikiran. Mengutip Albert Einstein: “The world we have created is a product of our thinking.  It cannot be changed without changing our thinking. (Dunia yang telah kita ciptakan adalah hasil dari pemikiran. Ia tidak bisa diubah tanpa merubah pikiran kita). 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s