10. Menulis di Media Online

Menulis di Media Online

Seorang sahabat merasa tertarik dengan beberapa artikel saya di media online. Rupanya dia juga berminat untuk menulis, apalagi saya ceritakan bahwa kini banyak media online yang bisa membayar tulisan.

Apa rahasianya? Demikitan tanyanya. Sesungguhnya sulit menjawabnya. Masing-masing orang memiliki ‘cara’ tersendiri. Apa yang saya ‘gunakan’, bisa juga tidak ‘pas’ untuk dipaksakan pada orang lain.

Ada Pertanyaan

Sebuah nasihat guruku masih saya ingat. Di balik sebuah artikel harus ada pertanyaan. Jangan  menulis kalau tidak ada pertanyaan yang perlu dijawab.pensil

Pertanyaan yang dimaksud mesti berasal dari kebanyakan orang dan bukan sekedar pertanyaan yang dianggap penting oleh penulis. Memang bisa saja hal itu muncul dari benak penulis tetapi patokan harus datang dari lebih banyak orang. Artinya, sejauh mana pertanyaanku dirasakan juga oleh orang lain.

Perumpamaan tentang pemancing ikan dan ‘umpan’ bisa sangat inspiratif. Untuk bisa memancing ikan, harus dicari umpan yang disenangi ikan (dan bukan yang disukai oleh pamancing).  Si pemancing bisa saja suka ‘humberger’, tetapi tidak sama halnya dengan ikan.

Itulah yang terjadi dengan menulis. Penulis perlu mengetahui apa yang jadi ‘kegalauan’ pembaca. Ia lalu berusaha menjawabnya dalam tulisannya.

Di sini pun secara implisit tersirat makna bahwa penulis perlu mengetahui ruang lingkup pembaca dan pertanyaan yang diajukan. Hanya dengan demikian akan ‘klop’ apa yang ditanyakan dan jawaban yang diajukan.

Pertanyaan yang diamksud pun tidak perlu dalam bayangan. Ia bisa saja sangat riil. Media online terkenal dengan ruang interaksi yang sangat dekat antara penulis dan pembaca. Pada setiap artikel tersedia ruang untuk memberikan komentar. Itu berarti penulis perlu mengikuti dan menjawabi aneka pertanyaan yang diajukan. Hal inilah yang bisa dijadikan alasan dalam menulis.

Tidak hanya pertanyaan. Mengetahui karakter pembaca medai online juga sangat penting.  Mereka biasanya ‘terburu-buru’ dan ‘tidak serius’. Hal ini tentu berbeda dengan pembaca koran cetak. Hal itu membuat tanggapan mereka kadang tak ‘pas’.

Kesan itu saya dapatkan dari tanggapan terhadap artikel saya. Ada yang sekedar ‘mampir’ untuk mengklik ‘like’. Ada yang bisa memberikan komentar tetapi itu pun kadang dengan salah pemahaman karena tidak punya waktu untuk mendalaminya.

Hal itu membawa konsekuensi dalam meramu artikel. Artikel yang dimaksud harus tidak panjang dan bertele-tele. Pasalnya, pembaca online tidak merasa terlalu lama bertahan untuk ‘digurui’. Ia merasa tidak ada gunanya.

Pada sisi lain, kenyataan ini mendorong penulis untuk mencari judul yang menarik dan inspiratif. Sebuah judul yang diungkapkan dengan bahsa yang sederhana dan mengapa tidak dalam bahasa ‘gaul’, akan sangat menarik perhatian.

Namun ruang lingkup untuk judul sangat terbatas. Semenarik apa pun, judul tetap tidak akan cukup untuk menjelaskan ringkasan cerita. Untuk itu maka perlu dibantu dengan teras cerita(history lead).

Pada bagian ‘teras cerita’, tentu tidak digambarakan ‘akhir’ dari tulisan tetapi berisi pikiran pokok yang menjadikan alasan mengapa artikel itu penting.

Tidak hanya itu. Teras cerita yang baik mesti juga diimbangi dengan pengelompokkan artikel dalam judul-judul kecil. Pembaca akan merasa berhenti sejenak untuk dapat memahaminya lebih jauh.

Seimbang

Menulis di media online butuh bahasa yang lebih hidup. Pembaca merasa lebih senang ketika kata atau kalimat bersifat aktif dan bukan pasif. Kalimat pendek, sederhana, dan menarik menjadi sebuah harapan yang tidak boleh dilupakan.

Selain itu, bahasa yang digunakan perlu bergaya bertutur (conversational styles) . Itu berarti pesan disusun secara dilogal dalamnya tidak ada pemaksaan. Pembaca merasa bahwa sudut pandangnya dipahami oleh penulis.

Dengan bahasa percakapan akan memungkinkan penulis membuat dialog yang sangat boleh jadi berisi kontroversi. Di sini kedua sisi akan ditampilkan dalam bentuk dialog dan bahasa yang menarik.

Penampilan dua sisi dari tulisan dalam bahasa percakapan tidak berarti penulis tidak memiliki sudut pandang hal mana ingin dibagikan kepada pembaca. Ia memiliki pandangan tetapi tidak berarti menganggap remeh pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya.

Di sini pendapat berseberangan ditampilkan dengan memahami apa yang dipikirkan di baliknya. Meski demikian dalam uraian selanjutnya penulis akan membedah sehingga menemukan akar berpikir yang bisa saja rancu untuk dipertimbangkannya.

Di sini sebuah kedewasaan diri dalam relasi tercipta. Pembaca merasa, kalau pun akhirnya penulis punya sudut pandang lain, tetapi itu diungkapkan dalam bahasa percakapan yang terbuka. Ia pun paham bahwa tidak ada pemutlakan pembenaran melainkan dialog mencari kebenaran.

Cara menampilkan keseimbangan dalam tulisan seperti ini tentu sangat bermanfaat. Dengan perjalanan waktu penulis semakin memiliki ‘penggemar’ yang bahkan dari dua sisi berbeda. Ia menjembatani adanya dialog yang memungkinkan adanya penemuan alternatif yang semoga saja berguna untuk banyak orang.

Robert Bala. Alumnus Universiadad Pontificia de Salamanca Spanyol. Penikmat Tulisan Online.

Sumber: Flores Bangkit, 8 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s