11. Gur(u) Gute, Ambillah…

GUR(U) ‘GUTE’, AMBILLAH…

Kabar wafatnya Petrus Gute Betekeneng, atau yang biasa disapa: Gur(u) Gute, cukup menarik perhatian. Di Lembata, ia disambut ribuan orang bak pahlawan dan memang ia pantas untuk itu.

Dari sisi umur, ia sudah sangat ‘uzur’, 90 tahun. Kini tiba saatnya untuk “beristirahatlah dalam damai.” Apalagi orang seumurannya hampir sudah tidak ada.

Tetapi rasanya kepergiannya kini dikaitkan dengan situasi Lembata menjadikan hal itu sangat berarti. Pembelajaran apa yang diperoleh?

“Si Bandel?”

Menyebut nama “Gur(u) Gute”, saat berumur tiga puluh tahun, bisa saja memberi kesan sebagai orang ‘bandel’. Namun kebandelan yang dimaksud bukan bersifat merugikan atau sekedar mengambil keuntungan diri. Hal itu dilakukan karena memperjuangkan nilai yang lebih besar.gute

Yang dimaksudkan, bagi pemimpin yang doyan konflik yang memecahbelah, Gur(u) Gute dianggap bukan orang yang pas untuk diajak bekerjasama. Pasalnya, ia sangat jeli melihat aneka taktik di balik setiap gerakan. Lebih lagi, pandangannya yang selalu menempatkan persatuan di atas segalanya, cukup merepotkan orang yang masih ‘doyan’ menghidupi warisan konflik dari kaum kolonial.

Hal ini terutama berkaitan dengan konflik antara paji dan demon(g). Di sana tidak sedikit daerah dibagi-bagi untuk dikuasai (devite et impera). Hal itu bukan saja terjadi pada masa penjajahan, tetapi terus dihidupi pada masa kemerdekaan.

Lihat saja. Pulau yang kecil itu terbagi dalam dua kekuatan besar yakni Paji, mencakup hamente: Labala, Hadakewa, dan Kawela, dan dan demon(g) yang melingkupi hamente Kedang dan Lewotolok. Kepada masing-masing kubu dihidupkan konflik dan sentimen negatif agar secara berlebihan ke kelompok lainnya.

Tidak hanya itu. Partai Katolik yang diharapkan menjadi sebuah kekuatan pemersatu, dalam kenyataannya tidak mendukung upaya Lembata menjadi subkomisariat atau cabang. Petinggi di Flores Timur lebih memilih agar Lembata itu terbagi dalam tiga ranting yakni Kedang, Lomblen Utara, dan Lomblen Selatan.

Kenyataan itu tidak diterima oleh Gur(u) Gute yang waktu itu ‘hanya’ menjadi ketua Partai Katolik Ranting Lembata Utara. Ia pun menyatukan semua ranting yang ada untuk selanjutnya membentuk Sub Komisariat Lembata. Baginya, semua yang ada di Lembata harus bersatu.

Di sana Gur(u) Gute bersama beberapa tokoh dari berbagai daerah seperti: Bernardus Bala Kelide, Stanislaus Tela Tufan, L.K Kedang, juga Frans Paji Letor, P. Wuring Beding bergabung. Juga Theo Toran Lajar, Yan da Proma, Y.B. Liliweri, B. Sanga key, Anton Fernandez, Frans Daton, Yang Sego Lazar, P. Wuring Beding, sekedar menyebut beberapa nama.

Tidak berhenti di situ. Gur(u) Gute juga melihat pluralisme warga Lembata. Perbedaan agama, terutama Katolik dan Islam tidak dilihat sebagai perbedaan yang memecahbelah melainkan sebuah kekuatan. Jadilah, tokoh muslim dari partai Masyumi Kedang seperti Abdulsalam Sarabiti dan S.A.Badjeher digandeng.

 

Upaya itu disambut hangat tokoh muslim, Abdulsalam Sarabiti dalam kata-kata berikut: “Kita harus hormat-menghormati, harga-menghargai, kasih-mengasihi. Kita tidak mewariskan perpecahan dan kekacauan karean Injil dan Al Quran mengajar kita saling mengasihi dan hidup bersaudara antarsesama sebagai anak Tuhan”.

 

Jadilah, tanggal 7 Maret 1954, semua wakil dari berbagai daerah di Lembata dan agama-agama berbeda (Islam dan Katolik) berkumpul untuk membuat pernyataan yang dikenal dengan “Statement 7 Maret”. Sebuah deklarasi yang genap 60 tahun hingga kematian sang pendiri, sebgai hasil dari ‘kebandelan’ seorang “Gur(u) Gute”.

Ambillah…

Kepergian “Gur(u) Gute”, menjadi sangat bermakna justru saat ini ketika Lembata yang dulu dengan susah payah ingin disatukan berada dalam konflik tak berkesudahan. Ia tidak saja muncul dalam lingkup internal keluarga tetapi meluas sehingga memecahbelahkan persatuan.

 

Tidak bisa disangkali. Selama hidupnya ia telah berusaha mengingatkan agar nilai-nilai itu terus dihidupi. Sebuah usaha menjaganya hampir 60 tahun yang bila dibandingkan dengan umur manusia, maka pernyataan itu telah memasuki masa pensiun.

Sayangnya, apakah hal itu sudah memberi manfaat untuk Lembata? Apakah penerusnya masih menghidupi roh perjuangan? Tentu saja ya. Ada memang kemajuan dan hal yang positif hal mana bisa menjadi hiburan. Pembangunan fisik meski dengan kekurangannya harus diakui, ada kemajuan.

Tetapi memandang konflik yang berkesudahan bisa jadi menjadi sebuah kenangan yang menyayat hati sang pendekar. Tragedi pembunuhan antar sesama keluarga, isu tak sedap tentang pemerintahan daerah, dan aneka trik negatif yang sengaja dibangun telah menjadi luka yang tentu saja dibawa pergi sang pendekar Lembata.

Dalam kondisi ini, barangkali yang terbaik bagi pendekar itu adalah pergi. Tetapi sebagaimana biji harus jatuh ke tanah, demikian manusia yang tua harus ‘menyatu’ dalam kubur agar dari sana diharapkan bisa tumbuh tunas baru. Itulah yang bisa dimaknai dari kepergian gur(u) Gute.

Gur(u) Gute kini ‘diambil’ (atau ‘gute’ dalam bahasa Lamaholot) oleh Tuhan kembali ke pangkuanNya. Tetapi kita pun bisa mengambil hikmah. Dengan sedikit latar ekaristis, kata-kata Ambillah dan makanlah/minumlah, inilah tubuh dan darahKu…. berarti masing-masing kita terpanggil untuk mengambil hal yang baik dari Gur(u) Gute sebagai pembelajaran demi Lembata yang lebih baik.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Flores Bangkit 05 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s