(3) Guru, Galau atau Antusias?

Guru, Galau atau Antusias?

SMA PGRI Larantuka, sebuah sekolah yang sejak berdirinya pada tahun 1975 hingga awal dekade delapan puluhan, merupakan salah satu pilar pendidikan di Flores Timur daratan dan Solor. Bila SMA di Lewoleba dan Waiwerang bisa menampung tamatan dari pulaunya masing-masing, maka Larantuka sebagai ibu kota kabupaten (waktu) itu, memiliki dua sekolah yakni SMA Negeri Larantuka dan SMA PGRI untuk menampung siswa SMP yang ingink e SMA. 01(Guru Flores Timur tidak tinggal galau tetapi menjemput bola, memperlajari Kurikulum 2013. Kunci sukses ada pada guru)

Di Larantuka, tentu saja, sekolah negeri menjadi acuan. Tetapi mengingat daya tampungnya terbatas, belum lagi kalau memasuki lembaga pendidikan seperti itu butuh juga lobby tertentu, maka kesempatan tentu saja tidak begitu terbuka luas untuk dicapai khusus untuk anak-anak dari kampung yang barangkali punya niat yang besar untuk sekolah tetapi memiliki keterbatasan dalam aspek tertentu. SMA PGRI Larantuka, lalu menjadi satu-satunya alternatif karena memang di Larantuka, pada dekade 70 dan 80-an, hanya memiliki 2 SMA.

Tetapi hal itu tidak dimaknai sebagai sekolah kelas dua. Komitmen PGRI diwujudnyaatkan dalam penciptaan pendidikan yang berbobot. Para siswa diberi motivasi untuk dapat bermimpi setinggi-tingginya. Hasilnya pun kini dapat terlihat. Di kabupaten Flotim dan Lembata, alumninya menempati berbagai jabatan struktural di pemerintahan seperti Kepala Dinas bahkan Sekertaris Daerah. Itu belum terhitung jajaran eselon tiga dan empat yang nyaris bisa terhitung dan juga di bidang lain. Bila dihitung, maka menjadi sebuah kekuatan.

Memasuki usianya yang tidak bisa dikatakan muda, yakni hampir memasuki kepala 4, maka diadakah perayaan Dies Natalis. Seminar menjadi salah satu kegiatan pokok. Namun, selain seminar pendidikan yang dilaksanakan untuk masyarakat luas, khususnya membekali para guru, juga diadakan dua kegiatan lain yakni pertandingan futsal dan perayaan ini pada tanggal 10 Agustus. “Semua kegiatan ini hanya bertujuan membangun dan menggugah alumni untuk ikut memikirkan masa depan pendidikan di alma maternya”, demikian Gerard Bacenty, ketua umum perayaan Ulang Tahun SMA PGRI Larantuka.

Pada sisi yang sama, Yos Dolun yang juga adalah camat Larantuka menghimbau alumni untuk memberikan kontribusinya. Itu hanyalah bentuk keterlibatan sekaligus syukur bahwa dengan segala keterbatasannya, SMA PGRI Larantuka telah membuat tidak sedikit orang jadi ‘orang’. Bagi Dolun, kalau alumni bisa berkontribusi cukup dengan Rp 5000 saja per bulan maka bisa terkumpul 3 juta per bulan mengingat terdapat sekitar 600 alumni yang menyebar di seantero jagat.

Kegalauan Guru

Tentang kegiatan inti berupa seminar, yang memilih tema Kurikulum 2013, didasarkan pada pertimbangan berikut. Meski sudah didengung-dengungkan setahun terakhir tentang Kurikulum 2013, tetapi wajah dan bentuknya masih sangat suram. Bila di pulau Jawa saja misalnya, para guru masih belum memiliki pemahaman menyeluruh tentang Kurikulum baru ini, maka bisa dipahami, bagaimana hal itu tentu tidak berbeda, malah lebih kurang lagi di daerah terpencil seperti Flores Timur.

Tetapi ada aura positif. Bila di daerah lain, ada berbagai tanggapan yang tidak sedikitnya negatif dengan sikap menolak, maka hal itu berbeda dengan Flores Timur. Ada antusiasme besar untuk mengetahuinya. Karena itu ketika ditawarkan hal ini, dengan segera disambut dengan antusiasme karena menyentuh kebutuhan mereka. Bagi mereka, pemahaman awal sangat penting. Hanya dengan demikian mereka dapat menyiapkan diri dengan baik.

Berhadapan dengan itu maka panitia berkonsentrasi untuk hanya menyentil hal-hal baru dalam kurikulum seperti Struktur, Elemen Perubahan, Standar Penilaian, dan Perbedaan Kurikulum 2006 (dan 2004) dengan Kurikulum 2012. Materi ini dibawakan sendiri oleh salah seorang alumusnya, Drs Lukas Pusi Kein, M.M, yang kini bekerja di Dinas Pendidikan Propinsi NTT khususnya bagian peningkatan mutu pendidikan.

Lukas, angkatan 81 SMA PGRI Larantuka menandaskan bahwa sikap ‘menjemput bola’ dalam pemahaman kurikulum adalah sangat penting. Itu tandanya bahwa kita sedia untuk berubah. Tetapi bukan itu saja. Secara hukum, kurikulum sudah disyahkan oleh pemerintah. Karena itu, mau atau tidak mau, pasti dilaksanakan. Dengan demikian, diperlukan usaha mencari dan mempelajari hal-hal baru yang ditawarkan.

Pada bagian presentasinya yang berdurasi 90 menit, Kein juga menyadarkan para guru, terutama guru SD akan pembelajaran tematik. Ini adalah hal baru. Di sana IPA dan IPS tidak diajarkan sampai kelas IV SD. Tetapi dengan itu tidak berarti kedua mata pelajaran ini hilang. Mereka diintegrasikan dalam mata pelajaran lain. Dengan demikian terdapatlah tematik intergratif.

Sementara itu menampik kecemasan guru akan pemberlakuan kurikulum 2013, Kein menekankan bahwa dibandingkan dengan KTSP, kini pekerjaan guru semakin ringan. Pemerintah membuat Silabus dan guru membuat RPP. Hal ini berbeda dengan KTSP dimana guru menyusun baik Silabus maupun KTSP. Guru tinggal melaksanakan yang ada sambil mengadakan penyesuaian yang perlu. Dengan demikian guru tidak lagi ‘terbebankan’ dengan tuntutan administratif yang kadang menyerap begitu banyak tenaga tetapi dilaksanakan sekedar memenuhi peraturan.

Dengan Kurikulum 2013, yang nota bene dibuat dengan pengurangan Kompetensi Dasar, guru diberi kesempatan untuk mendami pelajaran dan melaksanakannya dengan baik dan menarik, jauh dari kesan terburu-buru untuk menyesaikan materi. Pendekatan yang berbasis isi (content based approach) seperti ini secara pedagogis tidak bisa dipertahankan. Murid lebih dilihat sebagai objek yang harus menyerap ilmu pengetahuan.

Padahal siswa mesti dianggap sebagai subjek. Pembelajaran harusnya didasarkan pada apa yang sudah dimiliki dan bukan apa yang harus dimiliki. Tujuan pembelajaran pun akan berorientasi pada peningkatan kompetensi atau yang dikenal dengan competence – based approach. Secara jelas diharapkan agar outcome yang dihasilkan sungguh siap meniti hidup.

Dalam konteks ini terjawab bahwa kegalauan dan antusiasme mestinya ditanggapi secara positif. Artinya, tantangan yang ada oleh kehadiran Kurikulum 2013 harus dianggap sebagai sebuah peluang. Sikap sujektif itu akan menjadikan halangan itu sebagai kesempatan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi dan lebih baik lagi. Ia bukan akhir tetap pemicu dan pemacu.

Karena itu keberanian untuk mengikuti mini-workshop dilihat sebagai sikap yang perlu terus dikembangkan. Hanya dengan demikian, dapat diharapkan hasil yang lebih optimal.

Robert Bala. Pegiat dan Pengamat Pendidikan. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. (Tulisan ini dirampungkan saat berada di Transnusa, Penerbangan Larantuka – Kupang, 28 Juli 2013).

Sumber: Flores Bankit 29 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s