12. Gur(u) Gute, dan “Angka Keramat”

Guru Gute dan “Angka Keramat”

30 Maret 2014, sang inisiator otonomi Lembata wafat. Ia pergi setelah melewati sebuah proses perjuangan yang sangat bermakna. Karena itu berlasan ketika ia hadir di Lembata disambut ribuan orang (Flores Bangkit 31/3).

Apa sebenarnya yang menarik di balik kemarian sang pendekar yang berumur 90 tahun itu? Apa makna di baliknya?

“Kutu Loncat?”

Menelusuri riwayat hidup Petrus Gute Betekeneng, ada elemen angka yang menarik. Pria kelahiran 24 Maret 1924 itu sudah menjadi guru saat berumur 20 tahun atau hanya setahun sebelum kemerdekaan. Tugas itu diawalinya di Lamalera.petrus-gute-betekeng

Dari Lamalera, sang gur(u) Gute melewati beberapa tempat pengabdian seperti: Lokea (1946-1948), Lewolaga (1948-1949). Lalu ke Hinga Adonara (1949-1951). Dari sana ia ke Lembata dengan mengabdi di Lamatuka (1951-1953), Kalikasa (1953-1955).

 Dari Kalikasa, ia ke Labala (1955-1956), lalu ke Tokojaeng (1956-1957), dan ke Lewoleba (1957-1962). Setelahnya ia ke Atawatung (1962-1963), Kolilerek (1963-1965), dan Karangora (1965-1971). Dari Karangora, ia ke Lewoleba hingga pensiun pada tahun 1987.

Pertanyaannya, mengapa ia terus berpindah? Apakah itu karena ia tidak ‘kerasan’ atau karena suka menjadi kutu loncat? Sepintas penilaian sebagai orang yang tidak kerasan, bisa saja benar. Hali tu dilihat dari jangka waktu berada di tempat

Dari data ini, tertangkap beberapa hal yang menarik untuk dikaji. Kesan pertama, bisa saja ada penilaian bahwa Gur(u) Gute adalah seorang ‘kutu loncat’. Hal itu bisa saja benar. Bayangkan saja. Selama 27 tahun ia bisa berkarya di 12 tempat berbeda. Kecuali Karangora dan Lewoleba, daerah lainnya ditempati kurang dari 3 tahun malah kebayakan 2 tahun.

Mengapa demikian? Melihat hasil yang dicapai dan terutama keterlibatan dalam partai Katolik, makah kesan itu pupus. Ia ingin mengenal sebanyak mungkin daerah sebagai pijakan dalam pengambilan keputusan politik kelak. Apalagi saat-saat awal kemerdekaan yang penuh gejolak. Pengenalan seperti ini menjadi hal yang sangat penting.

Hal itu bisa terlihat bahwa hanya setelah 10 tahun menjadi guru, ia sudah mengumpulkan tidak saja orang Katolik di dua ranting lainnya, yakni Lembata Selatan dan Kedang untuk bersamanya yang adalah ketua Ranting Lembata Utara untuk mendeklarasikan “ Statement 7 Maret” pada tahun 1954.

Tahun 4 Bulan 3

Dari riwayat hidup dan pengabdian maka angka 4, begitu berarti. Ia lahir tahun 1924 dan menjadi guru pada tahun 1944. Pada tahun 1954 (saat berumur 30 tahun), ia bersama tokoh Lembata lainnya mendeklarasiakn Statement 7 Maret.

10 tahun setelah statement 7 Maret (sampai tahun 1964), sangat jelas terlihat ia tidak mau jauh-jauh dari tempat deklarasi, yakni Hadakewa. Ia coba melihat “Hadekwa” dari Atawatung, Kalikasa, dan Kolilerek, serta Lewoleba. Tahun-tahun sesudahnya hingga pensiun, sekitar 14 tahun ia mengabdi di Lewoleba. Itulah misteri tahun empat.

Dari sisi bulan, Maret memiliki arti yang khusus. Sang deklarator lahir di bulan Maret. Tiga puluh tahun sesudahnya, pada 7 Maret, deklarasi ditandatangani di Hadakewa. Dan yang tidak kalah penting, kematiannya justru di penghujugn Maret, tanggal 30. Data-data ini seakan menunjukkan bahwa bulan Maret begitu penting.

Konteks wafatnya di bulan Maret pun bisa menjadi bahan refleksi. Sebuah bulan di mana Lembata berada dalam keadaan yang sangat tak pasti. Tuntututan pemberhentian bupati Yantji Sunur oleh DPRD dan proses pengajuannya ke Mahkama Agung menjadi sebuah bulan penuh gejolak.

Bulan Maret ini merupakan kulminasi. Ia menjadi titik tertinggi setelah proses kematian secara misterius yang melibatkan tidak saja anggota keluarga tetapi juga melebar dalam aneka isu tak terkontrol. Singkatnya, bulan Maret 2014 menjadi momen kegalauan. Karena itu, bila akhir Maret menjadi tanggal kematian, maka itu tentu tidak sekedar kebetulan.

Makna

Deretan angka keramat membersikan aneka makna. Pertama, pengabdian di berbagai tempat, adalah ekspresi persatuan. Di sana sang pendekar ingin hidup dan ada bersama banyak orang untuk memahami realitas mereka. Itu pun dirancang agar dalam waktu yang singkat, ia bisa berada di tempat berbeda.

Di berbagai tempat ini ia menyadari bawha ancaman persatuan adalah konflik yang disusun oleh orang Belanda yakni antara Paji dan Demon. Pada sisinya dengan hidup di daerah Paji dan Demon, gur Gute ingin menanamkan kesadaran akan jebakan Belanda dan persautan yang harus ditanam dari sekarang.

Kedua, rentetan anga menunjukkan bahwa Guru Gute merupakan pemipin visioner. Dengan umur yang sangat muda, ia sudah menggagas hal-hal besar dan disusun dalam aneka strategi yang sangat teratur. Darinya ia tidak bisa lebih lama karena tahu, tugas ke depan masih sangat banyak.

Visi inilah yang barnagkali masih absen di Lembata. Para pemimpin entah legislatif maupun eksekutif tidak lebih dari pemimpin yang sekedar memanfaatkan Lembata untuk kepentingan dirinya. Mereka tak lebih sebagai ‘calo proyek’ yang akan begitu ‘vokal’ ketika sudah dapat maka mereka akan diam.

Ketiga, Gur(u) Gute mengajarkan tentang keteladanan. Aneka pengabdian hanyalah ekspresi dari sebuah keteladanan. Ia pun pergi di saat Lembata lagi ‘babak-belur’ menunjukkan bahwa yang harus berbicara adalah keteladanan.

Itu berarti Lembata akan menjadi lebih baik ketika keteladanan dimunculkan kembali karena itulah yang kurang kita hidupi selama ini.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Flores Bangkit 06 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s