(2) Guru, Membangun Makna

Guru, Membangun Makna

Saat menginformasi bahwa Sabtu, 27 Juli 2013, Pemda Flotim bersama alumni SMA PGRI Larantuka akan mengadakan mini-workshop tentang Kurikulum 2013, seorang sahabat di ‘dumay’ alias Dunia Maya menyelutuk spontan: apakah perubahan kurikulum akan membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan.

Sebuah pertanyaan yang tentu tidak didasarkan atas penolakan atas kurikulum ‘berangka tahun sial’ itu. Tetapi di baliknya, ia ekspresi bahwa perubahan itu berbanding lurus dengan kualitas yang diharapkan. Apalagi sejak merdeka, kita sudah begitu sering mengganti kurikulum tetapi hasil yang diharapkan belum maksimal.

Berpijak pada Pengalaman

Ada tiga teori penting yang memengaruhi Kurikulum kita. Teori behavaviorisme sangat menekankan bahwa aspek-aspek belajar bisa diobservasi dan ditekankan tentang proses internal. Teori ini cukup melandasari Kurikulum 1947, 1949, 1964, dan 1968.

Teori kognitivisme, pada gilirannya, dengan tetap mempertahankan beberapa hal pada teori sebelumnya, juga menampilkan tentang pentingnya pembelajaran yang berbasis otak (brain-based learning). Pembelajaran akan efektif kalau didasarkan pada cara kerja otak. Dengan mengikuti ‘kemauan’ otak, maka sebuah informasi akan lebih cepat diserap dan disimpan untuk waktu yang lama. Kurikulum 1975, 1984, 1994 dan Suplemen 1998 sangat dipengaruhi oleh teori ini.

Dewasa ini, teori yang digunakan adalah konstruktivisme. Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa siswa sudah memiliki pengalaman.  Tugas guru adalah merangkaikan pengalaman itu menjadi sesuatu yang bermakna. Untuk itu, pedagog seperti John Dewey dalam Democracy and Education (1950) secara jelas mengungkapkan belajar sebagai proses pemaknaan pengalaman.

Dalam kaca mata yang sama, David Kolb, pendiri Experience Based Learning, secara jelas menekankan bahwa ketika pengalaman dipadukan dengan pemahaman akan membentuk sebuah pengetahuan.

Di sini jelas, pengetahuan tidak dimaknai sesederhana sekedar menguasai beberapa teori abstrak sebagaimana kerap disalah mengerti. Ia merupakan hasil yang tercipta dari perpaduan kreatif antara pengalaman dan pemahaman. Artinya, tanpa pengalaman dan pemahaman, mustahil tercipta pengetahuan.

Masalah Mengajar 

Berpijak pada pemahaman ini maka mestinya tidak ada permasalahan siswa dalam belajar. Ia terlahir dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Karena itu, mestinya tidak ada keluhan tentang masih banyaknya siswa ‘bodoh’ dalam kelas dengan motivasi belajar yang ‘sangat rendah’ demikian keluhan yang kerap terdengar dari para guru.

guru bermakna

Apakah keluhan itu benar adanya? Bisa saja. Dengan bantuan teknologi yang memudahkan segalanya,  siswa kita lebih suka mencari jalan yang lebih mudah dan aman. Apa yang sulit yang barangkali menjadi bagian dari pengalaman orang dewasa tidak bisa dipahami. Mereka suka cari yang ‘enaknya’ saja.

Tetapi bila para tokoh pendidikan benar dalam analisis tentang potensi siswa dalam belajar, maka kita (para guru) mesti sadar bahwa masalahnya ada pada para guru.  Ada sesuatu yang salah

Jelasnya, apakah pengetahuan yang diajarkan adalah sungguh sebuah produk dari pengalaman dan pemahaman, atau sekedar beberaan teori yang tentu saja sangat tidak menarik dan membosankan bagi siswa kita?

Tidak hanya itu. Kebosanan itu juga ekspresi bahwa model pembelajaran itu sama sekali tidak mengikuti apa yang dikehendaki otak. Para peneliti organ terpenting manusia itu sepakat bahwa penerimaan informasi akan lebih mudah dan kuat bertahan apabila dikombinasikan dengan gerak. Dalam konteks ini, pembelajaran aktif merupakan cara terbaik dalam membentuk pengetahuan yang tangguh.

Kenyataannya, ada asumsi, semakin siswa ‘tertib’ dalam kelas semakin baik. Aneka gerakan selalu dianggap mengganggu. Padahal apa yang dilakukan adalah refleks dari kebutuhan otak yang butuh penyegaran oksigen demi mempermudah proses penyerapan informasi.

Tetapi itu pun guru tidak bisa dipersalahkan. Niat untuk melakukan pembelajaran menarik yang berbasis otak (brain-based-learning), tentu sangat dikehendaki guru. Guru tentu saja senang melihat siswanya senang dan bukan sebaliknya gembira melihat anak didiknya terpaku bisu dalam situasi stress.

Tapi kadang ia terpaksa melakukannya karena terkejar oleh tuntutan materi. Tujuan pembelajaran bukan lagi dihasilkannya kompetensi maksimal atau adanya outcome maksimal tetapi sekedar mengejar diselesaikannya materi.

Transformasi Pengalaman

Apa yang mesti dibuat membangun sebuah pembelajaran bermakna? Tanpa terjebak dalam aneka janji muluk seperti mengganti kurikulum sebagai solusi atau tawaran mesianik yang sekedar dibesar-besarkan demi mencapai niat terselubung, pembaharuan mesti punya pijakan yang kuat.

Yang dimaksud, rangkaian pengalaman masa silam perlu jadi pembelajaran bermakna agar kita tidak jatuh lagi ke kekeliruan yang sama.  Dalam bahasa Tony Buzon, tercipta self-recovery system dimana pengalaman itu menjadi pembelajaran sehingga apa yang tidak ada bisa diakomodir dan yang sudah baik bisa ditingkatkan lagi.

Bila proses ini terus dihidupi maka sebuah proses kreatif telah terjadi. Pengalaman di sini telah menjadi guru terbaik yang mengajarkan kita tentang apa yang mesti dibuat dihindari demi memberikan hidup lebih bermakna dan berbobot.

Pada sisi lain, makna yang dibangun tentu tidak bisa diartikan secara individual belaka. Pengalaman kejatuhan bahkan sudah menjadi ciri kemanusiawian kita. Dalam konteks ini maka belajar dari kejatuhan orang lain bisa jadi sumber pembelajaran agar kekeliruan yang sama tidak diulangi lagi.

Sebagai sebuah bangsa, tuntutan itu lebih kuat lagi. Upaya selalu mengganti kurikulum tentu saja sebagai ekspresi kemajuan dan perubahan itu sendiri. Tetapi menengok masa lalu dimana meskipun sudah kerap diganti tetapi tidak banyak perubahan yang berarti, maka ia jadi pengalaman bahwa permasalahan bisa saja tidak di situ.

Yang pasti, perubahan itu harus berawal dari guru. Siswa pada gilirannya hanya membiaskan apa yang dialaminya bersama dengan guru.

Sumber: Flores Bangkit 23 Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s