13. Hari (tanpa) Pendidikan

Hari (Tanpa) Pendidikan

Hardiknas mestinya menjadi sebuah momen yang dirayakan penuh syukur. Bisa jadi hasil yang diharapkan belum maksimal tetapi sudah terlihat adanya kemajuan. Ada syukur karena pendidikan telah kontributif terhadap kemajuan sebuah bangsa.

Tetapi mengapa rasa syukur yang diharapkan berubah menjadi kegalauan oleh ketidakpastian? Mustahil bertanya demikian. Tragedi yang menimpa dunia pendidikan belum terhitung kegelisaan siswa yang harus stress adalah tanda tentang masih jauhnya kita dari harapan.

Duka Pendidikan

PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan lembaga internasional yang cukup terpercaya. Ia mengukur prestasi literasi membaca, problem solving pada matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun.dukakk

Lembaga yang dikoordinasikan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) yang berkedudukan di Paris, Perancis ini pada tes tahun 2012, menempatkan Indonesia pada nomor urut kedua dari belakang dari 65 negara yang diteliti. Hasil itu lebih buruk dari tahun sebelumnya yang menempatkan Indonesia keempat dari belakang alias 41 dari 45 negara yang diteliti.

Data lain yang dihadirkan oleh TIMSS (Trends in International in Mathematics and Science Study) pun tidak jauh berbeda. TIMSS yang mengukur prestasi matematika dan Sains SMP pun memberikan hasil yang mestinya membuat kita resah. Dari empat tingkatan pencapaian siswa yakni rendah, menengah, tinggi, dan lanjutan, maka 95 % siswa Indonesai berada di tahap menengah atau intermediate.

Inilah duka yang mestinya disadari. Hal itu belum terhitung stress yang dihadapi siswa yang menjelang UN. Bila PISA dan TIMSS meneliti kemajuan pendidikan pada anak usia di bawah 15 tahun maka sudah pasti anak Indonesia akan memiliki prestasi yang sangat rendah.

Mengapa? Pada usia ini, lebih terutama oleh peralihan dari masa kanak-kanak kepada remaja, secara psikologis mereka membutuhkan aneka ruang ekspresi. Pembelajaran harusnya menarik dan memungkinkan mereka mengeksplorekan semua kemampuannya.

Kenyataannya, di negeri ini, jusetru mereka terkungkung. Mereka dipaksakan menjadi dewasa oleh model ujian yang tidak mendidik. Tak heran, pasca UN, kita temukan reaksi aneh. Coret seragam, pawai seolah-olah sudah lulus atau bahkan langsung terlibat dalam tawuran (hal yang tidak kita sukai) begitu kerap terjadi. Mereka hanya mau tunjukkan, yang selama ini terjadi adalah duka dan kini mereka balik ekspresikan dalam aneka tindakan yang tentu saja tidak kita sukai, apalagi dukung.

Belas Kasih

Apakah duka itu disadari? Pada tataran wacana, pemerintah sudah menunjukkan analisis yang membenarkan bahwa data memilukan itu juga menjadi pertimbangan. Jelasnya adanya masalah yang bersifat nasional yang pada gilirannay perlu dibenahi secara radikal.

Yang terjadi justeru tawaran sporadis. Upaya mengarantinakan siswa agar bisa berhasil pada level internasional merupakan salah satu contohnya. Tak heran Indonesia tidak sekali menjadi juara bahkan juara umum.

Secara promosi, nama Indonesia (semoga saja) dikagumi di level internasional. Dalam kenyataan tidak banya pengaruh. Dunia internasional tidak banyak mengandalkan tes karena tahu bahwa pencapaian itu tidak menggambarkan realitas pendidikan suatu negara.

Kenyataan mengkuatirkan bisa saja tidak terlalu ditanggapi. Pemerintah lebih gembira dengan pencapai UN. Bayangkan saja, sebuah negara mesti dikagumi oleh negara di dunia karena terbukti secara nasional bisa meluluskan siswanya hampir 99%.

Lebih lagi kalalu model soal, seperti dikatakan Kemendikbud M. Nuh, mendekati soal PISA maka bisa dibayangkn kekaguman dunia internasional pada Indonesia. Nyatanya tidak demikian. Kemunduran malah kian terjadi sementara kita masih ‘nekad’ melaksanakan model yang secara pedagogis tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Realitas duka tentu tidak bisa dibiarkan. Ia harus mendorong adanya pembaharuan. Titik sentral perubahan harus mulai dari pemerintah sebagai pengambil keputusan. Mengutip Michael Portillo, menteri Pendidikan pada era John Major, pemerintah mengambil peran sentral untuk menjamin agar kebebasan individu itu terjamin.guruku

Hal itu tentu bisa tercapai kalau tokoh yang dipercayakan sungguh memiliki komitmen nasional. Mereka punya nyali untuk berjuang demi bangsa ini hal mana terlihat dalam kebijakan popular yang lebih prorakyat dan bukan sekedar pertimbangan sesaat yang barangkali juga sesat. Sebaliknya perubahan akan sekedar sajian bibir belaka tanpa niat baik jangka pendek apalagi jangka menengah dan panjang,

Harapan perubahan itu bisa saja terlalu tinggi. Yang minimal dimiliki adalah rasa belaskasih hal mana ditulis Schopenhauer dalam The Basis of Morality, 2005. Baginya, moralitas perlu didsaarkan pada fenomen setipa hari dari belas kasih, partisipasi yang cepat dan independensi di atas pertimbangan lainnya.

Fondasi kuat dari pemerintah tentu tidak bisa bersifat tunggal. Ia perlu diikuti oleh implementasi di lapangan. Kenyataan menunjukkan kesuksesan pendidikan tergantung dari kreativitas dan inovasi yang diharapkan dimiliki oleh guru.

Penegasan ini tidak kosong. Dari hasil penelitian PISA, negara-negara terdepan dalam pendidikan seperti Finlandia, Jepang, Singapura, karena memiliki guru yang berkualitas. Mereka punya komitmen dalam mengajar dalam arti tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan yang dimiliki tetapi menjangkiti siswa dengan rasa ingin tahu sehingga memungkinkan siswa untuk terus mencari.

Harus diakui realitas kita masih jauh. Untuk periode yang cukup lama, profesi guru menjadi tempat buangan bagi yang ‘tidak laku’ di bidang lain. Guru jadi pilihan terakhir, padahal pada tangan mereka ditempah generasi masa depan yang hidup di masa kini.perbaikan

Di atas semuanya akan sia-sia ketika orang tua tidak memainkan perannya sebagai pendidik utama. Masa emas anak justeru berada dalam interaksi dengan orang tua. Sekolah dan pemerintah akan mengembangkan dasar yang sudah ditanamkan oleh orang tua.

Harus diakui aspek ini kian dibutuhkan. Di tengah globalisasi dengan aneka pengaruhnya, keluarga menjadi pijakan. Nilai yang dibiasakan dari rumah akan jadi tuntutan di mana mereka berada. Nilai dari rumah inilah yang perlu ditegakkan kembali.

Akan menjadi lengkap ketika nilai rumah itu diteruskan. Sekolah jadi rumah agar anak merasa betah dalam pendidikan dan merasa nyaman. Itu akan jadi lebih lengkap kalau negara ini juga bak sebuah rumah untuk semua orang. Di sana kebahagian ditemukan dan pendidikan kita menemukan maknya yang sebenarnya.

Robert Bala. Guru dan Pendidik.

Sumber: Flores Bangkit 01 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s