(4) Guru, Merubah Mindset

Guru, Merubah Mindset

Mini-workshop sehari yang bertujuan utama memperkenalkan Kurikulum 2013, sengaja didisain lain. Kepada 250 peserta seminar tidak langsung dibahas tentang kurikulum. Penjelasan demikian hanya akan mendatangkan antipati karena kurikulum baru dianggap sebagai beban berat. Sikap enggan berubah pun akan muncul.

Karena itu miniworkshop justru diawali dengan persiapan. Ibarat menanam, dibutuhkan upaya ‘mencakungkul’nya sehingga lebih gembur dan siap untuk ditanam. Untuk itu, selama 90 menit pertama, Robert Bala, yang memiliki latar belakang Public Speaking dari Universitas Complutense Madrid, memesonakan peserta dengan ajakan untuk menanamkan mimpi dalam diri anak.

MiniWorkshop Larantuka

MiniWorkshop Larantuka

(Narasumber Robert Bala, Pengamat Pendidikan Nasional dan Drs Lukas Pusi Kein, M.M, dari Dinas Pendidikan Propinsi NTT)

Bala yang juga direktur pada Tunas Indonsia Junir High School Jakarta mengajak peserta untuk membayangkan bahwa apabila pada tahun 2050 harus mendirikan Banda Internasional terbesar di dunia, maka di mana direncanakan akan dibangun. Peserta diminta untuk berangan.

Sebagian peserta memiliki pilihan satu-satunya yakni di darat, sebuah keniscayaan karena kota Larantuka berada di lereng guung Ile Mandiri. Mustahil memotong gunung itu hanya untuk mendirikan bandara itu. Yang lain lagi mengungkapkan kemustahilan karena aneka kendala yang ada seperti secara geografis dan juga laut yang ada di depannya.

Terhadap masalah ini, Robert Bala, yang juga penulis pada harian Kompas mengarahkan peserta untuk melihat Kansai International Airport di Jepang yang nota bene terlihat seperti berada di atas laut. Sebuah kemustahilan tetapi itulah Jepang. Imajinasi dari siswanya memungkinkan mereka bermimpi dan akhirnya menghasilkan bandara termegah di laut itu.

Memasung Siswa

Aplikasi dari cerita itus angat jelas. Pendidikan adalah soal penanaman imajinasi. Adalah tugas guru untuk memberikan motivasi agar siswa dapat melaksanakan sendiri pekerjaan itu. Tugas guru untuk memberanikan siswanya melakukan sesuatu dan mengambil alih tugas pembelajaran itu.

Tetapi apa yang terjadi dalam kenyataan? Tiga ilustrasi berikut bisa membantu menyibak ketimpangan yang kerap terjadi. Strategi penjinakan gajah merupakan contoh pertama. Untuk menjadikannya jinak, sang gajah dirantai sehingga susah bergerak. Ia rasakan bahwa gerakan itu membuatnya sakit. Karena itu hal terbaik adalah diam di tempat.

Hal itu terjadi ketika rantai besi itu digantikan dengan tali. Karena sudah terpola dengan rantai yang membatasi ruang gerak maka ia pun tidak mau menggunakan kekuatan untuk memutuskan tali itu. Padahal dengan gerak sedikit saja, hal itu sudah bisa terwujud. Ia adalah ekspresi sikap orang yang memiliki mentalitas seakan sudah ‘terantai’. Ia merasa pola lama sudah begitu dan sulit diubah lagi. Guru dalam kategori ini mustahil mengadakna perubahan karena sudah terbiasa. Ia sudan menggap dirinya tidak bisa karena memang demikian adanya. Segala sesuatu sudah ditakdirkan karena itu sia-sia berusaha. Padahal kendala itu mestinya tidak berarti apa-apa. Yang membuat persoalan menjadi sulit adalah pikirannya dan bukan realitasnya.

Otak butuh gerakan. Mengajar harus ikut kemauan otak.

Otak butuh gerakan. Mengajar harus ikut kemauan otak.

Ilustrasi kedua tentang kutu anjing yang juga memberikan pembelajaran berarti. Semestinya kutu anjing punya kekuatan luar biasa untuk melompat yang katanya bisa mencapai 300 kali ukuran badannya. Kita bisa membayangkan gedung tertinggi di dunia pun bisa dilampaui, malah bisa tiga sampai empat kali lipat lebih tinggi.

Tetapi ketika ditempatkan di ruang setinggi kotak korek api, maka lompatannya menjadi sangat terbatas. Setelah beberapa lama, bila dikeluarkan dari kotak, ia akan tidak melompat tinggi. Ia hanya bisa melompat setinggi korek api.

Itulah kemampuan siswa yang bisa ‘melompat’. Mereka bisa melaksanakan hal-hal luar biasa. Tetapi terkadang pendidikan memasung kreativitas mereka. Albert Einstein benar ketika mengatakan bahwa sekolah atau pendidikan telah memasung kreativitasnya. Yang diajarkan di sekolah adalah sesuatu yang lain daripada yang dialami dalam kehidupan.

Gambaran tentang ikan dari air laut lepas yang dimasukkan ke dalam akuarium pun menjadi contoh lain. Di laut lepas, ia begitu lincah karena setiap kali selalu berada dalam hadangan bahaya. Tetapi ketika dimasukkan ke dalam akuarium, ia hanya bergerak dan berputar-putar nyaris di tempat yang sama.

Karena itu, setelah beberapa lama, kalau dilepaskan kembali di air laut, maka dengan mudah ikan besar akan melahapnya. Ia adalah model pendidikan yang terlalu membataskan siswa pada hal-hal yang mungkin menurut kita baik. Padahal kalau diteliti, ia hanya sekedar melatih sesuatu tidak melihat konteksnya. Berputar di tempat yang sama, bisa dibenarkan ketika ikan berada di akuarium. Tetapi ketika berada di laut lepas, ia harus siap untuk berlari lagi.

Ia adalah gambaran pendidikan yang terlampau mengecilkan kemampuan anak. Sialnya, anak pun hanya bergerak ‘sejauh’ yang diizinkan guru. Kreativitas jauh. Orang seperti ini lalu hanya menjadi korban bagi orang lain.

Beralih

Aneka kendala yang dimaksudkan di atas perlu disikapi. Hal utama adalah mengembalikan pendidikan pada pemberian motivasi. Guru perlu menyadari tugasnya sebagai penyokong dan pemberi motivasi kepada anak. Ia perlu menciptakan kondisi agar siswa dapat mengungkapkan dirinya dan berkreasi.

Mengutip Anatole France (1844-1924):Sembilan per sepuluh pendidikan adalah memberi dorongan. Itu berarti yang dilakukan guru adalah memberanikan siswa untuk melakukan sesuatu.

Dalam proses itu tentu tidak seluruhnya berjalan mulus. Malah bisa terjadi kekeliruan yang mendasar. Dengan metode TEFCAS, sebagai huruf depan yang mewakili seubah elemen pembelajaran, ia menunjukkan bahwa Trial (kegagalan) adalah bagian yang tidak terpisahkan.

Mengapa? Kegagalan akan menjadi sebuah ‘Event’ atau perstiwa bermakna. Seseorang akan mengingat hal itu sebagai peristiwa penting,terlepas apakah itu sebuah kesuksesan atau kegagalan. Ia bak lesson learning penting yang sangat berarti karena dari sana akan muncul Feedback bermakna.

Umpan balik itu bila bernuansa positif maka akan dilanjutkan. Tetapi bila masih ada hal yang belum maksimal maka aka nada proses Check kembali. Dari Check itu akan ada penyesuaian (Adjust) tertentu. Akhir dari proses ini diharapkan adanya sebuah Succeed atau kesukesan.

Bila pemahaman seperti ini maka peralihan akan dianggap sebagai sebuah proses pembelajaran penting yang membuat kita berani untuk menyikapi tantangan secara konstruktif.

Robert Bala. Pegiat dan Pengamat Pendidikan. Diploma Public Speaking Universidad Complutense de Spanyol. (Tulisan ini dirampugkan saat berada di Bandara Penfui Kupang)

Sumber: Flores Bangkit 29 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s