(6) Mengajar, Menuruti Kemauan Otak

Mengajar Menuruti Otak

Agak aneh. Kita belajar menurut otak. Kita berdalih, kalau belajar pasti saja yang digunakan otak kita. Sebuah ungkapan spontan yang bisa ada benarnya. Setiap aktivitas pasti menyertai otak karena ia adalah pusat kontrol seluruh elemen tubuh kita.

Tetapi ketika yang ditekankan adalah belajar menuruti otak maka secara jelas ditunjukkan bahwa otak memiliki cara kerja yang mestinya diikuti. Hal itu akan sangat membantu siapa pun, terutama siswa dan guru, untuk dapat menerima dan mengola informasi sehingga benar-benar bermanfaat untuk kehidupan.
09Yang terjadi, terkadang cara kerja otak itu tidak dituruti. Orang menuruti kehendaknya. Akibatnya, informasi yang diolah tidak lengkap. Orang juga akhirnya mengerti sesuatu secara terpisah. Pembealajaran pun menjadi tidak efektif.

Lalu, bagaimana  mengadakan pembelajaran menuruti kemauan otak? Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami bahwa otak kita memiliki bobot sekitar 1.5 kg. Ia terdiri dari 78% air, 10% lemak, 8 % protein. Otak menggunakan 20% energi dan 20% oksigen. Dalam otak terdapat 100 miliar sel saraf aktif.

Dari segi ini dengan proporsi otak yang mencapai 78% maka kebutuhan akan air adalah fundamental. Semakin banyak air yang diminum, akan membantu kesegeran otak. Hal itu juga bisa diaplikasikan di sekolah. Anak-anak akan lebih terbantu dalam belajar mengajar kalau difasilitasi dengan persediaan air yang cukup. Dengan demikian tanpa melanggar etika, mereka perlu diizinkan untuk meneguk air.

Sementara kebutuhan oksigen memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan gerak. Dengan bergerak maka sirkulasi oksigen akan menjadi lebih baik. Belajar karena itu perlu mengakomodir kebutuhan untuk bergerak. Dengan bergerak maka terbentuk ruang kosong yang memungkinkan masuknya informasi yang diperoleh.

Sayangnya, pola lama terkadang begitu kuat. Siswa diharuskan duduk dengan tenang selama guru berbicara. Berulang lagi kita mengharuskan anak untuk bersikap terpaku tanpa gerak. Semakin diam, semakin baik. Padahal tuntutan otak lain. Ia butuh gerak. Hanya dengan demikian ia dapat menampung informasi yang lebih banyak.

04 - Copy(Ibu Emiliana Lou Tolok, guru IPS pada SMPN 1 Atap Karangora salah seorang peserta workshop dari Lembata yang antusias menyimak pelatihan)

Lalu bagaimana cara kerja sel saraf dalam proses belajar? Cara kerja otak bersifat radial. Ia bergerak ke luar dan bukannya tertutup secara ke dalam. Otak ternyata memiliki jaringan yang menyebar dan diperbanyak ibarat ranting atau akar. Ada ranting utama yang meluas ke ranting yang lebih kecil dan lebih kecil lagi.

Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran hanya bisa sukses kalau  apa yang dipelajari diungkapkan bak sebuah pusat yang menyebarkan sinarnya ke luar.  Setiap garis mewakili satu bagian atau sisi penting dari hal utama. Selanjutnya garis berbentuk membusur. Dari ujungnya akan terbias lagi lebih dari satu sesuai dengan sub bagian yang ingin dikembangkan.

Melalui pembuatan mindmaping yang nota bene disponsori oleh Tony Buzon itu, akan muncul kesadaran tentang keterkaitan antar bagian. Bagian itu pun akan diingat karena hanya memiliki kata kunci atau pun dibuat dalam bentuk gambar. Dengan ungkapan singkat itu, akan diperluas dalam bentuk cerita karena ia hanya mengingatkan akan sebuah peristiwa di baliknya.

Melawan Otak?

Kalau memang demikian cara kerja otak, mengapa kita melakukan pembelajaran yang justru melawan otak? Tidak mudah untuk menjawabnya. Tetapi yang pasti, pembelajaran yang melawan otak karena pembelajaran dipahami sebagai proses transfer pengetahuan. Pendekatan yang dipilih berpijak pada isi atau yang dikenal dengan istilah: content based approach.

Artinya, guru memahami bahwa apa yang ada dalam buku teks adalah ketentuan yang harus diikuti. Siswa diminta untuk mencatat semua yang ada tanpa ada usaha pun untuk menjadikannya lebih ringkas dan mudah dimengerti. Pembelajaran pun cendrung ceramah karena guru yang menganggap diri sebagai pusat (teacher centered) harus menyampaikan kepada siswa apa yang dia tahu kepada anak.

Pembelajaran melawan otak juga disebabkan oleh minimnya persiapan pembelajaran. Seorang guru yang baik, akan merancang proses pembelajaran secara kreatif mulai dari menit pertama hingga selesai. Ada proses yang harus dilewati tahap demi tahap. Dengan kesadaran bahwa siswa hanya bisa berkonsentrasi selama 10 menit pertama maka guru akan merancang pembelajarannya secara berurutan dengan melibatkan dimensi psikomotorik dalam prosesnya.

Siswa diarahkan untuk bergerak dalam proses mencari dan menemukan informasi. Dengan bergerak pun, oksigen yang nota bene sangat dibutuhkan tubuh, tanpa disadari, terakomodir dalam proses pembelajaran. Dengan bergerak, maka otaknya akan lebih siap untuk menerima dan mengelola informasi.

Menjaga Otak

Mengingat fungsinya yang sangat penting di atas maka otak dijaga. Dengan demikian, ia akan siap untuk memahami sesuatu yang baru. Pertama, nutrisi berupa asupan makanan dan minuman yang sehat sangat dibutuhkan. Dengan asupan gizi yang cukup maka proses pemahaman akan terbantu.

Hal itu tentu berbeda dengan anak yang memiliki asupan yang tidak memadai. Konsentrasi akan hilang karena energi yang nota bene hampir 20 persen yang terserap oleh otak tidak akan berfungsi secara maksimal. Karena itu, mendukung siswa dengan asupan gizi merupakan sebuah keharusan.

Kedua, kebutuhan akan oksigen. Pembelajaran sejalan dengan otak akan memungkinkan peredaran oksigen secara lancar. Lewat gerakan, dengan minum air, dengan makanan yang bergizi, maka siswa akan  menjadi lebih siap menyelami informasi dan secara kreatif menghasilkan sesuatu yang baru dan menarik.

Ketiga, kebutuhan akan kasih sayang. Peran guru dalam pembelajaran, seperti dikatakan dalam tulisan terdahulu adalah memotivasi. Dalam proses ini maka sikap kasih sayang menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting. Anak yang dibesarkan dalam suasana kasih sayang, akan bersikap demikian pula kepada orang lain. Sebaliknya bila dibesarkan dalam makian atau hinaan, maka akan menjadi seperti itu pula perilakunya.

Hal ini tentu sangat penting karena kekerasan sering dianggap sebagai jalan keluar agar bisa ‘mendisiplinkan’ siswa. Tetapi kita tahu, kedisiplinan karena takut tidak lama bertahan.

Keempat, informasi. Otak butuh informasi dan selalu haus atas informasi. Dalam konteks ini, siswa perlu diberikan informasi yang baik dan berguna. Mereka juga harus dibantu untuk mengola informasi itu secara baik dan benar. Dan seperti dikatakan sebelumnya, informasi itu akan bertahan kalau metode pembelajaran disesuaikan dengan ‘maunya otak’.

Robert Bala. Guru pada Sekolah Tunas Indonesia Bintaro Jakarta. (Tulisan ini dirampugkan saat berada di Pesawat Sriwijaya Air, Penerbangan Kupang-Surabaya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s