14. UN SD, LOGIS KAH?

UN SD, LOGIS KAH?

Tanggal 25 April 2013, penulis menurunkan artikel di Kompas dengan judul: UN Terakhir. Sebuah kajian dari sisi pendidikan tentang UN yang kekurangan penyokong pendidikan. Ia justeru hanya merusak kualitas pendidikan.

Namun tahun ini, ia masih berjalan. SMA dan SMP sudah melakukannya, dan kini hal itu melanda anak SD. Jutaan siswa mengikuti Ujian Akhir Standar Nasional (UASBN) SD, tanggal 19 – 21 Mei 2014.UAS BN STRESS

Apa yang salah dengan UASBN SD? Mustahil bertanya demikian. Bila UN SMA dan SMP ‘bisa diterima’, maka itu tidak berarti harus terjadi dengan SD. Ada acuan pendidikan yang memberikan wewenang kepada sekolah untuk menentukan kelulusan.

Kalau begitu, mengapa hal itu dilakukan secara nasional? Mengapa anak yang masih kecil ini harus masuk dalam suasana stress dan dipaksakan menangis dalam aneka ritual keagamaan hanya agar mereka itu bisa menghadapi UASBN dengan baik? Apakah ujian itu sejalan dengan tuntutan tugas perkembangan anak ataukah sekedar memenuhi ego orang dewasa?

Tidak Dipahami

Psikolog Hurlock Elizabeth, dalam Developmental Psycholgy, mengategorikan anak usia anak-remaja dalam dalam tiga kategori: early adolescent atau awal remaja (10 – 12 tahun), tengah remaja ataumiddle adolescent (13-16), dan remaja akhir atau late adolescent (17 – 21) tahun.

Dalam pembagian ini, siswa kelas 6 SD memasuki tahap awal remaja yang ditandai dengan adanya perubahan fisik. Mereka mengalami bahwa bukan kanak-kanak lagi (karena sudah ada perubahan secara fisik), tetapi secara mental masih kanak-kanak.

Itu berarti secara internal mereka sudah mengalami kegalauan. Emosi mereka tidak stabil. Lesu dan gembira, rasa percaya diri dan ragu-ragu, ketidaktentuan dan kepastian menentukan cita-cita bergantian begitu cepat. Perubahan emosi ini diikuti dnegan begitu cepat tanpa memberi tampat pada pertimbangan mendalam.

Keadaan ini menjadi kian runyam karena remaja awal merasa tidak dpahami. Orang dewasa bukannya membawa kepastian tetapi malah menambah kebingunan oleh penilaian yang tidak konsisten. Remaja misalnya kerap tidaik diberi tanggungjawab karena dianggap masih kanak-kanak. Tetapi ketika bertingkah seperti kanak-kana, mereka mendapatkan teguran sebagai orang dwasa hal maan tentu saja membingungkan.

Pendidikan, membingungkan

Perubahan fisik dan psikis ini mestinya jadi pertimbangan utama dalam merancang pendidikan. Anak yang tengah galau, yang secara fisik sedang berubah secara sangat drastis, butuh diberi ruang agar mereka dapat mengekspresikan dirinya.

Singkatnya, yang dibutuhkan remaja awal adalah ruang agar mereka dapat berekspresi secara maksimal. Di sinilah dukungan yang sangat dinanti. Dengan demikian kegalauan internal tidak membias dalam aneka tindakan anarkis dan aneka kenakalan lainnya.

Yang terjadi justeru lain. Pendidikan lebih cendrung ‘memenjarakan’ dan bukannya memberi ruang kebebasan. Hal yang paling mencekam, mereka sudah ‘dikurung’ dalam aneka pemantapan dan pelajaran tambahan agar mereka lincah mengerjakan soal ujian.

Ujian Nasional karena itu tidak cocok untuk siswa SMP, dan apalagi siswa SD. Sebuah sistem yang membuat stress. Mereka juga terlalu dini untuk diberi beban psikologis yang terlalu kuat. Mereka juga perlu mengalami iklim pendidikan yang menggembirakan dan bukannya membuat sedih yang tentu saja menyedihkan.

Bila antara tuntutan internal sesuai dengan tugas perkembangan anak remaja tidak terpenuhi malah dibebani dengan metode pendidikan dan terutama model ujian yang mengekang dan memenjara, tentunya hasilnya tidak memuaskan.

Lihat saja, secara intelektual, jelajah yang diharapkan tidak dimaksimalkan. Realitas remaja yang sudah bertanya dan mempertanyakan dikekang dalam metode menghafal model yang sudah baku. Anak akhirnya merasa bahwa pendidiakn bukannya membebaskan dan menyenangkan tetapi malah mengekang dan mengerdilkan.

Secara psikomotorik, tuntutan gerak dari dalam itu tidak terwujud. Anak yang suka bergerak ‘dipaku’ dengan aneka tuntutan menguasai materi pelajaran. Tak heran, selama persiapan ujian mereka menjadi ‘begitu manis’. Tetapi setelah selesai UN, mereka berteriak histeris karena sudah terbebas dari aneka tekanan. Kenakalan remaja, tawuran, tindakan ngebut-ngebutan yang tentu saja tidak kita sukai begitu kerap terjadi.

Secara afektif, kemandekan juga terjadi. Rasa yang harus dikembangkan tidak terlalu maksimal mendapatkan ruangan ekspresi. Anak menjadi tidak seimbang dalam perkembangan oleh penekanan pendidikan yang lebih mengarah kepada otak dan bukan ke hati. Bukan perkembangan menyeluruh melainkan hanya sebagian saja.

Ujung dari semuanya tentu tidak mengherankan. Secara internasional, realitas kualitas pendidikan kita terdapat paling belakang alias nomor 64 dari 65 negara yang diteliti melalui programa TheProgram for International Student Assessment (PISA). Sebuah realitas yang tidak berbeda dengan apa yang digambarkan mengingat PISA mengambil basis anak berumur di bawah 15 tahu, sebuah periode yang secara tak sadar sangat mengkuatirkan dalam dinamika pendidikan Indonesia.

Tugas Perkembangan

Mengikuti alur pemikiran ini maka masih bisa diterima UN SMA, karena mereka sudah siap untuk berkompetisi. Mereka sudah pada tahap remaja akhir dengan perkembangan yang menuju ke kematangan kepribadian.

Namun hal itu tidak masuk akal alias tak logis untuk UN SMP dan apalagi UASBN SD. Mereka tidak pantas mendapatkan perlakuan ‘tak manusiawi’ dari pemikir pendidikan yang begitu getol menjadikan mereka sebagai ‘kelinci percobaan’ terhadap metode pendidikan dan ujian yang sama sekali tak manusiawi.

Untuk itu, pendidikan perlu kembali menjadi bagian dalam menyokong tugas perkembangan anak. Artinya ia mengambil bagian dalam menyokong apa yang masih kurang, memberi kepastian di tengah kegalauan, dan bukannya menjadi masalah baru.

Di sini yang paling penting dibutuhkan anak adalah ruang gerak, hal ini mesti menjadi tugas pemerintah. Mereka perlu diberi ruang untuk berekspresi karena ruang itu akan sangat berguna pada perkembangan selanjutnya. Tuntutan mencoba perlu diperluas sehingga perlahan mereka bisa belajar juga dari kelasalahan.UAS B

Tuntutan seperti ini harusnya jadi kesadaran. Sudah saatnya pemerintah memberi ruang ini lebih maksimal kepada unit pelaksanakan pendidikan yakni sekolah agar mereka merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi sendiri pendidikan. Pemerintah lalu memsupervisi tanpa perlu menjadi pelaksana tunggal hanya karena demi mengukur pendidikan melalui ujian yang tersentralkan.

Kalau kesadaran ini terjadi maka pendidikan kita akan menjadi lebih baik. Penelitian internasional pun akan mejadi lebih baik seirama perubahan yang dibuat sekarang.

Flores Bangkit 18 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s