(5) Guru “Kendatipun”

Guru “Kendatipun”

Miniworkshop yang nota bene hanya berlangsung sehari itu tidak akan lengkap kalau tidak disertai dengan praktik. Hal itu akan menjadikan workshop yang lebih tepat dikategorikan seminar itu menjadi lain. Guru tidak hanya menerima sesuatu, tetapi di depan rekan-rekannya, coba mengekspresikan apa yang dipahami selama kegiatan sehari itu.
03 - Copy
Pada bagian pertama, guru diminta untuk membuat Mindmap berdasarkan cerita tentang Jack dan Pohon Kacang. Dengan panduan sebelumnya, setiap guru diminta mengaplikasikannya dalam rangkaian garis lengkung mindmap.

Sangat terlihat kreativitas dari para guru. Ada yang membuatnya begitu teratur dengan garis melengkung dan warna berbeda. Tetapi ada yang tidak bisa berbuat apa-apa karena ceritanya terlalu cepat dan panjang. Mereka tidak sanggup menulis apa yang disampaikan oleh cerita itu.

Untuk menggabungkan ide yang ada maka masing-masing kelompok diminta untuk bekerja sama membuat satu mindmap. Kelihatan dengan kerja sama maka informasi itu menjadi lebih lengkap. Informasi yang diperoleh masing-masing digabungkan menjadi sebuah gambaran yang utuh.

Selanjutnya masing-masing kelompok diminta untuk mengembangkannya menjadi sebuah kegiatan. Ada yang coba mendramatisasikannya. Setiap anggota dibagi dengan peran berbeda untuk melakonkan cerita itu. Kelompok lainnya merangkainya dalam sebuah siaran televisi, membuat puisi, membuat poster, hingga membuat puisi dan nyanyian.

Dengan praktik tersebut, terbangun kesadaran sekaligus mengajak guru untuk melihat bahwa hal itu merupakan metode pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Pembelajaran tidak bisa diawali dengan mendeskripsikan tujuan dan inti yang akan disampaikan. Kalau demikian maka sudah dipastikan bahwa pembelajaran akan berbentuk ceramah.

Sebaliknya, pembelajaran mestinya diawali dengan praktek. Siswa diminta untuk membuat sesuatu, seperti drama, dan kemudian baru dijelaskan tentang drama. Di sini kita membangun pengetahuan berdasarkan apa yang sudah dimiliki. Dan sudah dapat dipastikan, pembelajaran akan menjadi sangat aktif karena setiap siswa akan berusaha melakonkan sesuatu yang disenangi. Di sana pun guru dapat melihat potensi anak untuk bisa diarahkan lebih lanjut.

Guru, Kunci Utama

Pada saat evaluasi, narasumber mengajukan beberapa pertanyaan mendasar seperti siapa yang menjadi kunci utama dalam pembelajaran aktif. Tidak sedikit guru yang menekankan bahwa kunci utama adalah siswa karena merekalah yang harus aktif. Sebuah cara pandang yang bisa berujung pada kekecewaan. Guru misalnya mengharapkan agar siswa aktif tetapi tidak disertai dengan strategi yang memungkinkan mereka bisa mengungkapkan diri lebih lanjut.

Kunci utama pembelajaran aktif adalah guru. Yang dimaksudkan di sini bukan berarti guru yang harus ‘memborong’ kegiatan belajar mengajar. Tidak. Yang dimaksudkan, bagaimana guru merancang pembelajaran itu dalam aneka kegiatan menarik  yang mengombinasikan gerak, kerjasama, sambil secara tidak langsung membiasakan siswa atas sikap-sikap yang harus dimiliki dalam praktik.

Untuk Kurikulum 2013, metode pembelajaran sudah disiapkan oleh pemerintah. Buku pegangan guru itu akan menjadi acuan dalam proses belajar mengajar. Guru tinggal menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi. Itu berarti sudah ada bantuan yang besar. Tinggal apakah guru bersedia untuk mempelajari dan menyiapkannya dengan aneka media pembelajaran yang ditawarkan? Apakah guru sanggup mencari alternatif lain yang ada di sekitarnya?

Hal ini tentu butuh persiapan dan kreativitas. Persiapan bisa dilihat dari upaya membaca petunjuk pembelajaran. Dan sebagaimana kita tahu, membaca hanya sekali, tidak mungkin mednatangkan ide kreatif yang mirip. Karena itu upaya membaca itu perlu dilaksanakan secara berulang-ulang dan dilakukan dengan jenjang waktu yang agak lama sehingga selama proses itu bisa muncul iluminasi yang menjadi sumber untuk merancang proses pembelajaran.

Secara singkat dapat dirumuskan hal berikut sebagai kata kunci menciptakan pembelajaran aktif. Guru misalnya mestinya tidak memberitahukan apa yang bisa diceritakan oleh siswa. Dengan memberi kesempatan, maka siswa akan merasa dihargai karena ternyata pengalamannya sendiri dapat didengarkan dan mengapa tidak, menjadi sumber pengetahuan.

Dengan memberi siswa bercerita, guru juga menyadari bahwa sumber pengetahuan bukan lagi pada dirinya melainkan pada siswa. Atau lebih tepat, antara siswa dan guru memiliki pengalaman. Tentu pada awalnya siswa mengungkapkan pengalaman, lalu guru mengarahkannay sehingga dapat mencapai tujuan tertentu.

Guru juga tidak perlu mengajarkan apa yang dapat dipelajari sendiri. Dengan membuat tugas terstruktur, siswa dapat mencari sendiri. Guru tinggal mengarahkan jalan dan siswa dapat mengetahuinya. Siswa dapat mengadakan wawancara, bertanya, atau menemukan dengan caranya sendiri informasi tersebut.

Kalau dimengerti dalam aspek ini maka monopoli yang selama ini dilakukan oleh guru akan berkurang. Beban guru pun akan menjadi ringan. Guru tidak lagi memahami proses belajar mengajar sebagai tugas yang sangat sulit tetapi mestinya lebih mudah dan menyenangkan. Guru pun akan terhindar dari aneka stress yang tidak perlu.

Guru “Kendatipun”

Pembelajaran aktif tentu tidak bisa terjadi tanpa persiapan. Dalam proses ini tentu dihadapi banyak masalah. Tetapi guru kreatif tidak akan menyerah kalah. Ia selalu membangun optimisme dalam dirinya untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Tantangan tentu selalu ada, tetapi ia tidak menjadikannya sebagai alasan untuk tidak berbuat sesuatu.

Ia tidak menyerah dengan mempersalahkan orang lain atau kekurangan fasilitas sebagai alasan untuk mengelak. Ia tidak bisa sekedar mengatakan memiliki niat ‘tetapi’ tidak bisa terlaksana karena tidak ada faktor pendukung. Di sini ia hanya menjadi guru ‘tetapi’.

Sebaliknya, dibutuhkan guru ‘kendatipun’ yang mentransformasikan tantangan menjadi sebuah kesempatan untuk menampilkan yang terbaik. Ia sadar bahwa untuk sukses maka yang bisa dirubah bukan tantangan yang nota bene merupakan kondisi eksternal. Yang harus berubah adalah subjek yang coba merubah cara pandang (mindsetnya). Dengan demikian, tantangan itu dapat menjadi sebuah momen berahmat untuk mencapai sukses. Inilah kreativitas yang sangat diharapkan dalam Kurikulum 2013 ini.

Untuk mencapai tujuan ini tentu butuh proses. Itu pun belum menjamin bahwa ketika proses itu diterapkan, semuanya akan berjalan dengan lancar. Kegagalan bisa saja terjadi. Tetapi hal itu perlu dilihat secara positif yakni menjadi kesempatan untuk terciptanya peristiwa yang nantinya menjadi inspirasi.

Robert Bala. Pemerhati dan Pegiat Pendidikan. Guru Bahasa Spanyol pada Universitas Trisakti Jakarta. (Tulisan ini dirampugkan saat berada di Pesawat Sriwijaya Air, Penerbangan Surabaya-Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s