15. KUR(L)IKULUM 2013

KUR(L)KUKULUM 2013

Sudah setahun, kurikulum 2013 diterapkan. Teringat, aneka resistensi yang muncul yang berakibat hanya segelintir sekolah yang ‘dipaksakan’ menerapkannya.

Robert Bala. Pemerhati Pendidikan. Tinggal di Jakarta

Tetapi apakah ia sudah dipersiapkan dengan semestinya? Apakah persiapan itu lebih substasial menyangkut penciptaan iklim pembelajaran sehingga menjadikannya sebagai ‘school learning’ atau sekolah pembelajaran atau sekedar menjadikan guru lebih ‘lincah’ dalam penilaian?Kuli Administrasi

Perubahan atau keharusan berubah adalah hal yang terus didengungkan. Sekolah diharapkan agar mampu menyadari realitas yang terus berubah dan menjadi imperatif untuk juga ikut berubah.

Sayangnya perubahan yang disertai aneka pendasaran kuat (supaya tidak ditolak), tidak menyerap begitu kuat. Implementasi di lapangan akhirnya menjadi timpang. Guru sekedar dilatih untuk menjadi ‘lincah’ dalam memenuhi ketentuan administratif. Sementara itu dinamika pembelajaran yang mestinya diutamakan dikesampingkan.

Hal itu sangat terasa kini dalam kurikulum 2013. Meski sudah tertunda setahun, tidak sedikit sekolah, baru melaksanakan ‘pelatihan’ kurikulum pada awal Juni 2014 ini. Implementasi ideal tentu saja tidak bisa terlalu diharapkan.kurikulumm 2013

Atau, ia bisa terlaksana (karena dipaksakan), tetapi kemampuan menerapkan pembelajaran yang diharapkan tidak terwujud. Mengapa? Model penilaian misalnya akan sangat menyedot energi guru. Cakupan penilaian afektif yang harus terdata dan penilaian pengetahuan dan keterampilan yang harus terbuktikan, akan memusingkan guru. Guru akhirnya tak bedanya menjadi seorang kuli administrasi tetapi jauh dari implementasi pembelajaran menari yang sangat diharapkan.

Kenyataan ini sudah terjadi dalam pengalaman penilaian tahun sebelumnya. Saat hanya beberapa sekolah menerapkannya, pemerintah pun belum menyiapkan instrumen memadai. Akibatnya ketika terjadi pergantian semester, tidak sekolah yang harus menunda pembagian rapor karena begitu banyak yang harus diprint.

Kini, permasalahan akan semakin kompleks karena kelas 8 pun diharuskan, padahal ia tidak melaksanakannya di kelas 7. Terhadap masalah ini, mestinya dievaluasi. Singkatnya, model penilaian sikap yang rumit perlu disederhanakan. Memang di satu pihak, ia perlu membangkitkan kesadaran tentang perlunya penilaian sikap tetapi ia pun tidak bisa menjadi kendala karena terlalu rumit.

Esensi Pendidikan

Kegalauan tentang penilaian yang membingungkan mestinya tidak terjadi kalau esensi dari perubahan itu dipahami. Filsuf Albert North Whitehead dalam filsafat proses atau filsafat organismenya sangat menekankan kesadaran tentang perubahan.

Di sana realitas dipahami bukan sebagai sesuatu yang statis tetapi selalu bergerak dan berubah dalam sebuah dinamika pergerakan yang saling berkaitan dan berkelanjutan.

Itu berarti tuntutan perubahan ada hal mendasar yang masih menjadi esensi yang menjadi inti. Namun ia bersifat terbuka untuk dikembangkan untuk mencapai kepenuhan.

Hal ini mestinya sangat disadari dalam perubahan kurikulum. Keberadaan siswa sebagai subyek pembelajaran darinya dituntut aga kemampuan kritis dan bertanyanya dikembangkan harus menjadi sebuah kesadaran yang tidak bisa digantikan apalagi dirubah dengan alasan apa pun.

Untuk mencapainya memang dibutuhkan upaya menciptakan sekolah pembelajar sebagai basisnya. Di sana peran guru lebih diartikan pada pengembangan potensi siswa. Ia memang memiliki konsep teoritis tetapi aplikasinya akan gagal kalau tidak dilihat perwujudannya dalam keseharian peserta didik.

Guru seperti ini tidak akan ‘text book’ karena ia tahu bahwa pengetahuan hanyalah alat bantu untuk mencapai kepenuhan perkembangan siswa. Sebaliknya ia akan secara kreatif menemukan cara baru yang lebih berdaya guna sehingga peserta didiknya dapat menemukan jalan yang sesuai dengan potensi dirinya.

Hal ini harus diakui menjadi sasaran utama juga dalam implementasi pendidikan. Kenyataanya tidak demikian. Sertifikasi guru lebih diartikan kecapakan administratif yang berimbas pada kenaikan sumber penghasilan yang tidak pernah terjadi di era mana pun sebelumnya tetapi dengan minim malah nihil pertumbuhan peserta didik yang diharapkan.

Tidak hanya itu. Kehadiran kepala sekolah sebagai manajer pembelajaran harus dioptimalkan. Padanya segala komponen disatukan, diberdayakan, dan difokuskan untuk mencapai perkembangan pendidikan yang diharapkan. Dengan daya inovasi dan kreasinya ia sanggup menciptakan lingkungan sekolahnya kondusif untuk membudayakan cara berpikir dan bertindak ilmiah.

Dalam kenyataanya, aneka dana luar biasa untuk pendidikan lebih menjadikan kepala sekolah sebagai bak kuli proyek. Ia menelantarkan dinamika pembelajaran yang harusnya esensial. Bila semua komponen ini dikembalikan kepada habitatnya. Guru dan Kepala sekolah tidak jadi kuli (tinta dan bangunan), tetapi sungguh jadi penggerak utama kurikulum.

Flores Bangkit 09 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s