16. KEDAULATAN BERPIKIR

KEDAULATAN BERPIKIR

“Berdaulat”, telah menjadi kata sakti dalam pilpres 2014. Baik Jokowi-JK, maupun Prabowo-Hata Rajasa mengklaim kedaulatan sebagai inti dari visinya. Ada kesadaran yang dinanti bangsa ini adalah kemerdekaan dan kebebasan menentukan dan mewujudkan diri sendiri.

Namun apa sebenarnya yang menjadi dasar kedaulatan? Dari mana semestinya ia berawal dengan demikian nantinya ia bisa terwujud dalam bidang politik, kebudayaan, atau ekonomi?

Berani Berpikir

Harus diakui, revolusi abad pertengahan yang mengawali kemajuan kini, tidak bisa lepas dari kesadaran tentang dahsyatnya kekuatan berpikir. Rene Descartes (1596-1650) bahkan secara gamblang mengdiidentikkan kemampuan berpikir dengan keberadaan seseorang: cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada.

Keutamaan dalam berpikir inilah yang mesti dijaga dalam pendidikan. Daya berpikir kritis diasah, dan ruang kreativitas dirangsang. Darinya diharapkan terlahir ide cemerlang yang bisa menjadikan sebuah bangsa tampil beda. Artinya, kalau berpikir kritis tidak dikembangkan dalam pendidikan maka aneka degradasi punmuncul sebagai konsekuensinya.

Memang, pikiran yang dibiarkan bebas berkenala, bisa saja ditakutkan kebablasan. Aneka akal tak sehat bisa menggerogoti peserta didik. Dalam bahasa Martin Buber, seperti ditulis dalam Ich und Du, 1923, ada ketakutan bahwa individu (Ich), akan terjerumus dan memperlakukan orang lain bukan sebagai rekan tetapi sebabai obyek (Es) yang bisa dimanipulir.

Kalau pun itu terjadi, justeru di sinilah peran pendidikan. Ia memungkinkan agar individu berani berpikir dan sukses meretas relasi “Ich – Du” yang sangat interpersonal-dialogal itu dapat tercipta. Lewat metode dialogis, jauh dari kesan otoriter yang membelenggu, ia mengarahkan tiap individu untuk berkembang menurut potensi dirinya tetapi selalu dalam konteks ‘zwishen’ atau kebersamaan dengan orang lain. Seseorang berkembang sebagai pribadi tetapi pada saat bersamaan memperlakukan orang lain juga sebagai pribadi. Keduanya berkembang secara utuh dan bersamaan.BERPIKIR KRITIS

Tidak hanya itu. Kematangan berpikir tidak berhenti pada pemahaman melainkan menggugah tanggungjawab untuk mewujudkannya secara kreatif-konstruktif. Seseorang tidak saja kritis tetapi juga punya komitmen membumikan pikirannya sehingga bermakna.

Model pendidikan seperti ini mestinya menjadi keberuntungan untuk bangsa sebesar seperti Indonesia. Aneka inisiatif akan bermunculan karena pendidikannya memungkinkan tiap orang berkembang menurut potensi diri dan terbantu untuk merealisasikan idenya.

Akal yang Mencerahkan

Apakah kualitas berpikir menjadi bidikan utama dalam dinamika pendidikan kita selama ini? Apakah ruang jelajah pikiran benar-benar dibuka agar darinya terlahir pribadi kritis dan kreatif?

Inilah pertanyaan penting yang harus kita akui, tidak pernah digagas secara utuh dalam pendidikan kita. Secara wacana ia indah terpampang tetapi mandek dalam perwujudannya. Kita impikan peserta didik yang kreatif yang siap bersaing di era pasar bebas, tetapi pendidikan kita justeru mengekang mereka dalam aneka pilihan terbatas hal mana dilakukan dalam ujian.

Untuk itu, butuh komitmen capres terpilih untuk merancang ulang pendidikan. Di sana teknokrat terbaik negeri ini perlu terlibat merumuskan haluan pendidikan yang harus ditaati oleh siapa pun dan dalam era kekuasaan mana pun. Kemendikbud selanjutnya hanya sekedar ‘eksekutor’ dan bukan lagi penentu apalagi pengganti kebijakan.

Tentu saja yang diharapkan, kematangan berpikir mesti jadi bidikan utama. Ruang jelajah anak perlu difasilitasi agar darinya terlahir ide-ide kreatif yang memungkinkan bangsa ini lebih berkiprah di dunia internasional. Di sinilah letak kedaulatan dalam arti sebenarnya. Sebuah bangsa yang melahirkan pemikir yang melahirkan ide kreatif dan kosntuktif yang bermakna bagi diri dan berguna bagi sesama.

Kematangan berpikir seperti ini tentu tidak bisa diletakkan dalam konteks program yang nanti dilaksanakan (kalau terpilih), tetapi juga harus dimungkinkan kini, saat pilpres. Maksudnya, kampanye harus jadi ajang mencerdaskan pemilih dengam menampilkan pikiran yang mencerahkan. Di sana ada dialog terbuka sehingga pemilih dipermudah mengenal hidup dan karya calon dan akhirnya merasa yakin bahwa yang terpilih adalah putera terbaik bangsa ini.

Yang terjadi justeru lain. Kampanye telah jatuh sekedar monolog yang lebih mementingkan penyampaian program yang semuanya masih sebatas janji. Lebih disayangkan lagi, kampanye telah menjadi ajang memperdayakan masyarakat dan mengelabui akal sehat lewat aneka manipulasi. Belum lagi disertai upaya tak elok melempar isu di kegelapan dengan harapan hal itu bisa mendulang suara.

Untung saja, meski terus diobrak-abrik, rakyat masih punya pemikiran sendiri. Ia yakin, kedaulatan dalam politik, ekonomi, dan budaya, tidak akan tercapai bila tidak dimulai dari kedaulatan berpikir. Ia pun secara mandiri lewat logika hati, berdaulat dalam berpikir, untuk menentukan pemimpinnya tanpa didikte oleh siapa dan oleh kekuatan mana pun.

Flores Bangkit 13 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s