17. KELULUSAN 100 % ?

Kelulusan 100 %?

Hasil UN tingkat SMP di NTT tahun 2014 semakin membaik. Demikian pernyataan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Petrus Sinun Manuk menanggapi 10 kabupaten / kota di NTT yang mencapai kelulusan 100% (Flores Bangkit 16/6).

Sekias pernyataan itu membuat kita bangga. Mengapa tidak. Ujian Nasional itu begitu ‘mudah’ dilewati siswa NTT. Tetapi apakah itu gambaran kesuksesan pendidikan? Apa yang justeru ditakuti dengan keberhasilan yang terlalu ‘mencengangkan’ itu?

Timpang

Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh tiga hal penting. Konsep pendidikan, menyangkut hal-hal mendasar yang disepakati menjadi acuan nilai yang harus diajarkan. Tentang konsep harus diakui, kita masih gagap. Pergantian demi pergantian kurikulum adalah tandanya. Ada kesan, dengan bergantinya zaman, kurikulum harus diganti.100 %

Padahal konsep yang dimaksudkan adalah upaya konsisten membekali siswa dengan kemampuan bertanya dan menganalisis yang membuat mereka pada saatnya nanti mampu berkreasi. Hal ini didasarkan pada kenyatana bahwa pendidikan telah memampukan mereka untuk berpikir kritis dan kreatif.

Konsep inilah yang diajarkan dalam proses pendidikan. Pilihan metodologi pendidikan yang tepat yang mengutamakan dialog dan proses kreatif antara siswa dan guru. Di sana terutama peran guru yang merangsang partisipasi siswa. Kelas menjadi seru oleh peran yang penting dari guru dan siswa yang terfasilitasi untuk kian berkembang kreativitasnya.

Rasa bosan dalam proses belajar mengajar menjauh karena setiap hari selalu ada sesuatu yang baru. Hasilnya pun mencengangkan karena dari proses pendidikan itu justeru lahir peserta didik dengan masa depan menjanjikan. Mereka terbantu dan memungkinkan untuk mencapai mobilisasi vertikal.

Proses pendidikan akhirnya bermuara kepada evaluasi. Untuk mengetahui sejauh mana konsep pendidikan itu diterima oleh peserta didik maka dibutuhkan ujian. Artinya, kalau semua prosesnya baik maka sudah bisa dipastikan tentang hasilnya. Dari sana keberhasilan 100% dalam UN di NTT bisa mendapatkan penjelasannya.

Namun apa yang terjadi ketika baik konsep maupun metodologi dijalankan apa adanya? Itulah pertanyaan menggelitik tentang realitas pendidikan di NTT. Sudah begitu majukah metode pembelajaran yang dilaksanakan di tingkat SMP di NTT? Sudah profesionalkah guru dalam menerapkan pembelajaran interaktif sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas?

Kita tidak perlu meremehkan hasil yang diperoleh. Tetapi pada saat bersamana, mestinya kita tidak terlalu bangga karena hasil 100% tidak menjadi penjelasan tentang konsep dan metodologi yang secara sempurna dilaksanakan. Jelasnya, kalau hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan proses maka sudah pasti hasil yang diperoleh itu timpang.

Tidak hanya itu. Kalau pendidikan di NTT yang selalu jadi ‘bulan-bulanan’ di negeri ini karena hasilnya yang rendah di negeri ini ‘tiba-tiba’ menjadi begitu luar biasa maka apakah hal itu merupakan sebuah hasil dari pembaharuan?

Pertanyaan ini terpaksa kita tampilkan karena pendidikan adalah proses panjang. Dengan demikian apabila dalam waktu yang relatif singkat dapat diperoleh keberhasilan luar biasa maka itu menjadi pertanyaan lain yang perlu didalami.

Tetapi keberhasilan ini tidak perlu dibesar-besarkan. Melihat metode penentuan kelulusan sebenarnya tidak ada yang luar biasa. Syarat kelulusan yang menggabungkan 60% nilai UN dan 40% nilai Sekolah, maka hal itu tidak mustahil. Apalagi setelah belajar dari sekolah di luar NTT yang begitu ‘murah hati’ memberikan nilai Ujian sekolah.

Jelasnya, dengan memberi nilai 9, maka sebuah kelulusan 100% ada di depan mata. Dengan nilai itu tabungan siswa sudah mencapai 3,6. Dengan angka 3 saja untuk tiga mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA, maka hasil siswa sudah mencapai 5,4 untuk masing-masing mata pelajaran. Kita andaikan bahwa bahasa Indonesia, siswa dapat capai angka 4 saja, maka rata-rata akhir keempat bidang studi adalah 5,55 dan memenuhi syarat kelulusan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa kegembiraan karena kelulusan 100% adalah sebuah hiburan murahan yang bisa diperoleh. Ia sama sekali tidak menggambarkan kualitas pendidikan yang sebenarnya. Tetapi masyarakat NTT tidak bisa dipersalahkan sama sekali. Kita hanya mengikuti sistem ujian yang nota bene sangat tidak pedagogis. Ia menghibur tetapi tidak menggambarkan realitas.

Guru Inspiratif

‘Keberhasilan’ UN tidak harus meninabobokan. Ia sama sekali tidak menggambarkan kualitas pendidikan. Hal itu mesti mendorong pemangku pendidikan di NTT pada umumnya dan Flores pada khususnya untuk merancang pembeajaran dengan menata kembali konsep dan metodologi pembelajaran.

Penekanan pada proses pembeajaran mestinya mengembalikan guru untuk melihat profesinya sebagia panggilan. Kenyataan itu telah menjadi karakteristik masyarakat NTT yang sangat dedikatif pada pendidikan. Banyak sekali guru yang terpanggil dan sungguh menjiwai ilmu yang dipelajarinya. Di kampung tempat mengabdi, mereka tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Di sana mereka memberi inspirasi kepada siswanya untuk bisa bermimpi lebih jauh dan mencapai kehidupan yang lebih baik dari sang guru.

Keberhasilan banyak tokoh NTT di level nasional malah internasional, sangat berawal dari inspirasi yang diperoleh saat di pendidikan dasar dan menengah. Itulah kekuatan yang kemudian menjadikannya bersemengat untuk bisa ‘merantau’ demi mencari hidup yang lebih baik. Di tempat perantauan itu, semangat juang selalu dimiliki sehingga perlahan menunjukkan kemajuan hingga mengantarnya ke puncak karir.

Penekanan tentang inspirasi ini bisa saja terasa berlebih-lebihan. Tetapi kalau kita tenang berpikir, inilah kekuatan yang bisa dimiliki. Konsep pembelajaran yang terlalu mengawang-awang dan selalu suka diganti oleh yang berkuasa dan jauhnya kita untuk bisa menikmati fasilitas indah dan canggih yang kadang membuat kita iri kepada daerah lain di Indonesia, bisa diimbangi dengan kehadiran guru inspiratif.

Kalau potensi guru ini bisa dikembalikan sebagaimana pernah dimiliki masyarakat NTT ‘doeloe’, maka kita pun yakin bahwa keberhasilan sampai 100% adalah sesuatu yang mudah dicapai dan tidak perlu diragukan seperti sekarang ini. Mengapa? Di sana guru, bak lilin yang demi mebawa terang dan inspirasi bagi siswanya, ia ‘memakan’ dirinya sendiri. Lilin menjadi berkurang malah menghilang hanya demi membawa cahaya.

Dedikasi inilah yang sangat kuat tertanam dan jadi kesaksian hidup para guru kini tinggal nama. Kini, bila kekuatan itu dimiliki kembali maka keberhasilan tidak saja secara numerik tetapi tercermin dalam kualitas. Dari sana, kelahiran kaum brilian dan genius dari NTT bisa muncul lagi dan menjadikan daerah ini lebih disegani tidak saja di negeri ini tetapi juga lebih luas seluas inspirasi yang telah ditanamkan sang guru kita.

Flores Bangkit 20 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s