18. Sekolah Pembelajar

Sekolah Pembelajar

Mengakhir tahun ajaran 2013/2014, sebuah pemandangan tak lazim ditemukan. Ratusan ribu malah jutaan guru diikutsertakan dalam pelatihan kurikulum 2013. Program yang diawali dengan para kepala sekolah kemudian dengan para guru bidang studi.

Sebuah pemandangan yang mestinya tidak biasa. Sudah setahun kurikulum digulirkan dan mestinya persiapan itu sudah dilakukan selama 365 hari atau setahun pelajaran. Tetapi justeru di akhir dan sebentar lagi memasuki tahun pelajaran baru dilaksanakan.

Tetapi menyangkan hal itu saja tidak cukup. Kafillah harus tetap berjalan meski anjing terus menggonggong. Maka pertanyaan penting hal mana menjadi latar belakang tulisan ini: apa yang mesti dibuat agar kurikulum berangka ‘celaka’ 13 itu dapat berhasil?sekolah

Jalan Sendiri

Sudah setahun dikumandangkan malah diterapkan di beberapa sekolah terpilih. Rata-rata di setiap kabupaten ada 4 sekolah terpilih. Biaya ditanggung pemerintah pusat. Apalagi di tengah penolakan, perhatian yang cukup besar itu diharapkan agar sekolah terpilih dapat menjadi ‘pilot project’.

Sayangnya, program itu tidak berjalan maksimal. Panduan besar ternyata belum diikuti aplikasi konkret di lapangan. Model penilaian yang nota bene berbeda dengan penilaian sebelumnya misalnya baru dilansirkan pada bulan Oktober 2014. Pada masa ini, semua sekolah berusaha menafsirkan model penilaian sejauh dipahaminya.

Penafsiran yang tidak tepat tentu saja berakibat pada beban kerja tambahan yang mestinya tidak perlu. Dalam konteks penilaian yang menuntut tidak saja pengetahuan tetapi juga keterampilan dan sikap, maka hal itu tidak tentu saja menyita begitu banyak waktu. Padahal kalau dipersiapkan apalagi disertai tunjangan komputerisasi, hal itu mestinya tidak jadi beban. Tetapi yang terjadi justeru menjadi beban yang sangat berat. Pada saat penerimaan rapor semester, bulan Desember 2013, tidak sedikit sekolah yang menundanya hingga 2 minggu. Alasannya selain model yang rumit juga bila harus diprint semua dokumen, bisa diharapkan berapa banyak rim kertas yang dihabiskan.

Kenyataan yang di daerah perkotaan dianggap sebabai momok memunculkan pertanyaan tentang implementasi di daerah. Tanpa mengingkari kreativitas yang masih dimiliki guru di daerah tetapi mengikuti tuntutan kurikulum yang penuh dengan model penilaian maka hal itu tentu lebih merepotkan.

Tidak hanya itu. Penundaan pada mayoritas sekolah mestinya sudah diikuti dengan aneka pelatihan. Yang terjadi, program terpadu dari pusat tidak terlihat sama sekali. Daerah atau sekolah berusaha menafsirnya dan membuat pembekalan seperlunya.

Kenyataan itu telah mendatangkan multitafsir yang bisa saja merugikan penerpana kurikulum itu sendiri. Dalam sebuah workshop, team persiapan kurikulum dari kementerian mengalihkan permasalahan tentang multitafsir itu bukan berasal dari direktorat. Mereka mencuci tangan, padahal kelalaian melatih guru selama setahun yang mestinya menjadi masalah utama tidak dilihat sebagai akar masalahnya.

Program menyeluruh dari Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah justeru baru terlihat di penghujung tahun ajaran yakni pada bulan Juni 2014. Pelatihan dilaksanakan bahkan di tengah kasibnya pelaksanaan ujian akhir. Program tahunan sekolah harus dibatalkan hanya demi memenuhi harapan penerpaan pelatihan secara nasional.

Learning School

Meskipun rentetan kekecewaan itu sangat mendasar dan berpengaruh tetapi itu tidak meniadakan upaya agar bisa menjadikan perubahan kurikulum ini juga bisa bermanfaat. Apa yang perlu dilakukan sekolah agar hal positif dari kurikulum dapat berpengaruh?

Keberhasilan pendidikan harus diakui sangat tergantung pada unit pelaksana teknis, dalam hal ini sekolah. Itu berarti peran kepala sekolah dalam menafsir dan mewujudkan model pembelajaran sangat diharapkan. Dengan kepiawaian manajerialnya serta kepemimpinan inspiratif ia bisa membiaskan semangat pembelajaran sehingga tercipta ‘learning school environment’ atau lingkungan sekolah pembelajar yang diharapkan.

Kepala Sekolah akan menetrasilir aneka ketimpangan yang diterima siswa dan masyarakat pendidikan dan menampilkan sebuah lingkunga pendidikan yang mantap. Kenyataan di lapangan memang tidak terwujud. Dana pendidikan yang cukup besar digulirkan menyebabkan kepala sekolah lebih hadir sebagai pimpinan proyek ketimbang manajer pembelajaran.

Pada sisi lain, guru sebagai ujung tombak pendidikan mesti menyadari perannya secara maksimal. Seorang warga masyarat mengeluh tentang model pembelajaran sekarang yang dirasanya aneh. Dengan alasan ‘pembelajaran aktif’, siswa disuruh untuk mencari sendiri. Guru menganggap bahwa siswa harus mencari sementara dia sendiri tinggal menerima hasilnya. Sebuah pemahaman yang tentu saja keliru sekali.

Guru semestinya lebih ‘aktif’ mencari. Hal itu selalu penuli tekankan dalam aneka workshop yang dibawakan. Dalam pembelajaran aktif yang paling berperan mestinya guru. Guru yang rajin membaca, mencari materi, akan memudahkan siswa di kelas sehingga dapat terpancing perannya. Dengan demikian siswa akan merasa terdorong untuk mengekspresikan kemampuannya dalam proses belajra mengajar. Inilah model sekolah pembelajar yang diharapkan.

Sekolah pembelajar juga ditandai oleh siswa yang semakin ‘enjoy’ melewatkan waktunya di sekolah. Kenyataan menunjukkan bahwa ketika anak senang, ia akan melewatkan waktu di sekolah dengan gembira. Lewat dukungan guru dan penciptaan iklim pertemanan yang baik antarsiswa maka sisa merasa tidak bosan. Malah ada selalu kerinduan untuk berada di sekolah bertemu dengan guru yang selalu memberikan ‘surprise’ dalam bentuk metode pembelajaran yang selalu baru dan materi yang dibawakan secara menarik.

Siswa yang tertarik akan terangsang semangatnya untuk selalu mencari. Di sini hasil belajar aktif sudah bisa didapatkan. Anak merasa terdorong untuk mencari apa yang ia senangi. Sebaliknya, apabila kepada siswa hanya diberikan beban, maka ia tidak merasa gembira. Ia akan melihat sekolah sebagai sebuah beban.

Bila proses ini tercapai maka sebenarnya kurikulum apa pun tidak akan jadi kendala, termasuk Kurikulum 2013. Yang terjadi memang di sini. Iklim pembelajaran yang menyenangkan yang menjadikan sekolah pembelajar masih jauh dari penerapannya.

Flores Bangkit 01 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s