19. Halusinasi Pendidikan

19. Halusinasi Pendidikan

Degradasi atau kemunduran bangsa ini antara lain telah memicu lahirnya Kurikulum 2013. Ada kesadaran, pendidikan perlu menjadi basis pembentukan watak anak agar kelak mereka dapat menginisiasi perubahan.

Tetapi apakah hal itu akan terwujud? Mustahil bertanya demikian. Penerapan K13 yang sudah berjalan secara nasional perlu dievaluasi agar efektivitas yang diharapkan dapat terwujud. Pada sisi lain, ia bisa kontraproduktif dan sekedar halusinasi atau impian kosong.

Yang Penting Pemahaman Guru

Penilaian pendidikan merupakan hal penting dalam pendidikan. Guru perlu mengevalusi pencapaian siswa. Namun yang kerap dilupakan, evaluasi hanyalah bagian kecil dari proses belajar mengajar. Ia juga hanya merupakan ‘bagian akhir’ dari sebuah proses. Yang paling penting adalah pemahaman konsep oleh guru. Darinya terlahir aneka metode agar dapat menjembatani pemahaman itu sehingga bisa diterima oleh siswa. Evaluasi pada gilirannya merupakan cara untuk menilai apakah hal yang disampaikan itu telah diterima secara baik.halusinasi

Ia ibarat memetik hasilnya. Sebuah proses yang tentu saja sangat dinantikan oleh guru dan orang tua. Pada sisi lain, mestinya tidak banyak hal yang perlu dilakukan. Hasil akan datang dengan sendirinya setelah sebuah proses dilakukan secara baik dan benar. Yang perlu hanyalah menyiapkan tempat agar evaluasi itu dapat berjalan.

Yang terjadi dengan K13 justeru sebaliknya. Penilaian begitu ‘didewa-dewakan’. Penilaian pengetahuan dan keterampilan bisa saja sudah biasa dilakukan. Ada penilaian lisan, tertulis, dan penugasan. Keterampilan pun dinilai  dari sisi praktek, projek, dan portofolio sebagai kumpulan hasil karya siswa.

Yang sangat banyak adalah penilaian sikap. Bila sebelumnya hanya ada penilaian observatif dari gur, kini ditambahkan lagi dengan penilaian diri, penilaian teman, dan jurnal siswa. Seorang guru harus menyiapkan begitu banyak panduan agar siswa dapat menilai. Jelasnya, kalau penilaian itu dilaksanakan dalam proses pembelajaran maka waktu yang ada tentu saja tidak cukup.

Ada hal yang lebih mencemaskan. Ramainya penilaian bisa berimbas negatif. Anak akan merasa bahwa sekolah tidak bedanya dengan polisi akhlak yang setiap saat memantau ‘gerak-gerik’ anak. Ia pun menjadi kikuk dan tidak ‘lepas’ dalam mengeksplorasi kemampuannya. Ia cemas dan kuatir.

Tidak hanya itu. Pemantauan yang berlebihan bisa juga menimbulkan sikap hipokrisi alias munafik. Ia berusaha tampil ‘berbudi luhur’, tetapi pada dasarnya hanyalah kamuflase. Akibatnya terjadi seperti yang tidak diharapkan dan kerap terjadi di negeri ini. Penampilan hanyalah kemasan luar yang tidak mewakili esensi. Meluasnya aksi korupsi, manipulasi, dan aneka tindakan tak elok lainnya adalah ekspresi moralitas dangkal yang dimiliki.

Di sini sebuah angan perubahan akhlak yang diharapkan bisa saja berseberangan. Ia sekedar angan atau halusinasi yang perwujudannya tidak sampai. Jelasnya, aneka kegiatan penilaian yang dilakukan hanya hadir sebagai beban administratif ternyata tidak secara kualitatif berimbas pada perubahan tingkah laku.

Perlu Penyederhanaan

Terlampau banyaknya tuntutan administrasi yang harus dilakukan oleh guru dan ramainya model penilaian sekilas dilihat positif. Namun bila ia tidak diterima secara baik dan ditafsir secara benar maka hal itu tentu saja tidak bermanfaat.

Donald O Hebb mengategorikan tendensi itu sebagai sebauh ‘sensory deprivatisation’. Artinya, otak manusia tidak mampu mengaitkan begitu banyak hal dalam satu keterkaitan. Akibatnya ia tidak bisa dicernah dan diproses menjadi sebuah informasi lebih lanjut.

Baginya, pembelajaran akan efektif ketika manusia mengikuti model kerja otak. Otak baginya terdiri dari sarat-saraf yang perlu dirangsang untuk saling berkaitan membentuk sebuah kesatuan sel atau ‘cell assemblies’.

Bila proses itu berjalan maka dengan mudah seseorang akan melihat bagian-bagian secara tidak terlepas melainkan selalu dalam kesatuan atau ‘phase sequencial’. Hal itu akan menjadi kuat karena otak manusia dirangsang oleh lingkup sekitar.halusiinasi

Atas pijakan ini kita melihat bahwa K13 kalau ingin efektif, perlu diperhatikan beberapahal penting.

Pertama, perlu penyederhanaan kembali model penilaian. Ramainya penilaian dan begitu banyak hal yang perlu dipantau menunjukkan bahwa bagian-bagian itu dilihat secara terpisah. Ia akan terasa sebagai beban kerja yang memberatkan dan bukannya bantuan yang meringankan.

Memang ada hal positif. Guru yang kerap menilai ‘sesuka-hati’, kini dipaksakan untuk memiliki standar yang jelas dengan bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi menanggungkan begitu banyak penilaian yang tidak dipahami kesinambungannya, bisa berimbas yang sama.

Hal itu terjadi ramainya kegiatan malah membingunkan karena tidak sesuai dengan cara kerja otak. Hal itu mengharuskan agar implementasi kuantitas pembelajaran lebih ditekankan ketimbang kuantitas penilaian yang bisa berakhir kontraproduktif.

Kedua, pembelajaran akan efektif ketika ruang lingkup pembelajaran menunjang. Donald Hebb megategorikannya sebagai ‘enriched environment’, sebuah suasana yang menunjang.

Hal ini penting karena anak semestinya dari ‘sononya’ sudah punya rasa ingin tahu. Ia ingin belajar sejauh guru mampu mengikuti kemauan otaknya. Itu berarti peran guru menciptakan lingkungan pembelajaran sangat penting.

Dalam arti ini, aneka pelatihan yang sangat banyak menyedot anggaran dari pemerintah mestinya tidak berhenti pada tindakan administratif. Ia harus lebih jauh menjadikan guru kreatif menciptakan lingkup pembelajaran yang baik.

Ketiga, otak manusia akan lebih mudah menerima dan memproses informasi ketika ia dicukupkan dari sisi oksigen, air, dan nutrisi. Suasana pembelajaran yang memberi tempat pada mobilisasi atau gerak. Semakin oksigen mengalami sirkulasi, otak pun lebih segar menerima informasi. Juga air dan nutrisi perlu tersedia sehingga waktu yang tersedia bisa secara efektif.

Proses ini harus dimulai sekarang. Aneka perobahan demi efektivitas pembelajaran perlu dilakukan. Hanya demikian, gagasan transformasi kebangsaan tidak tinggal gagasan dan menjadi hanya lamunan atau halusinasi belaka. Sebaliknya ia efektif dan menjadi awal pembaharuan karena sebuah proses yang mengikuti otak yang darinya akan mengendap ke kesadaran manusia secara alamiah. Darinya bisa terlahir generasi sebagaimana diharapkan bersama.

Sumber Flores Bangkit 24 Agustus 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s