20. Tidak Mendidik

20. Tidak Mendidik

Sebuah pertanyaan tak disangka-sangka dari seorang siswa kelas 8. Saat membahas ‘lembaga negara’, (salah satu topik PPKn), ia mempertanyakan 6 Fraksi yang menentang suara rakyat (Kompas 10/9). Dengan polos ia berucap, itu tidak bedanya dengan mencuri kedaulatan rakyat.

Gugatan ‘bocah’ itu sejenak membuat penulis terdiam. Dengan usia sangat dini ia sudah merasakan ‘keanehan’ yang tengah terjadi di salah satu lembaga negara, DPR. Yang dipertaruhkan adalah kedaulatan rakyat.

Boomerang

Pengetahuan, demikian aliran konstruktivisme, merupakan sebuah bentukan atau konstruksi dari orang yang sedang belajar. Ia tidak diterima sebagai sebuah keterberian faktual tetapi sebuah proses interaktif antara subyek pembelajar dan realitas yang melingkupinya.tidak mendidik

Dalam bahasa Jean Piaget (1896-1980), penggagas epistemologi-kontruktivisme, pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tinggal diambil. Ia merupakan bentukan terus menerus dari orang yang belajar.

Kenyataan ini telah mengubah paradigma kognitif dalam pembelajaran. Siswa yang sebelumnya diperlakukan bak obyek, kini menjadi subyek pembentuk pengetahuan. Ruang eksplorasinya dibuka. Rasa ingin tahunya digerakkan agar secara proaktif menemukan rahasia di balik aneka fenomen yang terjadi.

Model seperti inilah yang diharapkan terjadi dalam proses belajar mengajar dan mendapatkan tempat dalam Kurikulum 2013 (K13). Pembelajaran ilmiah yang mengedepankan pengamatan saksama, keterampilan bertanya dan menalar, serta mencoba merupakan hal mendasar yang dikembangkan.

Melalui proses kreatif ini diharapakn dapat terbentuk pribadi inovatif dan kreatif. Siswa tidak sekedar punya pengetahuan konseptual, tetapi juga terampil dalam perwujudannya. Proses pebaikan pun terus terjadi karena rasa sikap positif yang terus mendorong ke arah pembaharuan.

Harus diakui, model konstruktif ini tengah dialami, minimal melalui pertanyaan ‘usil’ si remaja di atas. Namun pada sisi lain, kecerdasan itu bisa saja dianggap boomerang. Pasalnya, peserta didik yang dibentuk dalam konsep berpikir konstruktivisme, ternyata hadir mengkritisi kepongahan kita.  Dengan daya kritis, mereka juga menyibak selubung dusta yang selama ini kita kenakan.

Contoh Mendidik

Mengembalikan pemilihan kepala derah seperti ‘sediakala’, sepintas dianggap bijak nan luhur. Ide penghematan ditonjolkan memberi kesan tentang pikiran prorakyat yang patut disaluti.

Namun bila dikritisi, ia ternyata mencederai reformasi yang telah dibangun. Pemilihan langsung lahir dari kesadaran bahwa pengalaman menafikan peran rakyat seperti pada era orde baru, telah menjadikan demokrasi rapuh.

Sebaliknya rakyat perlu diberi tempat pantas karena memang ia pribadi berharga dengan suaranya memang mahal. Ia bahkan diyakini (kalau kita masih beriman) sebagai suara Tuhan. Dalam konteks ini, ongkos  (yang katanya mahal) tidak mesti dilihat sebagai pemborosan melainkan investasi. Darinya terlahir pribadi merakyat yang rela berkontrak dengannya mewujudkan sebuah kesejahteraan sosial.

Dalam konteks pendidikan, pemilihan oleh rakyat memiliki makna yang lebih jauh. Kaum konstruktivis memaknainya lebih jauh karena hal itu lahir dari proses asimilasi dan akomodasi, hal mana oleh Piaget dianggap sebagai pilar pembentuk pengetahuan.

Di sana generasi muda dan tua yang pernah hidup pada masa Orde Baru dan Orde Lama, yang terbiasa dengan pemilihan oleh DPRD, mengasimilasi proses pemilihan langsung sebagai sebuah hal baru. Rakyat yang sebelumnya dianggap obyek, kini mendapatkan tempat yang semestinya.

Pada sisi lain, kaum remaja dan anak-anak yang menjadi wakil masa depan yang hidup di masa kini, tengah menyuarakan harapan akan perubahan. Dalam bahasa Piaget, dengan berpijak pada pengalaman masa lalu dan perubahan positif masa kini, mereka mengakomdodir sebuah proses yang lebih konstruktif.

Proses gemilang itu juga telah diterima oleh siswa sebagai pengetahuan konstruktif. Ia terbentuk oleh interaksi antara konsep dan kesaksian yang telah diberikan selama reformasi berlangsung. Sebuah kebanggan terutama ketika di eranya telah lahir pemimpin merakyat yang sungguh berjanji dengan khalayak menjadi pelayan bukannya pencari kuasa.

Tidak hanya itu. Cercahan harapan itu sekaligus melahirkan kesadaran bahwa demokrasi bukan saja milik pusaka rakyat yang harus dijaga tetapi harus dikelola secara baik. Mereka adalah pelaku, hal mana dalam proses pembelajaran mereka diaktifkan untuk menjadi pemeran dalam menerima dan mengelola pengetahuan.

Proses gemilang inilah yang kini hadir sebagai sebuah tanya menggelitik. Apakah para elit rela keluar dari egoisme dan memberi ruang bagi sebuah konstruksi pengetahuan yang benar untuk dicontohi generasi muda? Ataukah apakah daya kritis yang kita bangun dalam diri siswa yang kini bertanya tulus kita bungkam karena kita lebih suka pada pragmatisme-murah(an) yang tidak mendidik?

Sumber Flores Bangkit 20 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s