21. Kutuk Kurikulum 2013

 

Kutuk Kurikulum 2013

Flores Bangkit 9/9 menurunkan berita tentang ancaman kegagalan Kurikulum 2013 (K13). Sebuah awasan yang tidak berlebihan. Sudah di bulan Oktober, ternyata buku yang diharapkan belum juga datang.Memang, pemerintah yang sangat ‘berpikir jauh’, telah menyediakan softcopy agar guru bisa ‘melihatnya’, hal mana bisa dipahami untuk guru yang melek komputer. Selebihnya, tinggal bayangan suram saja yang bisa muncul. Di daerah yang sangat ‘jauh’ dari ibu kota dengan kekurangan hampir dalam segalanya, tentu CD pembelajaran sekedar tontonan.kutuk

Lalu, apakah kendala itu harus membuat gagal segalanya? Apa yang harus dibuat agar bisa mencapai target minimal? Siasat apa yang bisa dilaksanakan?

Gagal Total?

Kebutuhan akan ‘buku pegangan atau buku cetak’, sangat tinggi. Bukan rahasia kalau tidak sedikit guru yang menjadikannya sebagai sumber satu-satunya. Dengan demikian metode yang diterapkan adalah mengikuti alur buku.

Pendekatan materi ini yang menjadi latarbelakangnya. Pendidikan dipahami sebagai mengisi otak siswa dengan sebanyak mungkin informasi. Padahal  William Buler Yearts, sudah mengawaskan: Education is not filling of a pail but the lighting of a fire. Pendidikan bukan mengisi sebuah ember tetapi menghidupkan api. Di sana, rasa ingin tahu dihidupkan dan siswa bisa mencari sendiri ‘terang’.

Tidak hanya itu. ‘Kesetiaan’ guru pada buku cetak bukan kebetulan. Kreativitas mereka sudah terbelenggu karena tahu bahwa isi dari buku cetak berbanding lurus dengan ‘kesuksesan’ dalam Ujian Nasional. Semakin ‘setia’, maka semakin ‘luar biasa’ nilai di atas kertas.

Kenyataan ini terlihat saat ketiadaan buku pegangan seperti sekarang ini. Semua proses pembelajaran lumpuh dan ketakutan akan kegagalan K13 pun menjadi mungkin. Sebuah kegagalan yang bisa saja bersifat ‘total’. Baik materi maupun konsep yang diharapkan bisa tidak sesuai rencana.

Hal ini menunjukkan bahwa ideal menggantikan kurikulum mestinya dianalisis secara lebih mendalam. Selain impian akan pembaharuan malah transformasi, tetapi kita harus realistis. Mentalitas guru dan penggunaan paradigma lama dalam pendidikan mestinya dibaharui sebelum diadakah perubahan yang lebih radikal.

Memang semuanya bisa berjalan bersamaan karena merupakan sebuah paket kurikulum. Artinya perubahan ‘mindset’ dan pergantian material bisa berjalan bersamaan. Tetapi untuk wilayah seluas Indonesia (hal mana mestinya kita ketahui), proses itu tidak semudah dibayangkan, hal mana perlu jangka waktu persiapan dan strategi yang sangat jitu.

Kalau tidak, kenyataan seperti yang kita alami sekarang. Saat (mestinya) diterapkan pada tahun 2013, ternyata terdapat penolakan oleh ketidaksediaan. Tetapi setahun berjalan ternyata tidak diadakah persiapan memadai. Sosialisasi dan pembelakan guru baru diadakan pada akhir tahun ajaran, tepatnya bulan April dan Mei 2014.

Lebih lagi ketika diterapkan dengan kesan ‘tergesa-gesa’, ternyata dilaksanakan untuk 2 level sekaligus, kelas 7 dan 8. Sebuah penerapan yang terasa aneh. Siswa yang pada kelas 7 tidak menerapkan K13, diharuskan ‘tamat’ nanti dengan K13.

Inspirasi

Apakah bencana yang ditakutkan dan kini akan terjadi terutama dalam ketiadaan buku pelajaran hanya bisa diratapi?  Mustahil bertanya demikian. Pendidikan mestinya tidak berpijak pada satu aspek (buku pelajaran). Ia perlu punya pijakan lain yang lebih kuat yakni pada kualitas pendidik yang semestinya dipahami oleh pemerintah.

Pada satu sisi, guru harus menyadari bahwa buku pegangan bukanlah “kitab suci’ yang harus diikuti seharafiah mungkin demi menjamin ‘kelulusan’. Ia hanyalah pegangan. Malah ia menjadi hanya salah satu dari sumber ajar yang dapat digunakan.

Mestinya yang jadi acuan adalah silabus pembelajaran. Ia menjadi acuan dan diperkuat serta diperkaya oleh buku sumber yang tentunya bukan hanya satu. Hal itu belum cukup  karena pengalaman yang menjadikan seorang sebagai guru tidak sedikit. Dengan pengalaman mengajar, guru dapat menyusun sendiri bahan ajar. Ia menjadi penulis atas pelajaran yang diajarkan.

Bahan ajar itu pun lebih lengkap dan konstekstual. Di sana ada satu kombinasi menarik antara pembelajaran, penaglaman, dan lingkup sekitar. Siswa yang belajar pun menyadari bahwa bahan ajar tidak selesai karena lingkungan sekitar menyajikan semuanya. Yang dibutuhkan hanyalah kejelian memerhatikan dan ketelitian menganalisis aneka fenomena yang terjadi.

Tidak hanya itu. Pembelajaran kontekstual yang tentunya sangat menekankan metode ilmiah, lebih memberi inspirasi bagi siswa. Mereka tidak hanya menjadi objek pembelajaran tetapi sebagai subjek yang terlibat langsung. Bagi mereka, guru menjadi pribadi yang menginspirasi karena ia dapat menunjukkan jalan yang tepat.

Benar ketika William A. Ward sendiri mengungkapkannya dengan  jelas. “The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” Gur inspiratif ini menjdikan dirinya sebagai sumber dan karenanya ia tidak kelabakan meskipun terjadi perubahan materi ajar. Kalau pun terjadi, ia hanyalah salah satu ‘sisi kecil’ yang bisa diatasi. Ia tidak menghentikan pembelajaran karena dirinya merupakan sumber yang tidak pernah selesai.

Pada bagian lain, kendala ketiadaan buku pelajaran juga mestinya jadi inspirasi untuk pemerintah. Kelumpuhan seperti dialami sekarang juga merupakan sebuah produk yang tanpa disadari ditanamkan sendiri oleh metode pendidikan yang diterapkan. Dalam pengalaman guru, kreativitas sendiri mengalami tantangan karena pada akhir proses belajar mengajar, pemerintah sudah menunggu dengan ‘ujian nasional’.

Artinya, yang jadi ukuran adalah penyelesaian materi ajar dan penguasaannya. Siswa dilatih untuk menjadi sangat lincah menyelesaikan soal yang akan ditanyakan. Tak heran buku cetak atau buku pegangan menjadi acuan satu-satunya. Hanya dengan demikian pada akhir sebuah proses, siswa mampu menjawabnya secara benar dan tepat.

Itu berarti kekacauan yang terjadi kini menyadarkan bahwa sebuah proses yang bagus penuh dinamika hal mana dilansirkan dalam Kurikulum 2013 akan bertentangan bila pada akhirnya diadakan ujian nasional. Kreativitas yang dikembangkan akan disertai ketakutan karena pada akhir seubah proses sudan dinanti model ujian dengan penekanan pada penguasaan materi ajar.

Tragedi ini pun jadi inspirasi bahwa bila K13 diterapkan secara konsekuen maka ia harus benar-benar diterapkan maka yang mestinya turut berubah adalah cara pandang penagmbil kebijakan dalam pendidikan yakni pemerintah. Mereka sadar bahwa pemerintah juga menjadi bagian dari masalah yang melumpuhkan pendidikan kita.

Singkatnya, tragedi kini yang melumpuhkan, mestinya disikapi semua pihak secara positif. Ia jadi inspirasi untuk diadakn pembaharuan pendidikan. Semoga.

Sumber Flores Bangkit 24 September 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s