23. “Tanjung Kelapa” tanpa Kelapa

“Tanjung Kelapa” tanpa Kelapa

Tahun 2015 menjadi saat bermakna untuk sebuah kampung di sudut Lembata. Di sana  Lerek, kecamatan Atadei, muncul sekelumir niat untuk merayakan 50 Tahun sebuah sekolah swasta yang diberi nama: Tanjung Kelapa Lerek.

Sayangnya, perayaan emas itu menjadi aneh. Secara fisik, sekolah itu sudah tidak ada. Tahun 2007 ia telah dinegerikan menjadi SMP Negeri 2 Atadei. Lalu untuk apa dirayakan?

Tidak hanya itu. Muncul beberapa pertanyaan kritis menggali nama dari sekolah yang sudah ‘almarhum’ itu. Mengapa harus bernama Tanjung Kelapa? Apa kaitan antara “Tanjung Kelapa” dan kondisi ekonomi Kabupaten Lembata (kini) dan Kabupaten Flores Timur waktu itu?SMP LEREK1

Menggali makna ini penting karena ia juga mestinya tetap menjadi misi dari sekolah, meski kini sudah menjadi sekolah negeri. Sebuah sekolah negeri perlu digagas di atas realitas dan melalui sebuah penelitian yang menjadikannya unik serta berbeda dari sekolah lainnya.

Tanpa Kelapa

Pemberian nama “Tanjung Kelapa” untuk SMP yang berdiri pada tahun 1965 tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial ekonomi saat itu.

Perekonomian di Flores Timur mengalami kemajuan dan kejayaan sekitar tahun 1953 – 1974. Saat itu, komoditi andalan adalah kelapa yang dikeringkan menjadi kopra. Orang kaya saat itu dilihat dari kepemilikan kelapa yang melimpah di satu daerah (tap-ongei).

Kepemilikan atas kelapa itu ditunjukkan oleh pengelolaannya menjadi kopra. Karena itu berdirinya Koperasi Kopra (Kokop) menjadi sebuah penopang. Ia bahkan membuka jalur perekonomian langsung dengan Surabaya.

Tidak hanya itu. Inisiatif lanjutan tidak kalah penting. Koperasi Kopra (Kakop) bahkan mendirikan pabrik Sabun di Sagu Adonara. Kemudian juga muncul Pabrik Sabun Sinar Ile Boleng di Waiwerang. Sebuah terobosan luar biasa. Sudah ada pemikiran saat itu, kopra tidak bisa sekedar dikirim sebagai komoditi atau bahan baku tetapi perlu diolah.

Inisiatif itu ternyata tidak selesai. Koperasi Kopra ternyata menyebarkan sayapnya juga ke dunia pendidikan. Ia hanya punya satu impian agar generasi muda yang terdidik, diarahkan untuk memiliki kecintaan pada kelapa dan mengembangkannya tidak saja sebagai komoditi ekspor bahan mentah tetapi mengolahnya lebih jauh.

Tak heran, nama kelapa atau nyiur hampir memenuhi Flores Timur. Di Larantuka ada SMP Rayuan Kelapa (kini almarhum). Di Kiwangona ada SMP Lembah Kelapa. Ada juga SMP Nyiur Melambai di Ile Boleng (Kokop juga membangun SMA Surya Mandala).

Dalam suasana ini, dibangunnya SMP Tanjung Kelapa Lerek pada tahun 1965 merupakan sebuah tindak lanjut atas impian besar. Di bawah naungan Koperasi Sepakat (anak dari Koperasi Kopra), Leo Lado Watun mulai membangun SMP. Tokoh awal seperti Piet Lidun Lein, BA (mantan Ketua DPRD Flotim dan anggota DPRD Provinsi), serta Blasius Lalung Koban (mantan camat Atadei) serta Ibu Agnes Uku Tolok, merupakan inisiator awal.

Mereka ingin meneguhkan bahwa kaum muda yang didik, akan kembali ke daerahnya untuk mengembangkan ‘hutan kelapa’. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, mereka dapat mengola lebih lanjut komoditi itu agar menjadi lebih bermanfaat dan tidak sekedar kopra. Itulah harapan, sebagaimana mereka telah melihat ide kreatif dari warga keturunan Tiongkok yang telah membuka pabrik Sabun.

Sayangnya, pemberian nama yang sangat bermakna (nomen est omen / nama adalah tanda) tidak diikuti konkretisasi yang jelas. Artinya, nama Kelapa atau Nyiur pada sekolah yang didirikan tidak mengarahkan secara spesifik tentang peningkatan, pemeliharaan kelapa tidak menjadi sebuah kekuatan. Kegiatan luar kelas yang mestinya ditandai dengan budidaya kelapa dan menjadi target karena menggambarkan visi dan misi sekolah dalam kenyataannya tidak terjadi.

Tidak hanya itu. Hutan kelapa semakin berkurang menjadi kebanggan. Hasil kopra yang sangat besar tak kerap dijadikan momen untuk menempuh jalan pintas dalam proses pengeringan. Namun ada hal yang lebih mendasar lagi. Rasa kecintaan untuk membudidayakan kelapa juga semakin berkuran. Prosesnya yang lama dan harganya yang relatif harga telah mendorong petani untuk beralih ke hasil perkebunan lainnya yang lebih menjanjikan.

Akibatnya sangat jelas. Hamparan kelapa sebagaimana menjadi obyek yang indah dan jadi indikator kekayaan seseorang ternyata telah beralih. Karenanya, kemerosotan itu telah menjadi pemicu bahwa pabrik yang sudah diinisiasi, tidak bisa (paling kurang sampai kini) untuk dapat dikembangkan lebih jauh. Sekolah yang bernama kelapa pun sekedar nama tetapi tanpa kelapa dalam arti yang sebenarnya.

Kembali ke Kelapa

Setelah 50 tahun, terlepas apakah kini tengah menjadi “negeri” atau “tidak”, mestinya inspirasi dasar ini tidak dilupakan. Pertama, konteks masyarakat di Selatan Lembata ditandai oleh kekayaan kelapa. Sayangnya karena sudah puluhan tahun tidak ditangani secara serius, akibatnya kelapa yang dimiliki kini tidak lebih dari sekedar pohon dengan ketinggian yang nyaris dapat dijangkau oleh siapa pun.reek

Perayaan 50 Tahun SMP Tanjung Kelapa harus jadi inspirasi untuk kembali mengembangkan muatan lokal dalam hal pengembangan kelapa. Hal itu juga dituntut oleh kebutuhan dunia yang kian merasakan bahwa produk berbahan dasar kelapa memilih khasiat tertentu, hal mana menjadi alasan bagi orang untuk memilikinya. Hal itu juga mestinya jadi inspirasi baik bagi sekolah yang sudah dinegerikan atau yang masih bertahan. Bagi mereka, menemukan pola baru menghadapi krisis menjadi sebuah hal yang sangat penting.

Kedua, sejarah ‘kelapa’ di Flotim menjadi inspirasi tentang proses ekonomi yang mendorong ke arah kemandirian. Masyarakat saat itu sudah mengetahui bahwa yang terbaik dalam proses ekonomi adalah menghasilkan apa yang digunakan dan menggunakan apa yang dihasilkan. Tersedianya minyak goreng, sabun (hasil buatan pabrik), dan aneka kebutuhan lainnya merupakan ekspresi kemandirian yang perlu dikembangkan.

Kenyataan ini mestinya dianggap sebuah sebuah kekuatan sektoral dalam menghadapi globalisasi. Dalam periode ini, masyarakat tidak terjerumus untuk masuk dalam lingkaran membahayakan diri oleh dampak destruktif globalisasi melainkan berusaha memenuhi kebutuhan sendiri sehingga ia terhindar dari godaan lingkaran setan.

Ketiga, meskipun SMP Tanjung Kelapa kini telah menjadi SMP Negeri 2 Atadei, tetapi itu tidak berarti tidak perlu dirayakan (karena ia sudah tidak ada lagi). Sebuah perayaan tetap ada oleh karena nilai di baliknya yang bisa saja untuk sebuah proses yang panjang telah dilupakan. Nama Kelapa sekedar menjadi nama tanpa upaya mendalaminya dan menjadikannya sebagai sebuah keunggulan lokal yang harus dimiliki oleh semua tamatannya.

Pada sisi lain, perayaan juga menjadi sebuah peringatan pada pemerintah bahwa penegerian sekolah mestinya tidak dilepaskan dari identitas lokal. Kelapa yang menjadi kebanggaan masyarkat di Selatan Lembata oleh hamparan ‘onge’ (hutan kelapa) yang dijaga mestinya tetap menjadi sebuah kekuatan.

Artinya penegerian hanya merupakan campur tangan pemerintah untuk lebih memelihara kearifan lokal seperti yang sudah lama menjadi kebanggaan di Flotim dulu dan Lembata kini. Tanpa pemahaman demikian maka pendidikan hanya mengambang dan tidak memberikan hasil yang diharapkan. Ad multos annos, SMP Lerek (SMP Tanjung Kelapa dan SMP Negeri 2 Atadei).

Sumber Flores Bangkit 16 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s