24. Menata Negeri Kelapa

24. Menata Negeri Kelapa

Dalam beberapa saat berbeda, Flores Bangkit mengangkat kelapa sebagai salah satu ‘top news’. Ada berita berisi keprihatinan yakni: Tragisnya Harga Kopra (11/06/2013) dan Kelapa, Komoditi Primadona Adonara Mulai Tergusur (20/10/2014).

Robert Bala. Pemerhati Pendidikan,  Alumnus SMP Tanjung Kelapa Lerek (1981-1984). Ada juga sajian penuh harapan. Kelapa Pleak Puli, Kelapa Sikka Unggulan Nasional (04/03/2012) menjadi berita positif. Kelapa ini sangat bagus untuk dikembangkan karena bisa berbuah 4 kali setahun. Tak heran ia diberi nama: ‘pelak puli’ yang artinya menyembuhkan sampai tuntas. Ia mengandung harapan, dapat membantu meningkatkan ekonomi rakyat sampai tuntas.

Penulis mengangkat hal ini sebagai refleksi justeru di tengah persiapan perayaan pesta emas SMP Tanjung Kelapa Lerek yang kebetulan tahun ini merayakan hari jadi ke50. Meski secara fisik telah tiada karena sudah ‘dinegerikan’, tetapi refleksi atas kelapa mestinya tidak dilupakan karena ia melekat pada lokasi geografis sekolah yang tidak berubah.

Subsistensi

Semenjak hadirnya misi di Flores, para misionaris SVD menyadari bahwa kelapa adalah produk unggulan. Selain fungsinya yang ‘serba bisa’, mulai dari akar, daun, batang, buah, tetapi terutama ia diarahkan menjadi sumber yang bisa menghidupi masyarakat.SMP LEREK

Pada sisi lain, pengembangan kelapa dapat menjadi sebuah proses utuh karena masyarakat dapat memiliki sumber hidup mandiri. Artinya masyarakat bisa langsung mengola kelapa dan dapat digunakan.

Tak heran, para misionaris awal tidak tanggung-tanggung dalam membuatkan perkebunan kelapa. Di Lewoleba ada kelapa misi, di Hokeng, juga di Nangahale dan Patiahu sekedar menyebut contoh terderet rapi kelapa. Kelapa ditanam dan ditata secara rapi dan indah. Ia memberikan pemandangan indah. Sebuah proses yang diinisiasi secara besar-besaran pada tahun empat puluhan setelah merdeka dan mengalami masa kejayaan tahun 1953 – 1974.

Sebuah pembelajaran yang luar biasa berhadapan dengan perkebunan atau lebih tepat hutan kelapa yng dimiliki masyarakat. Di sana kelapa dibiarkan hidup tanpa upaya pembersihan yang seharusnya. Tak heran, awal perantuan di Flotim sebenarnya tidak lain menampung masyarakat untuk bekerja di kebun kelapa. Jelasnya, orang dari daerah kelapa merantau untuk merawat kelapa misi.

Singkatnya, secara visioner, misi telah melihat pola ekonomi subsisten sebagai pola yang harus dimiliki masyarakat Flores dan Lembata dalam kehidupannya. Sebuah pola yang oleh Lomelí, Luis Felipe Gómez dalam «Economía de Subsistencia y/o autonomía alimentaria.», 2009 dianggap sebagai pola yang menjadikan masyarakat dapat mengahsilkan apa yang dikonsumsi dan mengonsumsi apa yang dimakan.

Memang, berbeda dengan tanaman pekarangan berupa sayuran atau makanan, kelapa memiliki keterbatasan. Konsumsi daging dan air kelapa bersifat terbatas dan tidak bisa menjadi acuan tunggal. Namun demikian, pengolahan kelapa menjadi minyak langsung memberikan manfaat dalam rumah tangga. Selain itu kelapa pun bisa hidup hampir dalam segala situasi. Itu berarti ada jaminan, tidak akan terjadi kelaparan oleh terus tersedianya sumber yang tidak mongering untuk makanan rakyat.

Tanpa Perhatian

Pijakan yang sudah ditanam oleh misi dalam kenyataan tidak mendapatkan perhatian. Malah bersifat kontraproduktif. Gerakan tahun 50an misalnya telah berhasil menjadikan Waiwerang tidak saja sebagai sentra penimbunan kopra yang kemudian bisa dikirim langsung ke Surabaya tetapi juga dibuat sebuah langkah maju dengan adanya Pabrik Sabun Sinar Ile Boleng.

Ia menjadi kebanggan masyarakat apalagi letaknya di pinggir dermaga laut. Dari kejauhan sudah terbaca pabrik sabun, sebuah contoh tentang proses yang tidak saja mengirimkan bahan baku tetapi dikelola secara lokal.

Sayangnya inisiatif itu mati. Kopra yang menjadi komoditi tidak dikembangkan lebih jauh. Pemerintah tidak membantu dalam mengelola kelapa secara subsistensial, tetapi hanya berperan sebagai ‘penimbun’. Kehadiran Koperasi Unit Desa (KUD) pada tahun 70-an dan 80an sekedar menjadi tempat penimbunan kopra. Tidak lebih dari itu.

Yang tidak kalah penting, hadirnya lembaga pendidikan dengan inspirasi kelapa atau nyiur seperti SMP Rayuan Kelapa (Larantuka, kini almarhum). Di Kiwangona ada SMP Lembah Kelapa. Ada juga SMP Nyiur Melambai di Ile Boleng (Kokor juga membangun SMA Surya Mandala) dan SMP Tanjung Kelapa Lerek di Lembata (kini almarhum), tidak dikembangkan dalam visi besar pengembangan kelapa. Ia sekedar menjadi nama tanpa upaya serius menjadikan kelapa sebagai sumber ekonomi subsistensial.

Tak heran, tidak sedikit sekolah dengan nama ‘kepala atau nyiur’ ‘wafat’. Ia mati karena tidak ada sokongan dana dari pemerintah. Tawaran pun akhirnya mengarah kepada upaya penegrian agar bisa tetap menjadikannya hidup, hal mana terjadi dengan SMP Tanjung Kelapa Lerek. Pada tahun 2007, sekolah ini dinegerikan.

Di sinilah kesalahan fatal. Mestinya sekolah bernama “Tanjung Kelapa” tidak perlu ‘mati’ kalau dikembangkan seirama dengan pembudidayaan kelapa. Upaya menghasilkan minyak kelapa mestinya didukung oleh pemerintah. Apalagi minyak kelapa memiliki khasiat.

Jelasnya, apabila sedari awal, upaya ini diarahkan kepada kemandirian, baik siswa maupun orang tua tidak mesti kekurangan dana untuk pendidikan. Mestinya mereka ‘menolak’ untuk dinegerikan karena punya dana subsistensial untuk hidup. Sayangnya, proses ini berlalu. Hal itu merupakan akibat lain ketika inisiatif seperti pabrik sabun di Sagu dan Waiwerang pun ‘gulung tikar’. Kelapa pun hanya dihargai sebagai kopra dengan ujung pengolahan yang tidak diketahui.

Menata Kembali

Perayaan pesta Emas SMP Tanjung Kelapa mestinya jadi pembelajaran penting. Ia jadi inspirasi untuk menta kembali kekayaan kelapa yang pernah digagas dan kini perlu dihidupkan kembali. Pertama, pendidikan mestinya berpijak pada keunggulan lokal. Nama Tanjung Kelapa adalah sebuah harapan bahwa masyarakat perlu hidup dari apa yang dia hasilkan dan menghasilkan apa yang dapat menghidupkannya.

Hal ini mestinya tetap dikembangkan, terlepas apakah sebuah sekolah telah dinegerikan atau tidak. Dalam konteks ini, SMP Tanjung Kelapa Lerek yang telah menjadi ‘negeri’ mesti kembali kepada alamnya (back to nature). Sedari dini, anak sudah diarahkan untuk membudidayakan kelapa. Tidak hanya itu. Kegiatan prakarya mestinya diarahkan untuk membuat minyak hingga mengolahnya menjadi produk seperti sabun atau bahan bakar (mengapa tidak).

Kedua, pendidikan perlu diarahkan untuk mematahkan mata rantai ketergantungan. Kelapa mestinya tidak dikirim sebagai kopra (bahan mentah) tetapi diolah lebih jauh sehingga bisa digunakan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Jelasnya, mestinya di Lembata dan Flores Timur tidak dibutuhkan minya goreng buatan pabrik karena masyarakat tengah memenhi sendiri kebutuhannya.

Tidak hanya itu. Pemerintah yang bijak dan arif mestinya melihat hal ini sebagai peluang. Pengembangan ekonomi masyarakat mestinya bertolak pada apa yang sudah dimiliki dan bukannya ‘mengemis’ keluar untuk dibantu. Singkatnya, masyarakat Flores dan Lembata sudah cukup mampu untuk menopang diri dari sumber yang ia miliki dalam kelimpahan.

Ketiga, perlu upaya jangka panjang. Merancang agar kelapa menjadi kekuatan, butuh waktu dan perlu disiapkan dari sekarang. Itu berarti butuh komitmen jangka panjang yang harus dimulai dari sekarang. Peremajaan kelapa dan rencana jangka panjang perlu dibuat agar di masa yang akan datang, secara pasti, masyarakat hidup dari kelapa.

Pikiran visioner jangka panjang seperti ini yang perlu dibuat dari sekarang.

Sumber Flores Bangkit 21 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s