27. Warta (Gembira) Guru NTT

27. Warta (Gembira) Guru NTT

Keluhan guru yang terungkap polos melalui media sosial tentang kebijakan kurikulum yang memberatkan, memunculkan pertanyaan penting. Apa yang harus dibuat agar guru terutama di pedalaman khususnya yang ada di NTT gembira dalam mendidik anak bangsa?

Pertanyaan itu penting. Ukuran kualitas pendidikan sebenarnya tergambar dalam suasana kegembiraan: siswa yang gembira datang untuk belajar dan guru yang merasa nyaman dalam mengajar. Kenyataan justeru selama ini terjadi sebaliknya. Guru, apalagi siswa, sekedar jadi obyek percobaan aneka kebijakan hal mana lebih menghadirkan kegalauan dan kesedihan ketimbang rasa gembira.Kembali ke Otak

Rasa duka dalam ruang kelas kalau diteliti secara mendalam ternyata berakar dari upaya pembelajaran yang tidak sejalan dengan kemauan otak, demikian kesimpulan penulis pada Temu Ilmiah Nasional Guru (TING VI), 29 November yang lalu diUniversitas Terbuka Convention Centre.SMP LEREK3 bring dreams

Otak yang menjadi pusat kesadaran bertumbuh dan berkembang dalam suasana kasih sayang. Ketika anak disentuh hatinya (dimensi afektif), proses pembelajaran terbuka dan memungkinkan sebuah dialog lebih jauh. Di sana anak akan tersentuh untuk selanjutnya mencontohi guru (dimensi psikomotorik) dalam melakukan. Akhirnya ia pun diarahkan untuk memahami esensi lebih jauh (dimensi kognitif).

Otak juga akan lebih terperangah untuk memulai pencarian ketika informasi yang diperoleh bersifat baru. Tidak ada pengulangan berlebihan yang memunculkan kebosanan. Guru kreatif justeru mencari hal menarik. Ia sulit ditebak karena konteks pembelajaran yang selalu baru dan berubah selalu baru dan berganti.

Pada akhirnya otak akan lebih mudah mencernah ketika memiliki dukungan nutrisi yang memadai dan aliran oksigen yang mencukupi. Nutrisi akan menyebabkan otak bertumbuh secara baik dan menyokong kerja otak. Pikiran tidak akan terbelah arah karena justeru tubuh yang sudah cukup nutrisi akan mengarahkan fokus pada hal yang lebih penting.

Pada sisi lain oksigen yang memadai yang terjadi dalam proses gerak akan menjadi pelancar. Anak tidak ‘dipenjarakan’ dalam kekakuan untuk sekedar ‘mendengar’ tetapi dilibatkan untuk turut mencari dan menemukan. Di sana proses penemuan itu menarik karena anak mendapatkan yang dicari tetapi juga informasi itu akan diperdalam karena aliran oksigen memperkuatnya.

Kondisi eksternal itu sangat penting karena akan memungkinkan otak untuk lebih bertumbuh dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki. Otak, demikian Tonny Buzan dalam The Ultimate Book of Mind Maps menyibak rahasia kerja otak yang selalu membentuk satu kesatuan dalam satu rangkaian informasi. Sebuah informasi umum dibagi ke dalam cabang-cabang yang masing-masingnya saling memperjelas dan mengandaikan.

Proses pembelajaran akan menjadi menarik karena rangkaian pemahaman itu disusun sebagai satu rangkaian dengan kata-kata terbatas tetapi ditarik kaitannya denan kombinasi warna-warni yang menarik. Informasi juga lebih kreatif ketika hadir dalam gambar. Saat melihat gambar, oran akan mudah terasosiasi pada maksud pengetahuan yang ingin dikejar.

Rangkaian penjelasan ini hanya mau menekankan bahwa pembelajaran kerap gagal bukan soal kurikulum. Bukan jua pada guru atau murid. Hal paling mendasar karena proses itu tidak didasarkan pada kemauan otak. Otak yang ‘dari sononya’ sangat butuh air (karena 78% otak adalah air) dan butuh oksigen (20% kebutuhan oksigen dalam tubuh diserap oleh otak) mestinya diikuti. Itu berarti pembelajaran akan mengena ketika selama hal itu terjadi, kecukupan air minum dipenuhi. Selain itu pembelajaran akan mengena ketika anak dilibatkan dalam gerakan. Bila proses itu diperhatikan maka efektivitas dan efisiensi pembelajaran terjadi dengan sendirinya.

‘Cukup Sehalaman’

Kegalauan dalam pendidikan yang sering menjadikan guru ‘terpaku’ pada buku paket mestinya tidak terjadi kalau sedari awal, konsep mengajar ditanamkan. Guru sudah dibiasakan untuk menuliskan RPP ‘cukup sehalaman’.

Penulisan singkat itu memiliki tujuan lain. Guru sudah menguasai arah materi yang dibahas yang disusun dalam satu kesatuan. Ia mudah mendeteksi apa yang menjadi inti pembahasan. Tidak hanya itu. Dengan menyusun RPP dalam bentuk mind map satu halaman, guru lebih terfokus untuk mengetahui arah pembelajaran. Ia tahu apa yang akan dituju sebagai inti pembelajaran.

Kenyataan selama ini justeru sebaliknya. Guru begitu ‘terpaku’ pada buku cetakan. Tanpa buku cetakan, seakan pembelajaran itu tidak terjadi. Padahal ia hanya sarana. Yang paling penting adalah pembuatan RPP sederhana yang mudah diaplikasikan.

Proses ini harus juga membuka mind set semua stakeholder pendidikan. Lebih jelasnya, pengawas pendidikan (yang diharapkan juga pernah berpengalaman sebagai guru) tidak begitu
‘mengutamakan’ administrasi RPP yang bukan rahasia lagi kalau itu adalah hasil ‘copy paste’.

Mind Map RPP juga tentu tidak bersifat stabil. Ia harus selalu diperbaharui. Ia akan menjadi sangat kaya ketika ia selalu dikembangkan dan diubah sesuai penemuan baru yang terjadi. Tetapi perubahan itu tentu tidak secara artifisial tetapi merupakan hasil refleksi guru yang diperoleh dalam proses membaca dan membaca. Guru yang membaca akan menjadikan informasi itu selalu baru dan pembelajaran kaku dalam buku teks menjadi begitu kaya dan mengesankan saat pembelajaran.

Penegasan ini mestinya bermuara pada pembangunan kesadaran bahwa guru yang baik adalah guru yang mengajarkan apa yang telah didalami dan dialami sendiri. Ia mendalami lewat bacaan dan berusaha mengalaminya dalam hidup sebelum diajarkan kepada siswa.

Warta Gembira

Proses di atas hanya memiliki kerinduan tunggal agar proses belajar belajar menjadi warta gembira baik bagi siswa, guru, maupun lingkungan.

Siswa akan gembira ketika kemauan otaknya diikuti. Di sana kebutuhan oksigen dan kecukup nutrisi dipenuhi. Ia juga akan gembira ketika informasi yang didengarkan selalu baru dan menyapa. Ia juga gembira ketika keaktifan geraknya diakomodir. Dan yang terutama ketika hatinya disentuh sebagai sapaan awal yang membuka ruan pembelajaran.

Guru yang gembira ditandai oleh upaya bantuan yang bisa diberikan pengambil keputusan. Pemerintah mestinya senang melihat guru gembira karena diberi ruang untuk bisa mengembangkan pembelajaran sesuai konteks situasi. Ia tidak ‘ditekan’ untuk menjadi ‘pelayan administrasi’ tetapi dibiarkan menulis apa yang ia tahu dan mengembangkannya dalam pembelajaran.

Guru juga akan gembira ketika seluruh jiwa dan raganya terarah untuk mengajar. Kenyataan justeru masih banyak guru yang punya jiwa untuk mengajar tetapi badannya masih terarah pada apa yang ia akan makan. Kejelasan guru honorer juga menjadi perhatian. Tidak hanya itu. Guru akan gembira ketika anak didik yang telah dibina dengan gembira, menjadi orang Sukses.

Masyarakat yang gembira merupakan hal lain yang dinantikan. Perubahan Kurikulum harusnya membuat masyarakat terutama orang tua gembira. Kenyataan sungguh kontradiktoris. Pemahaman minim tentang perubahan Kurikulum misalnya akhirnya menjadikan siswa dan orang tua sebagai sasaran. Guru yang tak paham K13 dengan mudah memberi beban pada siswa atas nama ‘discovery learning’ di mana siswa harus menemukan sendiri.

Rasa gembira juga akan muncul ketika konsistensi pada kebijakan pendidikan menadi dasar. Gebrakan K13 yang mengadakan penilaian secara lengkap, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik merupakan sebuah terobosan yang patut dihargai. Konsekuensinya, Semua penilaian itu bersifat seimbang dan sama rata karena itulah tuntutan dari manusia untuk berkembang secara utuh.

Kalau proses ini diterima maka betapa negeri ini akan gembira ketika sistem penilaian terutama ujian nasional ditinjau. Ada kesadaran bahwa justeru UN yang selama ini menjadi sumber derita dan akar dari kesedihan siswa, guru, dan masyarakat. Denagn demikian menghentikan UN, merupakan sebuah awal menggembirakan yang menajdikan pendidikan di negeri ini akan lebih menggembirakan.

Kerinduan ini akan lebih dirasakan lagi oleh masyarakat NTT. Selama ini mereka lebih menjadi ‘ekor’ dari sebuah proses yang tidak mendukung. Dengan menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan menggembirakan, ‘genius’ baru dari ujung Timur akan muncul dan bisa lebih kontributif mewarnai negeri ini.

 
 /wp-content/plugins/simple-ads-manager/ad.class.php on line 740

Sumber: Flores Bangkit 23 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s