28. Pendidikan Kontekstual, Seabad Pendidikan di Paroki Lerek

28. Pendidikan Kontekstual, Seabad Pendidikan di Paroki Lerek

Tahun 2015 memiliki arti yang sangat khusus untuk Paroki Lerek. Sudah 95 tahun (hampir seabad) diretas pendidikan dasar di Paroki Lerek Lembata. Saat bersamaan, juga dirayakan 50 tahun juga untuk pendidikan menengah dengan lahirnya SMP Tanjung Kelapa.

 

Sebuah perjalanan yang tentu tidak singkat. Aneka prestasi tentu saja sudah diukir. Tetapi terutama, pengalaman mereka dalam mengaitkan pembelajaran dengan konteks, terutama dalam kebijakan yang menarik untuk direfleksikan.

Penuh Strategi

Pendidikan awal di Paroki Lerek dan Lembata pada umumnya tidak terlepas dari karya para misionaris. Mereka adalah pioner dan penggagas awal. Hal itu sudah dimulai tahun 1913 di Lamalera. Di tangan P. Yose Hoeberechts, S.J, karya awal itu diretas. Kemudian disusul didirikan Sekolah Rakyat juga di Kalikur-Kedan,g Hadakewa, dan Waipukang pada tahun 1915.

Di Lerek, SR dibuka saat P. Bernard Bode, SVD diangkat sebagai pastor paroki Lamalera (1920-1950). Tepatnya dibuka tahun 1920. Bernardus Kinu da Silvadiangkat sebagai Kepala Sekolah untuk menrintis pendidikan yang di awal itu memiliki 13 siswa.

Enam tahun kemudian tepatnya tahun 1926, dibuka pendidikan SR di Waiwejak dengan guru awal dan kepala sekolah Anton Sanga Ratu Lelaona. Hingga kemerdekaan RI, tidak ada sekolah lain yang didirikan.

SR lain baru dibuka pada masa P. Conrad Beeker, SVD menjadi Pastor paroki pertama Paroki Lerek (1940-1956). Dibuka saat itu SR Atawolo (1948) dan SD Watuwawer (1954).SMP1Victor Nimo Wutun, pendiri dan guru/kepala sekolah pertama SMP Tanjung Kelapa Lerek

Hal yang mengagumkan dari pendidikan awal itu, ketika direfleksikan kini ternyata menyimpan strategi yang cukup menarik. Yang dimaksud, ada sebuah proses yang diawali dengan persiapan guru agama, guru sekolah formal, dan pendidikan keterampilan.

Pertama, pada awalnya, kebutuhan yang paling mendesak di Paroki Lerek adalah pengajaran agama. Sejak orang pertama dipermandikan tahun 1909, antusiasme pendidikan agama sangat besar. Karena itu, di tengah keterbatasan, para misionaris mendampingi secara personal para calon guru agama sehingga mereka mampu mentransfer pengajaran agama kepada umat dalam bahasa mereka. Paulus Nara Huar dan Gala Weka, merupakan orang yang berada pada deretan awal.

Kedua, pada saat pendidikan formal didirikan tahun 1920, pendidikan sudah diarahkan untuk menghasilkan guru agama dan guru sekolah formal. Tercatat guru agama seperti: Paulus Nara Huar, Wai Hayongen (Watuwaer/Atawolo), Gala Weka, Bala Geta, Michael Bala Hugur (Lerek); Petrus Djuang Ladjar, Bernard Bala Mitemen Ladjar, Yoseph Hatel Keraf, Paulus Tekel Bungan, Paulus Klake Hipir (dari Waiwejak), dan Lewokurang, Gerardus Gawi Rebong, serta Guru Gego di Atalojo.

Sementara itu pendidikan formal disiapkan sebelum kemerdekaan dan sebagiannya mulai menjadi guru pada awal kemerdekaan seperti: Wilhelmus Beleta Tolok, Meran Koban, Dua Tolok, Uran Koban, Yohanes Baha Tolok, Wadan, Bura,Tubun Ladjar.

Ketiga, pada masa pascakemerdekaan, sejalan dengan didirikannya SR di Watuwawer dan Atawolo, maka disiapkan para guru. Tercatat nama seperti:Yohanes Beda Waleng, Lena Lou Namang, Mea Namang, Ola, Lewo, Kia Hipir, Ue, Boli, Laga, Bala Ladjar, Kepata, Dua, yang mulai bertugas sejak awal tahun 1950-an.

Keempat, dengan adanya kebutuhan di lapangan yakni aneka pembangunan, maka pada tahap ini, maka dikembangkan arah pendidikan. Selain pendidikan guru untuk sekolah formal, juga dikirim siswa untuk belajar pertukangan di Larantuka.

Mereka yang disiapkan waktu itu adalah: dari Atawolo: G.Gego Wadan, A. Wua Labi, K.Nimo Gole, Kopo Nuba, Y.Ratu Namang. Dari Lerek, terkirim Rofinus Raja Ari Tolok, Y.Kia Honi, Pius Kedang, Wadan Poli Bala, Yohanes Pelea Lagan Tolok, Laba Wajin. Dari Watuwawer, terkirim Bernard Baha Luga dan Petrus Temai Ledjap. Sementara dari Lerek terkirim Yohanes Lapit Namang.ALM PIUS KEDANGPius Kedang Tolok, pengelola dan 25 Ketua Yayasan Ile Hobal, pengelola SMP Tanjung Kelapa Lerek

Sementara itu para guru yang disiapkan untuk pendidikan formal sesuai dengan kebutuhan untuk sekolah baru Bauraja, Lamanuna, Tobilolong, Lewokoba, dan Waiteba maka dikirim lagi guru yang bertugas pada tahun 1950-an dan awal 1960-an adalah: Lemak, Dolet, Kia Terong, Kia Lekot, Lado, Hugur, Koli, Bala Ladjar, Hemeer, Lidun, Bala Kaya, Kewihal, Lagar, Arkian, Heru ,Hela, Rehe,Tue Hipir, Lagadoni, Tue Namang, Beleta Hipir.YOHANES PELEA TOLOKYohanes Pelea Tolok (Yapet), salah seorang “Tukang Kayu”  berpendidikan Tukang di Larantuk yang dikirim oleh P. Conrardus Beeker, SVD. 

Yang juga menarik, baru pada periode ini, tepatnya Setelah persiapan guru menjadi cukup matang, mulai dikirim siswa untuk belajar di seminari. Mereka yang terkirim adalah: Bala Klide, Stanis Temala, Ande Dolu Namang,Stefanus Laga,Victor Nimo Wutun. Dari angkatan awal ini tidak ada yang ‘tembus’ menjadi imam. Penantian baru terwujud ketika Mgr Leo Laba Ladjar, OFM, kini Uskup Jayapura ditahbiskan menjadi imam di Roma, tahun 1976 oleh Paus Paulus VI.

Pembelajaran Bermakna

Yang dilakukan di Paroki Lerek hanyalah hal kecil dan sederhana. Tetapi dalam kacamata Elaine B. Jhoson (Contextual Teaching and Learning, 2002), mengandung elemen pembelajaran kontekstual.

Pertama, sebuah model pembelajaran yang berpijak pada kebutuhan nyata. Kebutuhan ini kemudian digagas dan diolah oleh otoritas (gereja) sehingga dihasilkan apa yang dibutuhkan. Persiapan guru agama, guru sekolah, dan para tukang adalah sebuah contoh yang sangat jelas.

Hal yang tidak kurang menarik, otoritas setempat tidak terkendala dalam proses birokrasi berbelit, karena mereka memiliki kebebasan untuk membuat aturan. Self-regulated learning seperti ini oleh Johnson memiliki peran yagn sangat penting. Dalam kontes terbatas, otoritas setempat mampu dan bebas menetapkan prioritas sesuai dengan kebutuhan.

Kedua, pembelajaran dikaitkan dengan kebutuhan hidup. Yang diajarkan adalah apa yang dibutuhkan dan diarahkan untuk menjalin kerjasama. Aspek ‘collaboration’seperti ini menjadi salah satu elemen pembelajaran kontekstual. Di sana guru tidak sekedar mengajar di sekolah tetapi juga menjadi pemuka masyarakat dan agama. Demikian juga pemuka agama tidak berhenti mengajar di Gereja tetapi juga memberi kesaksian dalam kehidupan bermasyarakata. Para tukang pada awalnya adalah ‘tukang misi’ disiapkan untuk membangun gereja.

Ketiga, para guru sekolah melaksanakan pembelajaran bermakna oleh kreativitas yang dimiliki dalam menggagas isi pembelajaran. Sebuah contoh menarik. Ketika penulis di SD, Yohanes Baha Tolok (alm), salah seorang guru pioneer, mendisain pembelajaran geografi untuk mengenal perbukitan, gunung, dan sungai yang ada di sekitar.YOHANES BAHA TOLOK

(Yohanes Baha Tolok, guru contoh yang mendisain bahan ajarnya sendiri dengan mempelajari geografi dari lingkungan sekitar).

Sebuah contoh teramat mencengangkan saat guru dewasa ini begitu bergantung untuk belajar tentang keadaan geografi di “Jawa”, “Kalimantan” malah dunia. Mereka tahu tentang bukit barisan di Sumatera, gunung Bromo, tetapi tidak tahu realitas yang ada. Justeru para guru menyadarkan bahwa belajar adalah memahami apa yang ada di sekitarnya.

Tidak hanya itu. Sudah ‘saat itu’, guru melaksanakan ‘sekolah jalan’. Siswa, berbekal makanan lokal harus ‘naik-turun gunung’, ke pantai, untuk mempelajari sesuatu yang ada di sekitarnya. Hal bermakna inilah yang harus kita perlu dihidupkan yang dewasa ini begitu ditekankan lagi. Kita sadar bahwa masa silam menyimpan tidak saja kenangan tetapi juga model pembelajaran bermakna yang harus kita hidupkan lagi.

Sumber: Flores Bangkit 4 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s