30. Guru, Melawan Otak

30. Guru, Melawan Otak

Juli 2015 memiliki arti yang sangat khusus bagi masyarakat di Selatan Lembata, Lerek-Atadei. Lima puluh tahun lalu, bahkan di tengah situasi G30 S/PKI, mereka kukuh memulai sebuah karya monumental untuk masyarakat di Atadei dengan mendirikan SMP Tanjung Kelapa Lerek.YBAI LEREK 4

Suasana diskusi menyusun ‘outline’ untuk sebuah tulisan ilmiah di Lerek 2 Juli 2015

Meskipun kini sekolah swasta itu telah beralih menjadi SMP Negeri 2 Atadei, tetapi inisiatif, prakarsa, dan tekad para pendiri jadi inspirasi. Bahkan aneka prestasi selama 50 tahun yang telah berhasil menjadi ‘alma mater’ bagi 1500an siswa jadi inspirasi untuk diadakannya Pelatihan Guru pada tanggal 2 – 3 Juli 2015.

Luar Biasa

Sebuah pengalaman sederhana masih kuat teringat saat penulis di bangku SD. Ada hal yang paling disukai yakni ‘sekolah jalan’. Dengan berbekal jagung titi dan kelapa muda, sebuah perjalanan dimulai dari kampung ke pantai.

Perjalanan yang sangat melelahkan mestinya. Tetapi hal itu tak terasa. Selama perjalanan, guru menjelaskan beberapa kekayaan geografi setempat. Ia menunjukkan pada kondisi bukit di sekitar hingga daerah terjauh di desa malah kecamatan lain yang hanya tampak kecil.YBAI LEREK 10

Drs Dominikus Dolet Unaradjan, salah satu narasumber dalam pelatihan guru di Lerek 2 Juli 2015

Ada sebuah konektivitas antara pelajaran di sekolah dan realitas konkrit. Pengajaran terasa menyenangkan karena bahan pelajaran terkait kehidupan. Keduanya saling berkaitan.

Pengalaman yang sederhana puluhan tahun lalu, kini mendapatkan pembenaran. Model yang begitu sederhana ternyata mengikuti kemauan otak. Ia menyadarkan bahwa otak yang beratnya sekitar 1,5 kg yang hampir 80% terdiri dari air, sangat menyerap oksigen. Sejauh ada sirkulasi oksigen yang cukup maka ia mudah menyerap informasi.

Kegiatan luar kelas karena itu merupakan hal yang sangat mendukung. Semakin siswa diberi ruang untuk bergerak, ia lebih mudah memahami informasi. Di sana anak dilibatkan dalam proses belajar mengajar. Mereka tidak ‘duduk manis’ tetapi dijadikan partner belajar.

Jelasnya, inilah esensi otak yang harus diikuti. Lebih lagi, otak yang terdiri dari 100 miliar sel saraf aktif (neuron). Akan lebih luar biasa lagi ketika terjadi koneksi, sambung-menyambung antar neuron. Diperkirakan ketika ada kesalingterkaitan, maka terbentuk 1000 triliun sambungan sinaptik.

Yang dimaksudkan adalah pola sambungan yang memungkinkan ditangkapkan sebuah ide baru. Tidak itu saja. Aneka kegiatan kreatif dapat dibangunkan dari kesinambungan itu. Atau, bila tidak sebanyak itu, cukup 10% saja, maka sebenarnya sudah dihasilkan pemiki setaraf Thomas Alva Edison, James Watt, Marconi, dan tokoh cemerlang lainnya.

Melawan Otak

Lalu apa yang terjadi dengan pendidikan kini, khususnya guru-guru dalam melakukan proses pendidikan? Mengapa pendidikan kini tidak secemerlang masa lalu, padahal kini kita bangga dengan aneka kelebihan yang waktu itu tidak ada?

Hal yang cukup pasti, pola kreatif yang melibatkan anak dalam proses belajar mengajar menjadi sebuah kevakuman. Di sana guru yang sanggup merefleksikan alam sekitar sebagai sumber ajar, darinya ia mengajak siswa untuk dapat berinterkasi dengan alam.

Saya teringat, bahan pertama yang diajarkan guruku saat penulis mulai tahu membaca dan menulis adalah mencatat keadaan geografi di sekitar: mencatat nama gunung, sungai, dan desa yang ada di sekitar beserta ibu kotanya. Bahan seperti itu tidak ada pada buku cetak yang dikirim dari ‘pusat’. Ia membuat bahan ajar sendiri.

Pemahaman itu kemudian ditunjukkan dalam aktivitas ‘sekolah jalan’ dan menjadi bahan mengarang. Terlihat sangat original tanpa rekayasa. Tanpa disadari, pengalaman itu menajadi hal yang terekam sampai kini.

Kenyataan seperti ini justeru menjadi absen kini. Hal itu diperparah oleh aneka ‘games’ yang memperkecil ruang interkasi siswa. Dengan gadget yang ‘touch-screen’, anak tanpa gerak sedikit pun bisa menikmati semuanya dengan mudah. Di sana daya kreativitas anak menjadi sangat berkurang.

Realitas seperti ini akan semakin tidak berhasil ketika guru yang kehilangan kreativitas coba menggunakan kekerasan sebagai ‘jalan keluar’. Hukuman tidak akan menyelesaikan masalah karena dalam logika anak, masih ada alternatif lain di luar sekolah di mana ia bisa hidup. Malah pengalaman tidak sedikit jebolan sekolah (juga skeolah tinggi) yang hidupnya ‘begitu-begitu saja’, membuat ia merasa tidak ada untungnya untuk mengenyam pendidikan.

Fakta pengajaran yang melawan otak ini mesti jadi sebuah kesadaran. Tetapi yang pasti, perubahan itu harus berawal dari guru. Guru masih menjadi pusat gravitoris yang inspiratif dan menggerakan semua komponen pendidikan. Ia yang bisa berada di tempat, merefleksikan bahan ajar, mengembangkannya merupakan tanda-tanda awal dalam pembaharuan pendidikan.

Anak, yang dari ‘sononya’ punya rasa ingin tahu, akan terdorong karena terinspirasi oleh gurunya yang punya rasa ingin tahu. Di sana, sebuah proses pembelajaran dan pembaharuan pendidikan bisa dimulai.

Sumber Flores Bangkit 15 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s