(9) Menutup LEDALERO?

Ledalero, Ditutup?

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Sumber: Flores Bangkit 30 Januari 2014

Berita menggemparkan di Agustus 2012 yang lalu tentu masih kuat terekam. Harian Kompas melalui wartawannya Kor Kewa Ama yang juga adalah alumnus Ledalero, memuat berita tentang terancam ditutupnya STFK Ledalero karena defisit anggaran yang dialami. Bisa dipahami. Membiayai hampir 500-an orang bukalah perkara muda. Dibutuhkan miliaran malah triliun.

Lalu apakah kisah itu sudah selesai? Mustahil bertanya demikian. Soongan dari berbagai pihak sebagai tanggapan atas berita itu bisa saja cukup memberikan rasa lega dalam pengembangan pendidikan paling bergensi di Flores ini. Tetapi apakah ‘tidak digulirkannya’ itu itu berarti masalahnya sudah terselesaikan?

Pada sisi lain, yang barangkali tidak ada kaitannya, penulis ‘tersentuh’ dengan berita tentang pemberian penghargaan terhadap PNS yang secara terus menerus mengikuti kegiatan pembinaan rohani (FloresBangkit 27/1). Ia sungguh berbeda dengan kisah tragis pertama. Namun ia justru menjadi titik berangkat (meski sedikit dipaksakan) untuk refleksi ini.

Penjara Jiwa?

Konsep dari filsuf klasik Plato, sang murid Socrates, tentang tubuh sebagai penjara jiwa pada masanya dianggap sebagai sebuah kebenaran.  Jiwa, baginya bersifat murni adanya dan berasal dari pengetahuan ideal yang diturunkan dari prakeksistensi.

Ketika manusia terlahir dibalutkan tubuh, jiwa sepertinya mengalami kelupaan. Adalah tugas manusia ‘mengingatkannya’ tentang jiwa yang pernah sangat murninya. Hanya dengan usaha terus menerus menyadarkan eksistensi itu, maka akan muncul ‘kebahagiaan’ atau yang bisa disebut jiwa mencapai keluhurannya.

Namun melalui pemahaman itu perlahan terkikis oleh hadirnya kesadaran tentang sebuah keberadaan yang saling mengandaikan. Niscaya jiwa berkembang di luar tubuh, karena dengannya ia seakan hanya bergerak dalam kehampaan. Atau, mustahil tubuh berkembang tanpa adanya kekuatan yang menjadikannya pengarah.

Pemahaman seimbang inilah yang memberi kesadaran tentang kesalingmengandaikan. Badan yang menjiwa dan jiwa yang membadan. Tumbuh kembang keduanya secara integratif, kian membawa sebuah pribadi menuju kepada kematangannya. Dengan kata lain, semakin kuatnya badan akan sangat mengandaikan kekuatan spiritual yang ada padanya. Sementara jiwa sebagai pengarah, akan kian bermanfaat ketika sanggup mewujudkan dirinya dalam keseharian yang memberi makna terhadap kehidupan.

Kesadaran ini bisa dijadikan alasan yang bisa memberi pendasaran atas penegasan Setda NTT, Frans Salem tentang pentingnya memberi penghargaan terhadap PNS yang ‘rajin’ mengikuti pembinaan rohani. Tanpa membenarkan adanya upaya sekedar ‘tampil alim’ (padahal kenyataannya terjadi kepincangan dalam kesaksian hidup), kesadaran bahwa pembinaan rohani berkontribusi terhadap pematangan tubuh yang berimbas pada kinerja kerja tentu tidak bisa dianggap sederhana.Seminari-Tinggi-St.-Paulus-Ledalero

Apalagi kembali kepada pemahaman tentang badan yang menjiwa maka muncul keyakinan bahwa kepincangan dalam lingkup kerja, mengguritanya korupsi, kian tak terkontrolnya aksi brutal, sekedar menyebut beberapa contoh, tidak bisa hadir sebagai sebuah kebetulan. Ia bisa lahir dari kekosongan jiwa di mana manusia menginginkan sesuatu tanpa realistis terhadap proses alamiah-tubuh.Sebaliknya keinginannya melampaui usahanya yang akhirnya menjadi khilaf.

Tak Perlu Tutup

Konsep kesatuan jiwa juga menjadi titik berangkat untuk menganalisis krisis yang pernah melanda (katanya masih terus dirasakan meski sempat ‘berhenti’, oleh bantuan yang pernah datang) Ledalero dan (apalagi) dan tidak Seminari Menengah di Flores.

Jelasnya, bagaimana mungkin sebuah lembaga yang punya peran yang tidak bisa dibayangkan untuk pembangunan di NTT khususnya dan Indonesia pada umumnya harus berhadapan dengan kenyataan ‘akan ditutup’ karena tidak sanggup lagi mendapatkan dana hampir 1 triliun untuk biaya operasionalnya?

Memang melihat angka itu dan membandingkan dengan kemampuan finansial masyarakat NTT, rasanya sebuah beban sangat berat. Ketika pengeluaran itu lebih besar dari pemasukan (yang hanya ‘apa adanya’), maka kemungkinan untuk defisit dan berakhir dengan ‘bubar’ adalah hal yang sangat mungkin. Ia adalah konsekuensi sangat logis dari sebuan tuntutan hidup yang tidak terpenuhi oleh kondisi riil.

Masalahnya, apakah hal itu hanya bisa diterima dengan ‘mengurutkan dada’, karena memang demikian? Atau, apakah realistis dimana sebuah lembaga yang sangat kontributif terhadap pembinaan mental spiritual masyarakat dibiarkan ‘mati’ perlahan oleh ketiadaan dana pendukung?

Dilema ini akan kembali mengingatkan kita tentang kesadaran utuh tentang jiwa yang membadan dan badan yang menjiwa. Kalau pembinaan rohani itu dianggap sebagai bagian dalam pematangan diri yang berimbas secara kontributif pada pengembangan diri dan peningkatkan kinerja kerja yang muara akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat, maka pengembangan rohani itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari tanggungjawab negara.

Dalam arti ini maka krisis sebuah lembaga bergengsi tidak bisa dianggap sebagai keprihatinan yang ‘sekedar’ menggugah umat Kristen Katolik di mana saja, terutama di negeri ini yang terkenal sangat ‘dermawan’ untuk segera merogo koceknya untuk membantu ‘menghidupkan’ seminari.

Pola ini memang kelihatan cukup membantu, terutama setelah informasi ‘defisit’ anggara itu sempat ‘menasional’.  Manfaat positif itu segera diperoleh di mana dana yang diperoleh cukup membiayai perjalanan hidup selama setahun yang lalu. Namun hal itu hanya bersifat sementara, tidak bisa seterusnya demikian.

Tentu saja jalan keluar internal sudah dilaksanakan semaksimal. Pengetatan pengeluaran, upaya sumbangsih tiap anggota dalam menghidupi komunitasnya melalui pekerjaan sudah dilaksanakan. Namun realitas ekonomi umat yang ‘pas-pasan’, tentu saja tidak bisa diharapkan lebih dari itu, darinya dibutuhkan jalan keluar yang lebih baik.

Fakta inilah yang membutuhkan sebuah refleksi lebih jauh, hal mana akan dibahas dalam tulisan kedua. Hal itu didasarkan pada kesadaran bahwa lembaga seperti Seminari Tinggi Ledalero dan Ritapiret yang jadi ‘induk’ penghasil tokoh piawai tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia itu ‘tidak (mesti) ditutup’, selagi kesadaran akan jiwa yang membadan dan badan yang menjiwa adalah kesadaran kita.

Membiarkan lembaga pembentuk watak itu ‘pergi’, berarti merancang sebuah ‘chaos’ karena ‘badan’ berjalan bak hantu tanpa orientasi yang berimbas pada sebuah tragedi yang lebih besar.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s