(8) Pendidikan, Ada Bersama

 

Pendidikan, Ada Bersama

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Kekuatan film “Sokola Rimba”, tidak berhenti pada kritik dan ironi tak sedap. Dosis kritik yang dirancang dengan sangat halus tetapi mendalam itu tentu tidak bisa dihindari. Ia menjadi bagian demi membangun kesadaran akan kepalsuan hidup dan topeng kemajuan yang kerap digunakan.

Tetapi apa sebenarnya yang lebih dalam yang menjadi inti dari film ini? Nilai pedagogis apa yang bisa dipetik dan dijadikan pembelajaran tidak saja bagi pemerintah tetapi juga bagi guru dan mengapa tidak bagi kita pada umumnya?butet

Ada Bersama

Sosok Butet Manurung yang diangkat dalam film ini menjadi salah satu jawabannya. Ia hanya seorang anak muda belia, seperti gadis pada umumnya. Ia pun adalah produk pendidikan yang sangat mendewakan pengetahuan, karenanya ketika lulus, yang cepat disadari bahwa ia tidak punya apa-apa dan tidak tahu apa yang akan diperbuat.

Pilihan untuk bekerja pada  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Warung Informasi Konservasi (WARSI) pun karena satu-satunya pilihan yang mungkin yang tentu saja tidak akan dipilih kalau ayahnya masih hidup. Singkatnya, sebuah keterpaksaan yang ada di awalnya.

Keadaan berubah perlahan ketika Butet melihat bahwa LSM yang tentu saja punya misi mulia itu kerap kali berhenti pada tahapan ‘lip service’ dengan menghadirkan fakta berupa foto. Tentu saja itu bertujuan menyelamatkan hutan dan membantu orang Suku Anak Dalam, tetapi semuanya terbatas menjadikan mereka sebagai ‘objek studi’, dan bukannya subyek yang diajak untuk bekerja sama.

Kenyataan inilah yang menggugah dan memberanikannya untuk keluar dari rutinitas dan masuk ke hutan. Sebuah proses yang tentu tidak mudah. Ia ‘hanyalah’ seorang wanita yang harus masuk sendirian ke tengah hutan. Kekejaman hutan berupa binatang buas hingga para lelaki yang hanya ingin iseng, belum lagi prasangka negatif dari Suku Anak Dalam menjadi sederet tantangan yang tidak mudah ditakluki.

Tetapi tekad mulia menjadikannya yakin bahwa apa pun, kalau dikehendaki “Yang di Atas”, maka dapat terwujud. Ia pun mulai melanglangbuana mencari Suku Anak Dalam. Lebih lagi ia ingin bertemu, bercengkerama dengan anak-anak, dan kalau memungkinkan dapat berbuat sesuatu yang lebih dari itu.

Tetapi proses itu tentu tidak mudah. Penagalaman dibohongi oleh orang yang-orang terang (demikian julukan untuk orang di luar suku mereka), begitu kuat. Karena itu kehadirannya awalnya dilihat sebagai bagian dari skenario pembohongan tetapi dilakukan dengan wajah yang lebih bersahabat.

Penolakan menjadi hal logis. Tetapi bagi antropolog asal Batak ini, praduga itu akan berkurang seirama dengan kesaksian hidupnya di antara mereka. Hal itulah yang perlahan terjadi. Nyungsang Bungo, si Anak Suku Anak Dalam yang cerdas itu merasakan hal itu. Ibu guru hadir sungguh menjadi bagian dari mereka dan ingin membantu mereka untuk membantu mereka keluar dari mekanisme pembohonan yang terjadi.

Orang Suku Anak Dalam pun menyadari. Berbeda dengan orang lainnya yang datang dengan bantuan material dan gelagat tak sedap, Butet hanya hadir dengan papan tulis yang ditempelkan di belakang rangselnya. Itu pratanda, yang di bawa hanya kesediaan yang ditawarkan kepada mereka untuk dapat menafsir sendiri realitasnya dan berusaha berdiri di atas kakinya sendiri.

Proses ada bersama yang diteapkan Butet ternyata memunculkan hal yang lebih kaya. Asumsi awal bahwa ia datang untuk mengajarkan anak-anak Suku Anak Dalam ternyata dalam perjalanan waktu berubah. Ia tidak hanya mengajar tetapi bahkan sekaligus belajar dan diajari oleh mereka.

Mereka mengajarkan tentang kesementaraan hidup oleh kesadaran bahwa hidup hanya sebuah perjalanan. Kita adalah bangsa nomaden yang tidak harus berhenti berjalan. Karena itu, ruang lingkup di mana kita hidup mestinya dilepas dalam keadaan baik agar peziarah berikutnya dapat menikmati sesuatu. Jelasnya, tidak semuanya dihabisi atas nama ‘carpe diem, quam credula postero’  yang artinya: petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari besok.

Sebuah semboyan yang membuat orang menjadi rakus dan menghabiskan apa pun hari ini tanpa menyisakan sedikit pun untuk generasi berikutnya. Padahal sebagai peziarah, perlakuan untuk hidup menurut alam, solider dengan generasi lain, taat pada lingkungan hidup, bersikap ekologis, merupakan pembelajaran yang didapatkan dan diajarkan secara cuma-cuma oleh Orang Rimba.

Proses ada dan saling belajar inilah yang oleh pedagog asal Austria Ivan Illich dianggap sebagai intinya. Dalam bukunya La Convivencialidad, 1974, ia mengungkapkan esensi pendidikan yang sebenarnya adalah ada bersama. Antara yang mengajar dan yang diajar mesti saling memberi dan menerima.sokola rimba2

Guru, tentu saja punya kelebihan dalam hal pengetahuan. Tetapi melalui metode ilmu pengetahuan yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran maka ia harus akui bahwa banyak hal yang terjadi di sekitar siswa yang membuat mereka lebih tahu dari sang gurunya. Karena itu proses yang paling tepat adalah saling berbagi.

Memasang Api

Metode pembelajaran di hutan yang di negara Barat dikenal sebagai ‘Forest Education’ atau ‘Junggule Education’ memiliki contoh secara natural dalam Sokola Rimba. Hal itu terwujud berkat heroisme dari seorang pendidik, hal mana kian jarang ditemukan dalam diri guru.

Oleh alokasi dana pendidikan 20% dari APBN menjadikan profesi guru sudah menjadi profesi yang dicari. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan telah menjadi tujuan favorit. Hal itu juga terjadi dengan minimnya pengabdian di daerah terpencil. Membengkaknya jumlah guru di kota dan hampir tidak ada guru di pedalaman adalah contoh paling jelas.

“Sokola Rimba”, justru mengahdirkan kembali dedikasi ini. Tak pelak, ia bisa dikategorikan sebagai ‘an affecting tale heroism’, sebuah cerita mengesankan tentang heroisme yang mesti dihidupkan lagi oleh guru. Mereka terpanggil untuk jadi guru dan ada bersama peserta didiknya juga di daerah terpencil.

Tipikal guru seperti ini ada di tengah murid untuk memasang api. Ia ibarat Prometheus yang karena cintanya kepada manusia, rela dihukum oleh Zeus hanya karena ingin mencuri api agar manusia pun dapat memiliki bantuan tidak saja untuk memasak makanan tetapi terutama api yang membuka pikirannya sehingga menjadi lebih cerdas.

Rasa cinta orang Rimba pada Butet Manurung terjadi karena dedikasi yang utuh. Lewat mengajar anak membaca, menulis, dan berhitung, ia seakan hanya memasang api, membawa terang, dengannya orang-orang Rimba sendiri yang harus menerangi hidupnya. Itulah esensi pendidikan yang sebenarnya. Ia ada bersama mereka, membawa terang, agar terang itu juga hadir dari Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Pemerhati Masalah Sosial.

Sumber: Flores Bangkit 3 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s