(7) Pendidikan, Petaka Pensil

Pendidikan dan Petaka Pensil

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Akhir pekan lalu, 26/11, untuk pertama kali saya mengajak puteraku untuk mengenal tontontan di layar lebar. Tak tanggung-tanggung, film perdana yang ingin disaksikann adalah “Sokola Rimba”, karya sutradara Riri Riza. Ada angan, minimal puteraku bisa mengenal sejak awal film berbobot.

Rupanya hal itu tidak salah. Setelah menonton, puteraku mengajukan pertanyaan: “Pak, mengapa bu guru itu tidak disukai orang Suku Dalam?” Saya terdiam karena tidak mudah menjawabnya, apalagi kepada anak balita. Butuh penjelasan perlu disesuaikan dengan daya tangkapnya.pensil

Setelah berpikir agak lama, akhirnya kudapatkan jawaban yang nota bene seperti yang ditampilkan. “Ia ditolak karena mereka mengira, pensil yang digunakan bu guru Butet itu membawa kesialan (petaka). Mereka lalu mengusir sang guru dari antara mereka.”

Mengisi Kekosongan

Tentu saja prasangka yang ditampilkan oleh Suku Anak Dalam itu sangat tidak tepat. Tidak ada kaitan sama sekali antara pensil dan mala petaka yang terjadi di antara warga suku dalam.

Memang bisa saja ada hal yang terjadi secara berurutan. Contohnya saja. Setelah mengikuti pelajaran bersama sang guru, seorang anak langsung menderita sakit. Hal itu langsung ditarik sebuah kesimpulan ‘post ergo propter hoc’. Kejadian yang terjadi sesudahnya dianggap disebabkan oleh kejadian sebelumnya.

Dari sisi logika, hal itu dianggap sebagai bias alias penyimpangan logis dan karena itu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi apakah dengan demikian lantas asumsi orang Suku Anak Dalam itu salah?

Belum tentu. Bila dilihat dari sisi logis, barangkali ya. Tetapi bila diteropong dari sisi makna simbolis, maka hal itu tentu tidak sia-sia. Ia bisa saja merupakan akumulasi kebijakan yang diungkapkan dan ditampilkan secara simbolos pula hingga akhirnya mereka menarik kesimpulan seperti itu.

Jawaban itu bisa dikaitkan dengan kata-kata seorang sastrawan legendaris yang secara menganalogkan pohon dan puisi. Baginya, pohon adalah puisi yang dituliskan bumi ke atas langit. Kita menebangnya dan merubahnya menajdi kertas untuk menuliskan kekosongan jiwa kita.

Di sini baik kertas (apalagi pensil), bisa hadir seperti apa adanya karena terbuat dari kayu pohon. Apabila kertas saja yang lebih halus ternyata prosesnya dilakukan dengan menebang pohon maka hal itu lebih jelas dalam pensil.

Untuk bia menghasilkan sebuah pensil, tidak sedikit pohon ditebang, diolah kemudian hingga akhirnya hadir dalam bentuk seperti yang ada untuk menulis. Upaya perambahan hutan dianggap sebagai bagian dari itu.

Orang-orang (pengusaha) kayu dantang ke Taman Nasional Bukit Dua Belas dan menebang pohon, menjadikannya perkebunan kelapa sawit yang kemudian dijual juga ke manca negara. Di atas keuntungan dan kekayaan itulah manusia secara tak sadar mengukirkan kehampaan jiwanya.

Melegalkan Keserakahan

Pengalaman merasa disingkir oleh perambah hutan sangat kuat dalam diri orang Suku Anak Dalam. Merkea melihat dan mengalaminya sendiri bagaimana ruang hidupnya semakin sempit dan kian sulit didapatkannya hewan buruan karena tidak sedikitnya telah disulap jadi perkebunan kelapa sawit.

Ada hal yang lebih menyayat hati. Para pengemban, pengusaha yang tentu kaya raya itu, bukan orang naïf sama sekali. Mereka bisa disebut ‘sangat taat’ undang-undang. Langkah mereka merambah hutan tidak dilakukan secara membabi-buta. Semua prasyarat legal telah dipenuhi. Mereka telah mengantongi aneka izin dari Pemerintah Daerah untuk bisa ‘memasuki secara legal’, Taman Nasional Bukit Dua Belas yang luasnya sekitar 60.500 hektar itu.

Yang juga pasti akan diacungi jempol oleh pejabat vertikal atas perilaku ‘etis’ para perambah hutan adalah kesediaan mereka mendekati orang Rimba untuk meminta persetujuan dan membubuhkan cap jari mereka sebagai ‘tanda persetujuan’. Dan mereka pun tentu tidak hadir dengan tangan kosong. ‘Basa-basi’ uang ‘rokok’, pasti diberikan untuk memenuhi semua prasyarat.

Perjanjian itu pun dianggap utuh karena dilakukan dalam suasana ‘empat mata’. Bahkan kepada Suku Anak Dalam pun diberikan saut eksemplar perjanjian untuk disimpan sebagai bukti bahwa sebuah prosedur legal telah dilaksanakan secara ‘cermat, dan tidak ada pembohongan apa pun’.

Padahal semua tahu, perjanjian itu nyaris punya makna karena tak seorang pun dari antara mereka yang tahu tulis baca. Karena itu menyimpan dokumen perjanjian itu tentu bukan dilihat sebagai tanda pemenuhan hukum tetapi lebih menjadi saksi bahwa sebuah proses timpang telah terjadi. Jelasnya, ia hanya melegalkan keserakahan yang mestinya tidak terjadi.

Menggugat

Film “Sokola Rimba”, tentu saja hadir sebagai sebuah kritik yang cukup pedas atas formalitas prosedural kerap dilakukan dan digugat karena merupakan sebuah penyimpangan dalam arti yang sebenarnya.3912-butet-manurung--gak-keren-mati-tanpa-dikenang-

Pertama, pemerintah sebagai pengambil keputusan dan ‘penjaga’ taman nasional itu kerap bekerja hanya berdasarkan unsur legalitas formal. Padahal yang lebih diharapkan adalah bagaimana melakukan terobosan yang lebih berpihak kepada orang lokal. Aneka seremoni kunjungan misalnya dikembangkan sekedar memenuhi tuntutan legalitas tetapi tidak lebih dari itu.

Aneka bantuan tentu ada tetapi diberikan dalam konteks menjadikan orang Suku Anak Dalam agar menjadi ‘modern’ seperti kita yang lain. Tak heran, mereka diambil dari lingkup hidup, diberikan pemukiman di pinggiran perkebunan Kelapa Sawit, diberikan ‘uang lauk pauk’. Tanpa disadari proses itu kilaf karena mencabut mereka dari lingkup yang mestinya harus terus dijaga.

Kedua, kehadiran ‘Sokola Rimba’, adalah sekaligus sebuah olokan tidak langsung tetapi sangat mengena, mengkritik kepalsuan hidup. Kehidupan mestinya dianggap hanya sementara saja, maka usaha mengekalkan lewat akumulasi kekayaan secara tak wajar adalah sebuah tertawaan yang sangat tidak menggelikan.

Perambahan hutan adalah bagian dari kesombongan dan egoisme yan ditertawai oleh orang Rimba. Sebaliknya mereka mengajarkan bahwa kita adalah bangsa nomaden yang harus terus berjalan. Kita tidak lebih peziarah yang harus terus berjalan. Segala yang diperoleh dalam perjalanan hendaknya digunakan untuk dapat melewati tahapan perjalanan.

“Sokola Rimba” karena itu mengingatkan bahwa kita semua adalah peziarah. Kata-kata Nelson DeMille benar ketika menulis: “We’re all pilgrims on the same journey – but some pilgrims have better road maps”. Harus kita akui, semua kita adalah peziarah. Tetapi orang Suku Anak Dalam harus diakui punya jalur lebih baik yang harus kita teladani. Film itu mengajak kita mencontohinya.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Pemerhati Masalah Sosial.

Sumber: FloresBangkit 02 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s