10. Bupati “Cowboy”

Bupati  “Cowboy”

Running Text sebuah televisi swasta nasional dengan segera menghentikan perhatian saya dari berita lainnya. Bukan saja locus peristiwa terjadi di ‘kampung halaman’, tetapi terutama aksi  koboik sang bupati Bupati Ngada, Marianus Sae, menutup Bandara Turelelo Soa.

Tanpa mengingkari urgensi keberangkatan sang bupati dari Kupang ke Bajawa yang nota bene sejalan jugan dengan ketentuan tentang perlunya moda transportasi pesawat menyediakan paling kurang satu tempat untuk kebutuhan darurat pemerintah, tetapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk melumpuhkan akal sehat dari seorang pemimpin daerah.cowboy

Bagaimana memahami hal ini? Apakah aksi itu bisa dibenarkan dengan alasan urgentisitas? Apakah hal itu bisa ditafsir lebih luas dengannya interpretasi hukum bisa melampaui tindakan sang bupati?

Citra Maskulin?

Kisah Koboi (Cowboy) yang sangat melegenda di AS (selain di Amerika Selatan dan Australia) punya akar yang sangat kuat dari pengaruh Spanyol, demikian tulis Michael P dan Richard B Roeder dalam Motana,  A History of Two Centuries, 1991.

Orang Spanyol, yang menempati Sebagai pemukim awal di AS, mereka menggunakan kuda dalam menjaga ternak. Mereka disebut ‘vaquero’ yang menempati Nueva Espana atau Spanyol baru yang ditempati oleh Meksiko sekarang ini.

Dengan berjalannya waktu, seirama perbedaan tanah, iklim, dan pengaruh dari tradisi ternak berbagai budaya menghasilkan peralatan, pakaian, dan cara menggembala yang berbeda-beda. Malah ia juga beradaptasi dengan dunia modern baik dalam perlatan maupun teknik, meski akar tradisinya tetap dipertahankan.

Secara umum, kehadiran para koboi dianggap sangat berani. Bayangkan saja, di tengah tantangan alam yang sangat keras, ancaman hewan buas maka keberanian para koboi menjaga ternak dianggap sangat heroik. Tak pelak ia menjadi citra idel maskulin. Ia tentu ditonjolkan berhadapan dengan tindakan tidak sedikit penjaga ternak yang hanya gagahan saja, tetapi lari terpontang-panting saat berhadapan dengan ancaman.

Kisah itu tentu ditonjolkan karena menjadi representasi figur pemimpin dalam level apa pun yang karena komitmennya dengan rakyatnya, rela melakukan apa saja demi membuat rakyatnya sejahtera. Citra maskulin itu begitu dinantikan. Figur itu rela menderita dan memilih menderita hanya demi membuat orang lain bahagia. Tak pelak, figur itu sangat disanjung, tidak saja di dunia klasik, juga kini.

Kehadiran figur koboi dalam Marlboro Man bisa jadi satu contoh. Ia adalah contoh adaptasi yang dikenang hampir di seluruh jagat. Ia sekaligus  menjadi figure kombinasi yang tepat antara ketokohan klasik koboi dan harapan untuk tetap ditunjukkan dalam dunia yang sekarang.

Sembrono?

Sayangnya, dengan perjalanan waktu, aroram tak sedap itu masuk dan mencederai figur mulia para koboi. Hal itu terkait dengan tindakan sembrono yang juga mengabaikan risiko potensial, demikian Dictionary.com: The American Heritage® Dictionary of the English Language, Edisi 2004.bupati

Gambaran itu tidak salah diterapkan. Majalan Time 2006, menggambarkan presiden George W. Bush dengan diplomasi Koboinya. Di sana, dengan kekuasaan ‘super power’ yang dimiliki, presiden negeri Paman Sam itu secara ‘sembrono’ menyerang siapa pun yang dianggap merugikan AS.

Kisah itulah yang dengan sayang sekali terjadi di Bandara Turelelo Soa, Ngada. Marianus Sae yang dengan posisi nomor 1 di Ngada, merasa perlu secepatnya berada di daerahnya yang tentu dipahami demi kepentingan lebih banyak orang. Untuk itu, siapa pun (dalam benaknya), termasuk maskapai penerbangan apa pun (yang sebenarnya berada di bawah Kementrian Perhubungan) harus ‘taat’ kepadanya.

Sampai di sini bisa dipahami (meskipun sangat dipaksakan). Urgensi apa pun tidak bisa mengalahakan kepentingan lainnya. Jelasnya, ‘pemaksaan’ bupati untuk ‘harus terbang’, pasti sekaligus memaksakan maskapai untuk mengorbankan orang lain. Itu pun bisa dipahami. Tetapi bila upaya itu telah dilaksanakan dan kepentingan yang lain pun tidak bisa dikalahkan begitu saja, maka sebuah kerendahan hati dan sikap legowo meski ditunjukkan oleh siapa pun, terlepas apakah ia punya jabatan atau tidak.

Sayangnya, pertimbangan akal sehat ini yang absen dalam diri sang bupati. Ia bahkan tidak memiliki hal yang paling minim yang mesti dipunyai oleh siapa pun dalam mempertimbangkan seesuatu. Puteraku yang barusan 3 tahun 4 bulan, saat menonton berita TV tentang ‘aksi koboik’ bupati yang menutup bandara dengan tegas menyatakan, itu ‘tidak baik’.

Sayangnya pertimbangan itu tidak hadir. Hal itu bisa terjadi karena kekuasaan dipahami bisa melakukan apa saja. Kekuasaan diartikan orang lain harus dikorbankan karena ia punya peran dan jabatan yang sangat tinggi. Ia lupa bahwa seorang pemimpin mesti mederita demi orang lain dan bukannya menderitakan orang lain demi dirinya.

Potensi Risiko

Terhadap  “Tragedi Turelelo Soa”, Sabtu, 21/12, harus diartikan lebih jauh. Pertama, ia contoh arogansi yang kelewat batas. Terhadap hal ini, maka sang bupati mesti diminta pertanggungjawaban. Ia juga secara ‘nasional’ menampilkan hal yang tidak dianggap orang Ngada sebagai sebuah budaya. Sikap hormat, rendah hati, akrab dengan budaya merupakan contoh hidup yang sayangnya dijiwai oleh rakyat tetapi tidak ditunjukkan sang bupati dalam hal ini. Kesembronoan itulah yang harus dimintakan pertanggungjawabannya oleh rakyat Ngada.

Kedua, pertanggungjawaban sang bupati harus melampaui apa yang terjadi. Dalam kasus itu memang tidak ada ‘korban’, tetapi bisa dibayangkan kalau ‘pendaratan’ terjadi karena ada alasan darurat seperti kekurangan bahan bakar. Hal itu akan bersifat mortal, yang nota bene harus menjadi pertimbangan. Meski dalam bayangan tetapi sikap antisipatif itu harus ditampilkan dalam memproses tindakan tak bijak sama sekali dari sang bupati.

Ketiga, praksis sang bupati dalah perwujudan keliru dari citra kemaskulinan. ia berprasangka dengan membatalkan pendaratan maka ke depan, maskapai akan lebih ‘berhati-hati’ menolak permintaan. Tetapi itu adalah perwujudan keliru yang menunjukkan bahwa kasus itu sekaligus mengukur kredibilitasnya ke depan.

Keempat, tindakan arogan dan sewenang-wenang, bukan saja milik bupati Ngada. Banyak pemimpin (bupati) mulia di Flores, tetapi kasus itu tidak menjadi hal tunggal. Arogansi masih dominan di beberapa kabupaten.

Di sana bupati yang sewenang-wenang meninggalkan daerahnya dalam jangka waktu yang lama, menggunakan kekuasaan untuk menderitakan orang lain (rakyat), adalah contoh yang tidak bisa diteruskan. Kasus Soa karena itu perlu diusut tuntas, diminta pertanggungjawaban, dan menjadi pembelajaran bagi daerah lain agar kekuasaan untuk membahagian rakyat di atas derita sang pemimpin dan bukannya menderitakan rakyat demi arogansi dan ‘kebahagiaan’ sang pemimpin.

Robert Bala. Pemerhati masalah Sosial. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s