(8) Benang Kusut di Lembata

Benang Kusut di Lembata

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Kisah tragis hilangnya nyawa Lorens Wadu menarik untuk ditelusuri. Hal itu bukan karena posisi politis yang dimilikinya (sebagai caleg) dan latar belakang kedudukan yang pernah ditempati. Yang lebih menarik tentang terlibatnya tidak kurang 12 orang yang menjadikan kasus ini bukannya menjadi lebih jelas tetapi kian tak pasti bak benang kusut yang sulit diurai.

Hal itu diawali dengan keterlibatan lingkran dalam yakni keluarga. Keterlibatan orang dekat entah adik angkat (Nani Ruing) adik kandung (Vinsen Wadu), malah anak kandung (Dion Wadu) merupakan hal yang menggemparkan. Tetapi hal itu mestinya tidak terlalu diperbesar karena perselisihan antar keluarga bukan hal baru. Ia setua usia manusia, sejak Adam dan Hawa dan hal itu hadir sebagai hal nyata dalam relasi kekeluargaan.benang kusut

Tetapi, mengapa masalah internal itu dapat meluas malah dijadikan ‘lahan’ empuk untuk hal-hal yang lebih besar? Keterlibatan anggota Dewan, PNS, anggota polri, sopir orang nomor 1 di Lembata, dan siapa tahu meluas hingga menyeret tokoh tertinggi di pulau yang dulu disebut Lomblen itu merupakan hal yang hanya membuat kita geleng kepala tak setuju.

Hadirnya fakta dengan sisi kejadian yang sangat banyak memunculkan pertanyaan hal mana menjadi latar belakang tulisan ini.  Mengapa hal itu mesti terjadi dan hadir ke depan kita bak benang kusut yang seakan sulit ditelusuri?

Kambing Hitam

Mengahadirkan asumsi tentang belum adanya seremoni pelepasan dari Kabupaten induk (Flotim), sebagaimana dilansirkan mantan bupati Flotim Simon Hayon bisa saja ada benarnya (Bone Pukan, Flores Bangkit 27/11).

Tetapi hal itu tidak bisa ditempatkan dalam konteks ilmiah untuk dipertanggungjawabkan. Mengapa? Hal itu bisa bermuara pada kesimpulan tentang perlunya pembuatan upacara ritual adat berupa penyembelihan hewan sebagai gantinya. Hal itu tentu ada baiknya, tetapi perlu dilaksanakan dalam satu kesatuan refleksi menemukan akar masalah, mengingat membuat ritus tanpa refleksi, bisa saja sekedar menghasilkan mekanisme kambing hitam. Hewan kurban dipersembahkan untuk ‘menebus’ dosa, tetapi kesalahan itu terus diwarisi.

Kesimpulan itu juga lemah dari sisi logika  karena ditarik hubungannya berdasarkan prinsip ‘post hoc ergo propter hoc’. Pelepasan dari Flotim yang tidak disertai upacara ‘Lepas Pisah’ antara dua saudara kandung (Lembata dan Flotim), yang diikuti aneka tragedi yang terjadi sesudahnya antara lain pembunuhan yang melibatkan anggota keluarga hingga meluas ke masalah perang di Adonara dan Solor, dilihat memiliki hubungan sebab akibat.

Jelas kesimpulan itu tidak dibenarkan. Kejadian yang terjadi secara berurutan tidak berarti yang sebelumnya menjadi sebab. Karena itu yang mesti dilakukan adalah mengadakan refleksi secara sangat tenang dan bening untuk melihat celah yang bisa menjadi titik berangkat permasalahan, hal mana sudah mulai terbuka lebar dalam beberapa persidangan terakhir.

Kesaksian Marsel Welan di depan persidangan (18/11) yang disertai dengan runtutannya (Bukan Sekedar Pembunuhan, Flores Bangkit 1/12) dianggap lebih mendekati kelogisan dibandingkan dengan kesaksian lainnya, maka salah satu kesimpulan tentang inisiatif itu (ungkapan yang lebih halus ketimbang ‘otak’) yang datang dari adik korban, Vinsen Wadu bisa diperbenarkan.

Meskipun di sana terbuka lebar celah karena mustahil pelaku yang adalah adik korban dengan pekerjaan yang tak pasti bisa menjanjikan ongkos sebesar Rp 30 juta, tetapi hal itu membuktikan bahwa konflik internal itu tidak bisa disangkal. Ia ada sebagai bagian dari permasalahan kekeluargaan yang tidak bisa dipungkiri karena hal itu ada dalam setiap hubungan kekeluargaan. Antara adik dan kakak, malah orang tua dan anak selalu ada perbedaan pendapat. Karenanya perbedaan itu tidak bisa dianggap sebagai hal ‘luar biasa’.

Sayangnya, masalah internal yang dalam kasus ini muncul ke permukaan dengan melibatkan tiga oragn dalam lingkaran keluarga mulai dari adik angkat, adik kandung, malah anak kandung, membuktikan bahwa masalah itu ternyata cukup serius hingga biasa tercium oleh orang luar yang barangkali sedang menunggu kasus seperti ini untuk bisa menganyam sebuah skenario kriminal seperti yang terjadi pada 8 Juni yang lalu.

Kian Runyam

Pertanyannya: mengapa permasalahan yang tadinya hanya muncul dari keresahan internal itu dapat meluas? Mengapa begitu banyak orang yang disebutkan, apalagi mereka memiliki posisi yang tidak bisa dianggap remeh seperti: pegawai negeri, aparat kepolisian, hingga anggota DPRD Lembata?

Keterlibatan itu diibarkan dengan benang tidak saja benang yang satu meliliti dirinya sendiri dan kemudian melingkar pada lainnya telah bermuara membentuk sebuah ‘benang kusut’.  Mengambil istilah Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sebuah perkara yang sulit diselesaikan.

Kisah itu kemudian menjadi sulit karena tidak semua tersangka punya keinginan untuk membuka fakta ini apa adanya. Kesaksian antar tersangka tidak saling melengkapi. Kehadiran orang di tempat kejadian dibaahsakan ‘muncul tiba-tiba’ seakan terjadi secara sengaja. Tetapi hal itu pun tidak bisa diterima begitu saja karena kalau pun itu secara ‘sengaja’, mengapa hal itu didiamkan?benang kusut2

Tidak hanya itu. Kisah yang tak logis itu, oleh kekuatan yang dimiliki yakni sebagai penguasa lalu dipaksakan. Orang Inggris mengartikan ‘tangle’ atau benang kusut sebagai   force into some kind of situation, condition, or course of action menggambarkan bahwa kisah sepihak itu kemudian disebarluaskan berkat pengaruh (bisa politik atau ekonomi) yang dimiliki. Lengkaplah sudah sebauh rangkaian benang kusut yang memang ‘by designed’, alias direncanakan dan menjadi sebuah kisa penuh benang kusut.

Bertolak pada pemahaman ini, maka kita perlu sepaham: kematian Lorens Wadu sebaga fakta ‘an sich’,  berasal dari masalah kekeluargaan. Tetapi hal itu tidak bisa dijadikan alasan tunggal.Pertikaian internal itu begitu meluas dalam lingkarang keluarga besar hingga tercium dan dijadikan sebagai sebuah sekenario besar.

Dalam cara pandang ini maka Vinsen Wadu sebagai ‘otak pembunuhan’, juga tidak bisa dibenarkan. Bisa saja perwujudan kisah tragis itu terjadi karena ia menghubungi Welan, Nani, dan Arifin. Tetapi kalau masalah kekeluargaan dianggap hal normal dalam kehidupan. Tetapi bila bersamanya juga terlibat orang-orang penting di Lembata, maka klaim sebagai ‘otak’ mestinya gugur dengan sendirinya.

Mengatakan seperti ini tidak berarti membenarkan tindakan sang adik. Ikut serta dalam sebuah skenario besar adalah sebuah dosa yang tidak bisa diampun. Membunuh saudara tiri, saudara kandung, dan ayah kandung, tidak bisa dibenarkan, apalagi dimaafkan.  Celaan seumur hidup dan aib itu akan sulit terhapus karena dianggap menjadi orang paling durhaka.

Tetapi ada hal yang lebih membuat kita menepuk dada. Masalah kekeluargaan itu ‘sukses’ dimanfaatkan oleh orang lain. Dalam benak mereka, ketika melibatkan orang dalam keluarga, maka yang menjadi kesimpulan hanyalah ‘perebutan harta’. Dengan itu pula siapa pun yang mengayam di baliknya akan terbebas.

Hal itu bisa benar tetapi untuk sementar. “The Perfect Crime” belum pernah terbukti sebagai sebuah kebenaran. Selalu ada celah yang akan terbuka perlahan untuk menumbangkan kesempurnaan aksi kriminal. Terkuaknya masalahnya kini membuktikan bahwa skenario itu harus diusut.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik di Asia Pasifik pada Universidad Complutense de Madrid, Spanyol.

Sumber: FloresBangkit 05 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s