14. Memutuskan “Terjun”

 

Memutuskan “Terjun”

(Dari Kisah Heroik Robin Hege dkk)

Kisah heroik di awal tahun 201 di pantai Mbrenang, Lembor, Manggai Barat, seperti ditulis Kornelius Rahalaka, (FloresBangkit 2/1) sangat inspiratif. Kisahnya, Robin Hege (dibantu Marsi dan Abdul Manan) seorang penjual asongan, memutuskan untuk menyelam di kedalaman 7–8 meter untuk ‘menyelamatkan’ dua siswa yang tenggelam: Teofilus Gatong (14) dan Frederikus Jasman (13).

 Mengapa kisah ini begitu menyentuh untuk direfleksikan? Apa makna simbolis dan pesan yang terkandung di dalamnya, terutama ketika banyak orang memutuskan untuk ‘terjun’ juga dalam bidang politik di April mendatang? Apakah sama?

Tanda Menyapa

Keputusan berani menyelam di air keruh, apalagi di tengah isu dan anggapan masyarakat tentang keberadaan buaya buas yang bisa saja telah memangsa kedua bocah. Keputusan menerjunkan diri ke dalam air keruh karenanya merupakan sebuah keputusan yang tentu saja tidak bisa dianggap ringan.sungaii

Namun kata hati dari pria asal desa Nangalili itu kuat dan utuh setelah melihat simbol berupa sandal jepit yang terapung di atasnya. Ia adalah simbol yang ‘memastikan’ keberadaan para korban di dalamnya, hal mana memang benar demikian. Di dasar sungai yang keruh, mereka akhirnya bisa mengeluarkan kedua bocah itu dari dalam. Meski sudah tak bernyawa, tetapi menghadirkan mereka ke keluarganya (dalam bentuk jasad), adalah sebuah pengorbanan patut diapresiasi.

Tindakan itu mengingatkan kita akan refleksi Emanuel Levinas. Filsuf asal Kaunas atau Kovno Lithuania dalam dua karya agungnya: Totalité et Infini , 1961 dan Autrement Qu être ou au-dellà de l’ Essence  1974, mengupas lengkap tentang bagaimana wajah (atau simbol tentang keberadaan sesuatu) orang lain menjadi sebuah dorongan untuk bertindak.

Di sini keberadaan ‘sendal jepit’ yang mengapung ‘diterjemahkan’ selain sebagai kepastian keberadaan mereka sekaligus dipahami sebagai seruan minta tolong. Hal itulah yang mendorong ketiga pendekar berani untuk terjun, bukan lagi untuk memperoleh sesuatu bagi dirinya (malah mempertaruhkan nyawa ketiganya), tetapi semata karena ia ingin membantu semaksimal mungkin untuk menyelamatkan mereka.

Ada hal yang lebih menyentuh lagi. Wajah ‘korban’ itu meminta sebuah tindakan etis sesegera mungkin hal mana mendorong mereka segera ‘terjun’ ke dasar sungai. Hal itulah yang oleh Levinas dipahami sebagai epifani wajah yang dianggapnya sebagai sebuah kejadian etis. Artinya, sebuah kejadian yang membuka kemanusiaan, yakni kemanusiaan yang mengandung di dalamnya undangan etis. Undangan yang meminta respons (jawaban) yang lebih jauh mendambakan sebuah ‘responsibility’ atau tanggungjawab.

Tindakan heroik itu sekaligus menyisahkan sebuah pembelajaran begitu mendalam. Yang dimaksudkan, wajah dan harapan orang lain tidak secara egoististis ditanggapi dengan memanipulasinya demi menguntungkan diri.

Hal ini memang kerap dilakukan. Tidak sedikit orang yang justru melakukan sebaliknya dengan mengambil ‘untung’ di balik penderitaan orang lain, hal mana tidak dilakukan oleh ketiga pria itu sekedar tampil ‘gagah-gagahan’. Mereka memaknai sesuatu yang lebih  jauh bahwa dalam hidup bersama, orang lain harus diperlakukan sebagai yang lain, bukan sebagai ‘alter ego’ dari diri kita.

Itu juga mengungkapkan bahwa tanggungjawab sosial perlu dilakukan karena manusia bukan sekedar ‘solitude of being’, keberadaan dalam kesendirian. Ia ada bersama orang lain darinya tanggungjawab menyelamatkan orang lain adalah sebuah tuntutan sebesar dan semulia menjaga diri sendiri.

Memanipulasi Wajah

Apakah tindakan heroik itu bisa menjadi inspirasi dalam Tahun Politik kita? Apakah tatapan penuh dengan seruan untuk minta tolong juga menjiwai para politisi sehingga mendorong mereka untuk ‘terjun’ ke dalam bidang politik?

Inilah pertanyaan menggelitik yang juga barangkali menjadi titik kontradiktoris dengan tindakan kita. Berkaca pada Levinas, menjelang pileg seperti ini, mestinya wajah mereka yang miskin dan terpinggirkan begitu kuat menggugah. Ada banyak simbol (seperti ‘sendal jepit’ dalam kasus di atas) yang begitu menyentuh yang mengatakan bahwa penderitaan itu sungguh nyata dirasakan.

Sayangnya, epifani wajah penuh duka itu nyaris melahirkan tanggungjawab untuk keluar demi menyelamatkan mereka tetapi malah ia dimanipulasi untuk kepentingan diri. Memang sekilas hal itu bisa dianggap sebagai sebuah tanggungjawab. Menjelang Natal dan Tahun Baru, tidak sedikit politisi yang begitu ‘dermawan’ mengunjungi konstituennya dengan membawa ‘bingkisan’ Natal.sungai

Sepintas dianggap sebagai ‘sekedar’ kado Natal. Ia adalah ekspresi ‘keberpihakan’ dari sang caleg terhadap realitas derita masyarakat. Untuk hal ini bisa saja dianggap ikhlas. Tetapi dalam kenyataannya, bantuan itu tidak ditempatkan dalam upaya memperlakukan orang lain sebagai yang lain, yang tumbuh dengan kebutuhan dan keputusan diri, melainkan sekedar ‘bingkisan’ yang bernuansa ‘alter ego’. Artinya diberikan supaya kelak di saat ‘pencoblosan’, mereka tidak lupa pada ‘si pemberinya’. Prinsip ‘do ut des’ (saya memberi supaya kamu memberi) merupakan perilaku yang merendahkan martabat kita.

Yang lebih disayangkan, bantuan yang begitu ‘dermawan’ diserahkan ternyata bukan berasal dari kekayaan diri si pemberi tetapi merupakan ‘pinjaman’ yang pada saatnya harus dituntut balik. Ia memberi dari pinjaman yang membuatnya tidak bisa berbuat selain melakukan apa saja (terutama korupsi) untuk dapat mengembalikan pinjaman itu. Tak heran, dinamika politik sesudahnya akan diwarnai oleh upaya ‘balas jasa’ yang berarti melakukan cara tak elok. Imbas langsung pasti dirasakan oleh masyarakat karena  mereka sudah tidak berada lagi dalam agenda wakil rakyat.

Itu berarti keputusan untuk ‘terjun’ dalam bidang politik tidak dilatarbelakangi oleh semangat berkorban dan berjuang untuk menyejahterahkan masyarakat. Ia sama sekali jauh dari tindakan untuk mengorbankan diri (seperti Hege dkk) untuk menyelamatkan orang lain. Ia juga tidak menjadikan wajah penuh harapan sebagai peristiwa yang melahirkan tindakan etis di mana ia melakukan apa saja secara ikhlas demi rakyat.

Yang terjadi justru lain. Wajah duka masyarakat, ekspresi harapan untuk diperhatikan, dimanipulasi sedemikian untuk menguntungkan dirinya. Di sana, penderitaan masyarakat dijadikan proyek ‘miliaran’. Penderitaan masyarakat dijadikan alasan untuk meminta mendapatkan bantuan dari orang lain. Proyek “Bedah Rumah”, “Pendirian Rumah Sakit”, hal mana dilansirkan  mejelang “Sail Komodo” bisa saja contohnya. Derita rakyat diobral untuk mendapatkan perhatian dan bantuan dari ‘pusat’. Tetapi semuanya itu sekedar ‘proyek’ yang mengatasnamakan kemiskinan dan sekedar memenuhi ‘event’. Sesudahnya, sudah pasti: terbengkelai.

Kisah Hege dkk menjadi inspirasi di momen penuh menentukan seperti pileg April 2014. Sudah pasti, masih banyak pemimpin inspiratif yang tentu saja memutuskan ‘terjun’ di dunia politik karena ingin mentrasnformasikan wajah derita menjadi wajah penuh sukacita. Jumlahnya tentu tidak banyak, darinya waktu tersisa mesti dimanfaatkan untuk mengorbitkan mereka melalui media jejaring sosial agar lebih dikenal lagi. Mereka adalah pemimpin yang memutuskan ‘terjun’ ke dunia politik karena punya tekad luhur yang patut diberi tempat.

Pada sisi lain, ruang lingkup yang kian terbatas lewat daerah pemilihan, dengan mudah juga dapat memudahkan caleg yang ‘sekedar’ memanfaatkan derita untuk memperkaya diri. Mereka memang memutuskan untuk ‘terjun’ ke dalam politik tentu untuk dirinya sendiri, mendapatkan pekerjaan di tengah daerah yang minim lapangan pekerjaan. Mereka tidak sulit ditemukan. Cirinya: mudah mengumbar senyum (sebagaimana terpampang di stiker dan baliho), tetapi  hanya sebagai ‘trick’ untuk mendapat simpati. Kepada mereka mestinya tidak kita beri satu suara pun. Hanya dengan demikian, pesta demokrasi April 2014 menjadi momen berharga mendapatkan pemimpin berkualitas.

Robert Bala. Alumnus Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian, Fakultas Ilmu Politik Universidad Complutense de Madrid, Spanyol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s