(9) “Menenun” Lembata

‘Menenun’ Kembali Lembata

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Menelusuri permasalahan  yang telah berkembang menjadi benang kusut yang menyulitkan karena melibatkan lingkup dekat keluarga dan menjadi kian runyam oleh keterlibatan aparat malah anggota DPRD, maka seakan menjadi lengkap sebuah sekanario. Seakan tidak tersisa lagi tempat bersandar.

Lebih lagi keterlibatan OW yang adalah sopir pribadi Bupati membuat isu itu begitu jauh melebar. Bukan berlebihan kalau kasus Lorens Wadu bisa meluas dengan kian disebutkan banyak orang yang terlibat yang bermuara pada stagnasi dalam pembangunan (Flores Bangkit, 2/12) oleh minimnya rasa percaya kepada pejabat mengingat yang disebutkan (hingga tersangka) adalah orang-orang ‘penting’ di Lembata.menenun lem

Orang Lembata sangat mahir dalam menenenun. Terhadap ‘benang kusut’, memereka sanggup mengurainya malah dapat menenunnya menjadi sebuah pembelajaran bermakna…

Pertanyaannya: apakah suasana curiga itu masih terus dibiarkan bergulir liar? Ataukah dibutuhkan kesediaan untuk mengurai perlahan benang kusut dan secara sabar menemukan akar lalu menenunnya kembali dalam kisah yang lebih konstruktif sebagai pembelajaran?

Butuh Kesabaran

Ibarat‘benang kusut’, maka tindakan gegabah dan terburu-buru ingin ‘secepatnya’ menyelesaikan kasus Lorens Wadu mestinya dijauhkan. Memang ada rasa penasaran untuk mengetahui ‘ending’ dari peristiwa ini. Tetapi itu tidak berarti memaksakan untuk segera dilibatkannya tidak sedikit orang dalam skenario yang bisa saja ‘dikira’ benar padahal ia sebatas sentimen individual.

Bila terjadi, maka kekusutan yang hendak diurai itu ternyata masuk dalam aura negatif yang tentu tidak kontributif dalam menyelesaikan masalah. Pada sisi lain, sikap gegabah bisa akan jauh pada keputusan yang tidak sampai mengusut tuntas karena ia berhenti pada asumsi belaka. Kalau itu terjadi maka peristiwa ini akan menjadi preseden buruk untuk kasus sesudahnya.

Peristiwa kematian Langoday dan kini Wadu bisa dijadikan pembelajaran bahwa baik kasus pertama maupun kedua kini tidak pernah terselesaiakan dengan baik dan melahirkan penyesalan serta tekad untuk memperbaiki diri di masa depan. Akar masalah yang mestinya digali tidak ditangani secara serius.

Tidak hanya itu. Kisah tragis ini juga sering dijadikan komoditi politik oleh orang yang berusaha mengail di air keruh. Mereka hadir sebagai ‘pembongkar’ kisah. Sering juga mengotaki untuk menyebutkan orang ini dan itu yang bila diteliti bisa saja menjadi saingannya dalam bidang tertentu. Tipe seperti itu pun perlu diwaspadai. Serigala berbulu domba tidak sedikit yang berkeliaran mencari mangsa buat kuat di pileg.

Pada sisi lain, butuh teknik psikologis untuk mendekati para pelaku yang karena tekanan tertentu berusaha menutup rapat masalah itu. Membiarkan mereka mengungkapkan diri tanpa tekanan untuk membangun pertobatan dan perbaikan diri dan membayangkan bahwa risiko terlalu berat kalau di atas kasus kriminal itu tidak ada keterbukaan untuk menerimakan ampun, bisa membantu mereka untuk secara ‘gentleman’ mengakuinya dan berjanji serta mengaharapkan agar hal itu tidak bisa terulang lagi.

Dalam perspektif ini maka kesabaran dalam mengurai benang kusut ini sangat penting. Dengan sabar, kita mengurai kasus ini dan secara bersama menghindarkan usaha ‘black campain’ yang merugikan karena kita semua tahu hal itu membuat aura negatif untuk Lembata sendiri. Kita akan ‘saling memakan’ yang akhirnya semuanya yang rugi.

Ditenun Kembali

 

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah tragis ini? Apa yang bisa kita buat agar kisah itu tidak terulang lagi? Hal yang paling bisa adalah mengartikannya sebagai sebuah proses untuk menenun kembali benang yang sudah terurai itu menjadi sebuah karya kreatif, hala mana juga sejalan dengan keterampilan orang Lembata yang hingga kini juga menjadi satu kebanggaan.

Secara hurufiah, menenun yang diartikan sebagai proses pembuatan barang-barang tenun (kain) dilakukan dengan mengadakan persilangan dua set benang dengan cara memasuk-masukan benang pakan secara melintang pada benang-bengan lungsin (benang lusi). Proses telah berkembang menajdi keunggulan lokal. Kepiawaian wanita Lembata mulai dari memintal benang hingga menghasilkan karya tenunan berharga puluhan juta rupiah, menyadarkan bahwa orang Lembata sendiri bisa belajar menenun kembali masa depannya.

Dalam konteks kasus Lorens Wadu, menenun Lembata diartikan sebagai penguatan kembali soliditas dan keakraban relasi persaudaraan dan kekeluargaan. Ia adalah warisan leluhur yang harus menjadi pijakan dan tidak bisa digantikan oleh apa pun. Ia juga dibangun di atas kesadaran bahwa nilai itu tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun karena menjadi pijakan kita yang terakhir dan terkuat.

Kenyataannya, perkembangan Lewoleba dari ‘sekedar’ sebuah kelurahan menjadi Ibu Kota Kabupaten telah menghasilkan benang kusut atau paling kurang benang yang disusun tanpa aturan yang jelas melalui sebuah rencana yang sangat matang dan strategis. Otonomi Lembata yang tentu saja sangat mulia tetapi dalam tangan pejabat egoistik telah dijadikan lahan bukannya untuk mengarang cerita sukses melainkan kisah penuh kelihaian dan jebatakan.

Fakta lain membuktikan, Lewoleba dalam arti tertentu telah berkembang ‘liar’, nyaris terkontrol. Kian maraknya tempat seperti bar, meluasnya HIV/AIDS, dan minimnya moralitas, hingga kasus seperti yang terjadi dengan Lorens Wadu, mengingatkan masyarakat Lembata untuk kembali lagi pada nilai-nilai tersebut.

Dalam konteks ini perlu disadari bahwa perubahan sosiologis (dari desa ke kota) telah juga berimbas pada tata ruang geografis. Jelasnya, tanah yang dulunya dianggap sebagai ‘milik suku’, dan dibagi secara gratis, telah berubah maknanya ketika geliat pembangunan yang begitu besar menaikkan secara sangat signifikan harga tanah. Darinya, seseorang bisa menjadi jutawan hanya karena menjual tanah (tumpah darah) hal mana bisa memunculkan rasa dengki antara anggota keluarga yang bisa berakhir tragis.

Tragedi ini mengingatkan bahwa tanah, adalah bagian hakiki dari kehidupan. Bumi (ama tanah ekan) dianggap ‘pasangan’ ina lera wulan (bulan) membentuk esensi lengkap dari Tuhan. Dalam arti ini, tanah tidak bisa sekedar diperjualbelikan demi memperkaya diri mengingat tanah adalah ‘tumpah darah’. Kalau pun dijual, ia perlu dilaksanakan dalam kebersamaan. Untuk itu rasa cinta pada tanah dan peningkatan relasi persaudaraan perlu dihidupkan dan dikuatkan kembali di Lembata.

Ada hal yang lebih penting. Benang Kusut di Lembata harus diurai berawal dari pejabat pemerintah oleh kesadaran bahwa selama beberapa periode pemerintahan, keteladanan yang diharapkan lahir dari para pejabat itu nyaris ada. Keterlibatan puteri mantan bupati Ande Duli Manuk (Erny Manuk), dan bergulirnya kasus ini dengan tersebutnya beberapa nama termasuk Bupati mengindikasikan bahwa tingkah laku elit masih jauh dari harapan.menenun l

Di sana cepat terbaca bahwa bagi mereka, Lembata bukan lagi tempat pengabdian. Juga posisi pemerintahan yang diperolah bukan lagi dijadikan ajang pengabdian dan pelayanan (seperti yang disampaikan pada saat kampanye), tetapi sebagai tempat untuk menyukseskan kepentingan diri.

Kesadaran ini harus menjadi kian kuat terutama menjelang pileg pada April mendatang. Kasus Lorens Wadu mengingatkan bahwa kasus ini bisa dijadikan ‘modal’ awal bagi tidak sedikit kandidat yang menganggap diri pahlawan. Bagi mereka kasus ini sungguh sebuah ‘peluang emas’. Sayangnya cara yang digunakan tak elok karena hanya memperluas dengki dan beni bagi yang lain dan coba mengemis cinta dari orang lain kepada mereka agar terpilih.

Pada sisi lain, kisah ini yang terjadi sebelum pileg hadir pada momen yang tepat karena dengan mudah terdeteksi siapa yang menjual diri dan kehormatan hanya demi uang. Kalau kesadaran ini bisa hadir dan kuat berpengaruh maka tragedi Lorens Wadu akan menjadi bak sebuah pembealajaran berharga. Darinya kita diajak untuk bersatu hati mengurai benang kusut dan terutama menenun sebuah kebersamaan baru dalamnya hubungan kekeluargaan antarsaudara menjadi kian kuat dan ditopang oleh teladan nan menggugah dari para pemimpin Lembata.

Inilah momen yang tepat menenun Lembata ke arah yang lebih baik. Semoga.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik pada Universidad Complutense de Madrid. Pengamat Sosial.

Sumber: FloresBangkit 06 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s